“The Fairies’ Tale In The Dark Town”
(Part. 1)
By: Naomi
Pigeons’ Tale
“Blossom’s Heart”
“Bin, maukah kamu menjadi penggantinya dihatiku…???” Pinta Nayla terisak-isak sembari menahan tangis melalui sambungan telepon disore hari itu. Hening, sepi, tak ada jawaban yang terdengar dari seberang sana.
“Bintang, are you there….? Gimme your answer!” Sambungnya lagi.
“Hah…?!?” Bintang terdengar bingung.
“Did you hear me, Bin?”
“Iya, Nay. Aku dengar…”
“Bersediakah kamu Bin, menjadi seseorang yang bisa mengobati luka dihatiku?”
“Iya.”
“Hhh… Iya bagaimana, Bin… Tolong berikan aku jawaban yang jelas…” Suara Nayla terdengar melemah…
“Iya, aku bersedia…” Ujar Bintang tenang namun terdengar pasti, wajahnya terlihat sumringah dan penuh kebahagiaan. Ahh… andai saja Nayla bisa melihatnya sekarang, andai saja Nayla berada didekatnya, akan dipeluknya erat wanita yang sedari dulu sangat didamba dan menjadi hiasan mimpi-mimpinya, Akhirnya, bidadari pujaan hatinya memilih dirinya, setelah sekian lama ia menunggunya dengan sabar. Tak sia-sia pengorbanannya, batinnya.
“Benarkah, Bintang…???” Suara Nayla terdengar riang, ada rasa tak percaya dinadanya. Bintang tersenyum dan mengangguk, tapi mana mungkin Nay bisa melihatnya. Bintang cengar-cengir.
“Benar, Sayang... Aku akan mencoba membahagiakanmu, mengobati luka hatimu, dan aku akan selalu ada untukmu. Aku janji!” Ucap Bintang pasti.
“Ahh… Terimakasih, Bin…”
***********************************
Sore yang cerah di lapangan basket,
Dunia terasa begitu indah. Bintang merasakan dirinya melayang. Ringan, seringan kapas. Ia merasa seperti berada dinegeri dongeng yang penuh warna-warni. Mungkinkah ia bermimpi? Ia merasa bisa terbang, melakukan slam dunk-nya yang terbaik! Berlari mengitari lapangan basket sembari mengepalkan tangan dan berteriak, “Yes…! Yes…!!! Yes!!!”
Hari ini Bintang memamerkan senyuman terbaiknya pada semua orang. Teman-temannya menjadi terheran-heran, ada apakah gerangan yang menimpa Bintang? Apa ia kerasukan? Teman-temannya masih saja menatapnya penuh tanda tanya dan alis mata yang bertaut bingung.
“Hey, Bin! Kamu baik-baik saja nggak, sih?” Tanya Big Ahmed memberanikan diri bertanya. Badannya yang tinggi besar tergopoh-gopoh mengejar Bintang, mencoba mensejajarkan langkahnya.
“Aku rasa aku bermimpi. Coba deh kalian tampar pipiku.” Bintang menyorongkan pipi kanannya. Tanpa tedeng aling-aling, Big Ahmed pun menampar pipinya. Jarinya yang besar-besar membekas merah dipipi Bintang.
“Aduh, Big! Sakit tau…!” Ujar Bintang meringis sambil mengusap-usap pipinya. Namun senyum bahagia mengambang dari bibirnya.
“Ternyata bukan mimpi! Dia menerimaku, dia menerimakuuuu….!!! Yiii-haaaaaw….!!!” Bintang berteriak dan berlari kencang. Ia merasa dunia berada dalam genggamannya, ia bahagia!
“Nayla…?!?!?” Sontak terdengar teriakan antusias yang terlontar dari teman-temannya. Harap-harap cemas pada jawaban Bintang, berpikir apakah dia mulai memasuki taraf kegilaannya?
“Yeaaaahhh… Finally guys, dia menerimaku!” Bintang meluap! Tak bisa menutupi perasaan hatinya yang hendak meluah keluar, ia terlalu bahagia sampai menjadi setengah gila. Teman-temannya bersorak gembira, ikut merasakan kebahagiaannya. Seperti memenangkan sebuah pertandingan, Bintang merasa menjadi seorang pemenang, ialah Sang Bintang!
“Ayo! Akan ku traktir kalian semua…”
***********************************
Jauh diseberang sana, terpisah oleh jarak ratusan mil dan lautan, Nayla tengah berbaring telentang menatap langit-langit kamar yang ber cat putih. Tangannya menggenggam handphone yang didekapkannya kedada. Jantungnya berdegup kencang, bergetar mengikuti ritme baru dalam kehidupan percintaannya.
“Semoga dia bisa menerimaku apa adanya, dengan segala kekuranganku. Semoga dia bisa menjadi sandaran hatiku, semoga dia bisa menyembuhkan dan mengobati luka hatiku. Semoga dia pilihan yang terbaik, untuk yang terakhir…” Nayla membatin dalam doa. Sesaat kemudian dia jatuh terlelap, lelah dengan luka dihati yang menganga, tersakiti oleh cinta. Seulas senyum manis mengambang disudut bibirnya, menandai akan adanya secercah pengharapan untuk satu asa; bahagia…
***********************************
Kehidupan percintaan baru Nayla dan Bintang benar-benar penuh warna. Rona bahagia selalu saja menghiasi wajah-wajah mereka. Terlihat Bintang benar-benar memuja dan mencintai Nayla sepenuh hatinya, ia akan melakukan apapun demi melihat secercah senyum yang terlukis dibibir indahnya Nayla. Senyuman Nayla adalah hadiah terindah bagi dirinya, matahari hidupnya.
Lambat-laun Nayla mulai bisa melupakan luka dihatinya. Ia terlihat bahagia, tertawa lepas dengan candaan-candaan yang kerap kali dilontarkan Bintang tiba-tiba. Bintang yang kocak membuat dirinya terasa jauh lebih muda, membuatnya tersadar akan satu hal; bahwa ia lupa bagaimana caranya tertawa. Dan kini, bahkan ia bisa tertawa lepas! Hatinya bergetar, terharu bahagia… Ia menatap Bintang dengan lembut, penuh makna. Dan berbisik;
“Aku mencintaimu…”
***********************************
14 February in the morning, masih beraromakan bantal dan yang lainnya…
“Bin, maukah kamu melamar dan menikahiku hari ini juga, Sayang…???” Pinta Nayla yang tengah berada dalam pelukan Bintang sembari mengelus-elus dada bidangnya Bintang.
“Benarkah, Sayang? Kamu serius mau dilamar dan menikah denganku?” Ucap Bintang terpana. Ia tak mengira Nayla akan bersungguh-sungguh dengan ucapannya itu.
“Nayla...” Desisnya lirih.
“Kamu kan tau keadaanku yang… Hhh, yang seperti ini… Apakah kamu masih mau menikah denganku? Aku tidak punya apa-apa yang bisa kubanggakan padamu, Nay…” Lanjutnya perih. Sudut hati Bintang menjerit pilu, ingin sekali ia membahagiakan orang yang sangat dia cintai dengan seluruh jiwa dan hatinya. Namun, dia bukanlah siapa-siapa dan tak punya apa-apa…
“Kamu salah, Bin… Justru kamu memiliki cinta, kebaikan, kesabaran, kepolosan, kesungguhan, dan ketulusan hati yang mungkin tak semua orang memilikinya, Sayang… Dan hatiku, hatiku t’lah memilih dirimu untuk menjadi pendamping hidupku, untuk selamanya…” Lembutnya jawaban Nayla menyejukkan hati Bintang yang tengah gundah. Pelukan hangat Nayla membuatnya merasa yakin bahwa wanita inilah yang selama ini dia idam-idamkan dan yang dia cari. Dia merasa nyaman berada disamping pujaan hatinya.
“Kamu yakin, Sayang?” Tanya Bintang meyakinkan dirinya, terlihat getar cinta saat tatapan dua pasang mata itu beradu.
“Iya Sayang, sepenuh hati aku yakin. Aku mencintaimu, dan aku membutuhkanmu…” Nayla melonggarkan pelukannya dan menatap mata Bintang dalam-dalam. Ada rasa haru dan bahagia yang terpancar dari si pemilik manik mata gelap dan tajam itu. Perlahan namun pasti Bintang mencium lembut penuh cinta kening Nayla, dengan mesra Nayla memeluk erat tubuh Bintang. Ada rasa hangat yang mengalir disudut mata Nayla, air mata bahagia….
Pelukan mereka makin lama terasa semakin erat. Ciuman lembut penuh cinta pun berubah menjadi ciuman panas penuh birahi. Bintang merasa gairahnya makin terbakar melihat dan mendengar lirihan dan rintihan Nayla yang terdengar mulai dibuai nafsu. Mata Nayla berubah menjadi sayu, terkadang membelalak terbalik menikmati setiap serangan ciuman demi ciuman yang dilancarkan Bintang. Tak se-inci pun dari tubuh Nayla yang terlewati. Bintang larut dalam hasrat yang tak tertahankan. Mereka saling bergumul, saling mencium, mengulum dan………
***********************************
Diluar tanah masih basah oleh embun pagi yang menetes. Wewangian rumput yang sehabis dipotong pun jelas masih bisa tercium oleh cucu-cucu Adam dan Hawa itu. Mereka tergeletak lunglai, saling berpelukan yang ditutupi oleh selimut putih. Tubuh mereka basah oleh keringat, seprei pun terlihat acak-acakkan. Aroma cinta menguar keudara, namun aura dan senyum kebahagiaan jelas terpancar dari rona wajah-wajah mereka.
Nayla menyandarkan kepalanya pada dada bidangnya Bintang, sementara Bintang membelai-belai mesra rambut Nayla.
“Aku akan beli cincin pernikahan kita hari ini, Sayang…” Ungkap Bintang membuka percakapan. Nayla hanya mengangguk, sejurus kemudian ia terlihat menguap. Matanya terasa berat karena lelah dan mengantuk dan ia pun jatuh tertidur dalam pelukan Bintang tanpa ia sadari. Bintang membiarkan bidadari hatinya tertidur dalam pelukannya tanpa menghentikan belaian lembutnya.
“Terimakasih, Sayang…. Terimakasih atas semua ini dan semua cinta yang telah kau berikan padaku… Aku mencintaimu… Aku berjanji akan melindungimu dari apapun juga dan membuatmu tertawa bahagia… Aku sungguh mencintaimu….
***********************************

Tidak ada komentar:
Posting Komentar