LETIH

By: Naomi


 
Remang tenggelamkan raga

Kala meregang gapai harap asa

Hempaskan lantak tak tersisa

Hingga luluh habis binasa


=======================

“GOTCHA!”




Dennis mengendap-ngendap macam detektif. Sesekali tubuhnya yang ramping menyelinap dibalik pohon flamboyan dan tiang bangunan. Asyik banget keliatannya. Sampai-sampai kalau disapa pun dia cuma bilang, “Sssttt…!” sambil meletakkan telunjuk dibibirnya.

Mungkin adegan ini rada-rada aneh buat kamu, demikian juga dengan penghuni kampus tekhnik waktu masih anyar-anyarnya makhluk ajaib yang satu ini. Rambut shaggy pendeknya selalu dibasahi pakai air, bukannya jelly. Jadi setiap pergantian mata kuliah, do’i selalu nyari kran air buat ngebasahi rambutnya. Fhiuh…!
 

“REGRET”


(Tragedy in School)



By: Naomi

Desember, 1996

“Hoy…! Lagi ngapain lo disini…!!!” Sebuah suara berat terdengar membentak Danu dari arah belakang yang membuat dia tersentak kaget. Dengan reflek Danu langsung menoleh kepalanya kearah pemilik suara berat tersebut. Masih dengan raut wajah yang penuh dengan rasa kaget, Danu menatap sosok orang yang telah membentaknya tersebut. Sosok laki-laki berwajah garang dengan tubuh gempal dan tinggi besar, terlihat tengah menimang-nimang sebuah balok kayu ditangannya. Dengan gaya sangarnya yang mengancam, laki-laki itu menatap tajam kearahnya.


A Little Secret Between Moon And Earth_Bag. 3


A LITTLE SECRET BETWEEN MOON AND EARTH-Bag. 3
 
By: Naomi
      
“Kamu...???” Kent melontarkan kata-kata dengan penuh tanya keheranan.
“Maaf aku telah mengganggumu lagi, telah memakai tempat tidur dan selimutmu demi mencari sebuah kehangatan. Aku kedinginan dan kelelahan.” Ucapnya polos sambil mengucek-ngucek matanya.


“Syahdan, TeDhut, Dennis dan Wow-Wow”


“Syahdan, TeDhut, Dennis dan Wow-Wow”
By: Naomi

Dennis tertawa terpingkal-pingkal sembari memegangi perutnya. Mukanya terlihat memerah bak kepiting rebus hanya karena mendengar cerita Adhut tentang celotehan Syahdan semalam dengannya  pada pagi hari ini. 

Close to Me


Close to Me


Little fleece of my flesh
that I wove in my womb,
little shivering fleece,
sleep close to me!

PERAHU KECIL


PERAHU KECIL

By: Naomi


Perahu kecil itu berlayar kembali
Tinggalkan pelabuhan tercinta,
……Sedih…….

”The Fairies’ Tale In The Dark Town” (Part. 2)

“TheFairies’ Tale In The Dark Town”
 (Part. 2)
By: Naomi
Keavy
“Hate & Revenge”
Batavia City, seputaran Selatan kota….
Disebuah ruangan tertutup, terlihat seorang perempuan berusia sekitar 35-an keatas tengah berjalan mondar-mandir dengan gelisahnya. Sebatang rokok terselip diantara jemarinya, sesekali ia menatap tajam kearah telepon yang tergeletak diam diatas meja kerja. Ya, benar! Dia tengah menunggu telepon penting dari seseorang.   

PERIH


PERIH
 By: Naomi
Tersayat aku kala pandangi wajahmu

Hilang kata, kelu lidah dihadapmu

Terasa tajam ngilu, kaku aku terpaku

Kala teringat masa harus tinggalkanmu

MISTERI POHON JAMBU DIDEPAN RUMAH_Bag. 2


MISTERI POHON JAMBU DIDEPAN RUMAH
 By: Naomi


Kisah sebelumnya:





Aku ketakutan setengah mati ketika menyadari makhluk apa yang tengah menindih tubuhku! Sosok yang sangat menakutkan, dengan tubuh tinggi besar dan hitam legam. Perutnya buncit berlipat, disekeliling pinggangnya ditumbuhi rambut-rambut panjang lebat yang menyerupai jerami.  Rambutnya panjang, gimbal dan terjuntai kedepan. Matanya besar, merah manyala dengan pupil segaris menyerupai pupil mata kucing. Ia menyeringai dan tertawa lebar diatas tubuhku, menampakkan giginya yang besar-besar dengan taring-taring tajamnya yang mencuat keluar. Tawanya begitu besar dan menggema diseluruh ruangan.


(Bagian 2) 

 Lelah rasanya diriku ini menjerit-jerit histeris minta tolong, namun tak ada satupun orang yang bisa  mendengarku. Bahkan aku sendiripun juga tak bisa mendengar jeritanku! Akhirnya ku pasrahkan diri kepada yang Maha Kuasa. Terus saja kulantunkan do’a sambil berusaha melepaskan diri dari cengkraman dan tindihan tubuhnya. Entah yang keberapa kalinya ayat kursi dan Al-Fatihah itu kubaca, ketika tiba-tiba saja tubuh ini mempunyai satu kekuatan yang sangat dahsyat hingga bisa membuat makhluk seram itu terpental menyingkir.  Jin kafir ─begitu nama makhluk itu kunamakan─ itu langsung terlontar dan tiba-tiba saja menghilang. Aku langsung merasa terhempas dan duduk tegak ditepian tempat tidur. Sekujur tubuhku bersimbahkan keringat dingin. Tak urung aku mengucapkan lafadz syukur berkali-kali terhadap Allah, ternyata Dia masih sayang kepadaku.

MISTERI POHON JAMBU DIDEPAN RUMAH_Bag. 1


MISTERI POHON JAMBU DIDEPAN RUMAH


By: Naomi


      “Ibu… aku mohon, untuk kali ini izinkanlah aku tidur bersama Ibu… Aku takut, Bu…” Pintaku memelas sambil berdiri didepan pintu kamar orang tuaku. Ibu hanya tersenyum simpul menatapku.

            “Masya Allah, Nao—Nao… Kamu takut apa sih, nak…?” Jawab ibu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

            “Ayolah, Bu… Untuk kali iniii… aja!” Aku bergidik ngeri menoleh kearah pintu kamarku yang terletak tak begitu jauh dari kamar orang tuaku.

            “Kamu itu sudah besar, sudah 17 tahun. Apa kamu nggak malu? Kalau kamu takut, ambil wudhu’ dulu sana sebelum tidur. Sudah, ibu mau istirahat dulu. Ibu lelah setelah seharian bekerja.” Ibu berbalik masuk dan menutup pintu kamarnya dengan perlahan. Tinggallah aku sendiri, melongo dengan raut wajah pucat pasi. Dengan perasaan campur aduk dan ketakutan, aku kuatkan hati dan melangkah pelan perlahan menuju kamarku. Tanganku bergetar ketika jemari menyentuh gagang pintu yang dingin itu dan memutarnya


“FROZEN”


“FROZEN”
By: Naomi

Hatiku t’lah beku,
 Membatu…
Tak lagi bisa kurasakan getar-getar itu,
 Yang mampu mengguncangkan kalbu,
Yang sanggup buatku menangis pilu karna rindu,
Kuhanya bisa terpaku,
Dan tersenyum kelu…


ARRRGGHHHH....!!!!!!!!


By: Naomi

Kau boleh menyakitiku, menyiksaku…
Bahkan membunuhku…!
Namun, jangan sekali-kali kau menyentuh buah hatiku!
Tak tahukah kau….???
Kubesarkan ia dengan air mata darah!
Enyahlah!


“The Fairies’ Tale In The Dark Town” (Part. 1)


“The Fairies’ Tale In The Dark Town”
 (Part. 1)

 
By: Naomi

Pigeons’ Tale
            

            “Blossom’s Heart”


           
          
“Bin, maukah kamu menjadi penggantinya dihatiku…???” Pinta Nayla terisak-isak sembari menahan tangis melalui sambungan telepon disore hari itu. Hening, sepi, tak ada jawaban yang terdengar dari seberang sana.


“Bintang, are you there….? Gimme your answer!” Sambungnya lagi.


“Hah…?!?” Bintang terdengar bingung.

DARREL KECIL_Bag. 1


DARREL

By: Naomi

Prologue:

Bayi kecil itu tergeletak tak berdaya dalam sebuah kardus kecil disebuah halte. Udara dingin yang menusuk tulang membuat tubuhnya kaku dan pipinya membeku berwarna kemerahan. Tubuh mungil nan malang itu hanya berbungkuskan selimut hangat yang sudah lusuh dan sebuah topi lucu yang menempel dikepalanya. Disebelahnya terdapat sepucuk surat dan sebuah botol susu. Ia kelihatan bingung, namun sama sekali tak menangis. Tiba-tiba ia tersenyum sumringah ketika sebuah kepala melongok kepadanya dan mengulurkan sepasang tangan untuk menggendongnya. Tatapan matanya yang lucu dan polos membuat orang itu menjadi luruh hatinya.
“Ahh… kasihannya dirimu, Nak…”

*********************************

Tokyo, 2010

Disebuah gubuk reyot diantara pemukiman rumah kumuh yang terletak dipinggiran kota Tokyo itu, terdengarlah sebuah suara erangan kesakitan dari seorang perempuan yang tak bisa dibilang muda lagi. Perempuan itu tengah berjuang diantara hidup dan mati, keringat mengucur deras didahinya dan nafasnya pun tersengal-sengal. Ia terlihat sangat lelah. Dengan dibantu oleh salah seorang tetangganya, ia hendak melahirkan bayi kelimanya.

ANNA


“ANNA”
By: Naomi

Aneh! Itulah kesan pertama yang kutangkap ketika menjejakkan kaki untuk yang pertama kalinya dirumah itu. Rumah yang di cat berwarna putih itu kelihatan sepi, seperti tak pernah ditempati. Itulah rumah Sofie, teman sekampusku.

“Jadi lo tinggal disini, Fie?” Celetukku memecahkan kesunyian. Kuedarkan pandangan mata mengitari rumah tersebut. Ada bangunan bertingkat dua disebelahnya, namun masih dalam satu pekarangan rumah.

“Iya, Sha,” dengan susah payah Sofie menjejalkan anak kunci kedalam pintu tersebut.

            “Sendirian?” Tanyaku lagi.

            “Enggak, bareng kakak.” Klik! Terdengar bunyi pintu terbuka.

            “Mari Sha, ayo masuk.” Lanjutnya.

            Rumah itu tidak terlalu luas. Tapi menurutku cukup besar juga untuk ditempati oleh Sofie yang tinggal hanya berdua dengan kakak perempuannya. Tidak terlalu banyak perabot, hanya satu set sofa ruangan tamu beserta lemari pajangan yang dipenuhi keramik kecil-kecil. Ruangan tengahnya pun hanya dilengkapi dengan sederetan peralatan elektronik terbaru yang canggih, tanpa kursi, hanya dihiasi permadani biru yang lembut ditambah dengan bantal-bantal besar yang berbentuk persegi.

Namun ada satu pemandangan yang mengganjal mata. Ayunan santai itu, ayunan yang terletak bersebrangan dengan ruangan tengah rumahnya. Entah mengapa, perasaan aneh tadi mulai menggelayuti hati ini kembali. Tiba-tiba saja bulu romaku merinding dan perasaan dingin mulai menjalari tubuh.