“Syahdan, TeDhut, Dennis dan Wow-Wow”


“Syahdan, TeDhut, Dennis dan Wow-Wow”
By: Naomi

Dennis tertawa terpingkal-pingkal sembari memegangi perutnya. Mukanya terlihat memerah bak kepiting rebus hanya karena mendengar cerita Adhut tentang celotehan Syahdan semalam dengannya  pada pagi hari ini. 


“Huahahahaha… Stop—stop—stop…! Perut gue sakit tau!” Ujar Dennis terkekeh-kekeh. Dia sampai terbungkuk-bungkuk begitu hanya untuk memegangi perutnya yang terasa hampir kram karna tertawa.

“Eh, gila banget nggak sih tuh anak, gue dikerjain tau ama dia. Gue pikir tadinya apaan gitu, lho! Eh, tau-taunya…” Cerita Adhut keki.

“Emangnya gimana sih awalnya? Kok anak itu bisa bicara seperti itu?” Tanya Dennis lagi masih dengan ekspresi wajah yang geli.

“Begini neh, ceritanya…” dan mulai-lah si Adhut menjual obat. Alkisah perbincangan malam seorang Syahdan Alam dengan TeDhutnya…

**********************************

“Selamat malam, TeDhut…” Sapa Syahdan pada Adhut malam itu.
“Selamat malam juga, Syahdan.” Jawab Adhut berwibawa.
“Syahdan mau bobok dulu ya, TeDhut. Selamat tidur...”
“Iya Syahdan, selamat tidur juga.”
“Mmuach…!” Syahdan memonyongkan bibirnya seakan-akan memberikan kecupan selamat malam pada Tante Adhutnya.
“Muach juga buat Syahdan. Nah sekarang Syahdan tidur, ya…”
“Iya, TeDhut.” Syahdan pun mulai diam. Hening terasa menyelimuti malam itu, akan tetapi handphone yang berada dalam genggaman Syahdan tak kunjung jua dimatikannya.
“Ummm… TeDhut…” Suara imut Syahdan kembali memecah keheningan.
“Iya Syahdan, kenapa? Katanya mau tidur, kok belum tidur-tidur juga?”
“TeDhut punya anjing, nggak” Syahdan kembali menyecar Adhut dengan pertanyaan-pertanyaan kecilnya.
“Dulu punya, tetapi sekarang udah nggak ada.”
“Kok nggak ada?” Tanyanya lagi polos.
“Iya, anjingnya TeDhut sudah mati.”
“Mati…???” Syahdan mengerutkan keningnya.
“Iya Syahdan, anjingnya TeDhut udah meninggal.” Jelas Adhut.
“Ooo… Meninggal ya, TeDhut? Dimana meninggalnya?”
“Dulu dirumah TeDhut.” Adhut berusaha menerangkan dengan sederhana. Namanya juga pertanyaan anak-anak, pikirnya.
“Dimana rumahnya, TeDhut?” Pertanyaan Syahdan seakan tak ada habis-habisnya.
“Di Jakarta.”
“Ooo… Di Jakarta, ya? Boleh Syahdan lihat?”
“Udah nggak bisa dilihat, cuma ada tulang-belulang aja ntar.”
“Ooo… Tuwang-bewuwang ya, TeDhut? Baiklah… Siapa ya nama anjingnya TeDhut?”
“Nama anjingnya TeDhut dulu Bruno.” Adhut menggaruk-garuk kepalanya yang sama sekali tak gatal.
“Bwuno, ya?”
“Iya.”
“Ngggh… TeDhut, anjing sama ‘wow-wow’ [1] berantem nggak, ya?” 

Beught! Apalagi itu pertanyaannya? Anjing dan ’wow-wow’ itu apaan, ya? Kalau anjing terang aja aku tau, tapi kalau ‘wow-wow’? Jenis apaan ya itu? Makanan, kah? Batin Adhut.

“Dan, ‘wow-wow’ itu apaan, sih?” Tanya Adhut kebingungan. Ia terlihat berpikir keras dan mencoba mengingat-ingat sesuatu, apakah benar ada yang dinamakan ‘wow-wow’?

’Wow-wow’ TeDhut, ’wow-wow’…” Syahdan menjawab dengan tanpa ekspresi, ia terlihat sangat tenang.

“Itu bahasa apaan sih, Dan? Bingung Tedhut jadinya…” Jidat Adhut jadi berkerut-kerut. Mungkin kalau dihitung, ada kali lebih dari 17 kerutan. Hahahahaha….

“Hmmhh… TeDhut… Itu loh, ‘wow-wow’ ituuuu…………”

**********************************

“HUAHAHAHAHAHAHA…” Dennis kembali tertawa terpingkal-pingkal selebar-lebar mulutnya. Ia sampai diperhatikan oleh orang-orang yang tengah berlalu-lalang didepan ruko sanggar tempat mereka bekerja sebagai pelatih Dancer. Salah seorang perempuan yang jualan depan ruko —yang menurut Dennis aduhai ‘cantik’— yang sering jadi korban keisengannya Dennis menyilangkan miring sebelah jari telunjuk dikeningnya melihat tingkah Dennis yang tertawa na’udzubillah besarnya. Terdengar hingga kejauhan radius 2 KM dari pusat terjadinya! *Lebay nggak, siiihh…??? Wakakakaka…

“Hai, Sayaaaang… Cantik sekali pagi ini…” Dennis masih saja sempat menggoda dirinya. Perempuan itupun hanya menjulurkan lidahnya menyambut godaan Dennis. Dasar sinting, Dennis hanya kembali terbahak menanggapinya.

“Eh Dhut, jadi… Jadi ‘wow-wow’ itu sejenis apaan, sih?” Dennis kembali ke-kesadarannya.

“Binatang apa sih itu? Jangan-jangan sejenis anjing Chihuahua. Aaa… Kucing kali, Dhut! Kucing…!” Dennis mencoba berspekulasi.

“Nah… gini nih, Den… Mari gue jelaskan! Menurut penelitiannya Syahdan, ternyata nih, ‘wow-wow’ itu adalah… yaaa, anjing!” Jelas Adhut sambil mematut-matut ujung sepatunya.

“HAH…?!? ANJING…??? HUAHAHAHAHAHA… Lo salah kali, Dhut… kucing kali maksudnya.” Meledaklah tawa Dennis. ‘Wow-wow’ sama dengan anjing? Nggak salah tuh anak? Dapat bahasa dari mana, tuh?

“Iya Den, anjing… Jadi gini, dia kan tanya  bilang; TeDhut… Anjing sama ‘wow-wow’ berantem nggak, sih?

“Huahahahaha… trus-trus?” Kejar Dennis penasaran masih sambil tertawa.

“Ya gue kan bingung ditanyain seperti itu, ya udah gue tanyain balik. Dan,wow-wow’ itu apaan, sih? Dan mau tau nggak elo jawabannya apa?”

“Apaan coba?”

“Dengan entengnya tuh anak bilang gini, nih; TeDhut, Itu loh, ‘wow-wow’ itu sama dengan anjing, TeDhuuut… Ya ampun Den, rasanya nih, mo gue emeg-emeg [2] tuh anak saking gemesnya gue. Adaaaa aja jawabannya. Gue tuh ye, sampai ngakak gitu! Sampe gue bangun pagi masih aja jadi ketawa lagi gara-gara keingetan yang semalam.

“Hahahahaha… Lucu banget tuh anak! Lagian kok bisa-bisanya nemuin bahasa yang seperti itu, ya? Gue pikir cuma elo doang yang bahasanya aneh, Dhut. Ternyata, elo juga sebelas-dua belas juga yak ma dia. Hahahahaha…”

“Hahahahaha… Tau deh, puyeng gue. Gue aja sampe sakit nih perut, nahan ngakak. Ngompol-ngompol deh gue jadinya gara-gara tuh anak.” Adhut jadi ikut terbahak, tapi tak lupa tangannya ngejambak rambutnya Dennis sampai tuh orang meringis kesakitan.

“Aduh-duh! Tega lo, Dhut. Sakit nih gue…!” Ucapnya sambil meringis. “Cuma gue nggak habis pikir aja tuh anak nemuin kosakata yang begitu. Kenapa sih dia bisa bilang anjing samaan dengan ‘wow-wow’? Dapat ide dari mana sih anak itu? Ada-ada aja. Setau gue nih, bahasa anak-anak tentang anjing itu kan ‘guk-guk’, Dhut?” Tanyanya lagi masih dengan nada yang penasaran.

“Iye, sih… Setau gue juga gitu. Tapi pas gue tanyain ama nyokapnya, nyokapnya bilang ‘wow-wow’ itu berasal dari suara anjing yang menyalak dan menggeram, Den. Kayak gini nih, ‘arrghh—arrghh—argghhh’, gitu.” Adhut berusaha mempraktekkannya dengan memonyong-monyongkan mulut. Dennis jadi makin tersenyum simpul liat kelakuannya Adhut.

“Karna namanya juga anak-anak dan masih cadel, jadinya aja ‘wow-wow’. Hahahaha… itu bocah mah, adaaa aja kelakuannya. Gue makin hari makin puyeng gue liat isengnya dia.” Terang Adhut lagi sambil tertawa. Meskipun dibikin puyeng, gue rela. Karena pada dasarnya anak itu cerdas, pintar dan lucu. Udah terlanjur sayang gue ama dia. Cuma gue nggak nahan dengan gokilnya aja, batin Adhut lagi.

**********************************

“Nah, TeDhut… Udah tau kan, kalo ‘wow-wow’ itu adalah anjing?” Jelas Syahdan dengan lugunya.

“Jangan lupa lagi ya, TeDhut… Syahdan sudah syusah-syusah menerangkannya sama TeDhut.” Lanjutnya lagi.

“Iya deh, bos Syahdan…” Balas Adhut gregetan.

“Ummm… TeDhut-TeDhut, TeDhut tau nggak nomor hape-nya Syahdan?” Lanjutnya lagi. Adhut mengernyitkan keningnya, ia bingung karna tak begitu jelas mendengar suaranya Syahdan.

“Apa, Syahdan?” Tanyanya lagi.

“Nomor hapenya Syahdan, TeDhut. Hape-hape… Masa TeDhut nggak tau hape? Henfon[3] gitu loh, TeDhut…”

Gokiiiiilll…!!! Pikirnya Adhut. Dia pikir gue nggak tau hape, apah! Dasar ya tuh anak, bikin gue jadi makin kangen aja ama tuh anak.

“Iye-iye… TeDhut tau… Kenapa hape?” Adhut hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat gokilnya Syahdan.

“Tau nggak TeDhut nomor henfonnya, Syahdan?”

“Iye, TeDhut nggak tau…” Jawab Adhut bete.

“Catat ya, TeDhut. 08—“

“Ho-oh… Trus…?”

“46—“

“Iya…”

“4567899124” Syahdan terus saja mencerocos dengan menyebutkan semua angka yang pernah terlintas dikepalanya. Dengan penuh perhatian Adhut mendengarkannya dengan seksama. Dan tiba-tiba saja alis matanya Adhut bertaut,

“Dan, ini nomor apaan sih…? Kok aneh gitu no nya?”

“Hihihihihihihihihi……”

“Eh, Syahdan…! Syahdan! Syahdaaaannn…!!! Halo…? Hallooo…? Hallooo!!! Daaaaannn……..!!!!

Tut—tut—tut—tut—tut—tut—tut…

**********************************

THE END



[1] Wow-wow : Anjing *Bahasanya anak-anak karna suara anjing yang terdengar “Arrgghhh-Arrgghh…”
[2] Emeg-Emeg : Nggak tau, ah! Itukan bahasanya Adhut, tanya aja ama Adhutnya langsung artinya apaan. Hahahaha…
[3] Henfon : Hape, hehehehe…



Tidak ada komentar:

Posting Komentar