"Syahdan & Anak-Anak Ayamnya"


“Syahdan & Anak-Anak Ayamnya”


By: Naomi

               “Syahdaaan… Kenapa anak-anak ayamnya jadi kuyup begini sih, Sayaaaang…?” Teriakku dari halaman rumah disuatu sore yang cerah, melihat dua ekor anak-anak ayam yang tengah meronggok kedinginan saling merapatkan badan mereka satu sama lainnya. Tubuh mereka terlihat basah kuyup.


               “Tcadan, Bundaaa… Tcadan siwam!” Balas Syahdan balik berteriak dari dalam rumah sambil lari terbirit-birit menghampiriku.

              “Duh, Sayaaang… Kenapa disiram, sih…? Kan kasihan ayamnya jadi kedinginan begitu…” Ujarku lembut sambil mengusap-usap kepalanya setibanya ia disebelahku. Syahdan ikut memperhatikan anak-anak ayamnya, nafasnya tersengal-sengal.

               “Ayam itu beyum mandi sowe, Bunda. Jadinya Tcadan mandiin, Tcadan siwam dia ake ayi…” Terangnya polos sambil menatap mataku dengan mata bulatnya yang berbinar lucu. Ahh… Syahdan kecilku, dia mewarisi bentuk mataku.

               “Tapi Sayang, kalau disiram seperti itu, anak-anak ayamnya bisa mati lho… Apa Syahdan nggak kasihan melihatnya?” Jelasku lagi.

               “Nggak Bunda, nggak mau… Tcadan nggak mau anak-anak ayamnya mati. Maafin Tcadan, Bunda… Heu-hu-hu-hu… Biwang sama Awwah Bunda, nayan ambiw ayamnya Tcadan…” Syahdan mulai menangis sedih. Ia tak mau kehilangan anak-anak ayamnya yang masih kecil, lucu, dan berwarna kuning. Ia sangat menyayangi peliharaannya itu.

               “Ya sudah… Nanti Bunda akan berdoa, Bunda akan bilang sama Allah kalau Syahdan sudah minta maaf. Tapi mulai sekarang Syahdan janji ya, untuk nggak nyiram dan nggak nakal-nakal lagi…”

              “Iya Bunda, Tcadan janji…” Ucapnya seraya memelukku.

              “Yuk, kita masukin lagi anak-anak ayamnya kedalam kandangnya. Trus kita kasih mereka lampu biar mereka hangat dan nggak kedinginan. Bantuin Bunda, ya…” Ajakku sambil sambil menggamit tangan Syahdan. Syahdan pun mulai tersenyum.

              “Kasih wampu biyaw nggak dinyin, Nda?”

              “Biyaw nggak gewap juga kan, Nda?” Tanyanya lagi.

              “Iya, Sayang… Biar mereka nggak kegelapan juga.” Sahutku tersenyum mendengar pertanyaan-pertanyaan Syahdan. Terlihat ia begitu asyik dengan anak-anak ayamnya.

              Syahdan, satu-satunya jagoan kecilku yang masih berusia balita. Dia anak yang kritis dan cerdas, tapi juga penuh kasih sayang dan sangat perhatian. Dia bintang dihatiku. Aku sangat menyayangi dan mencintainya. Teringatku dikala diri ini sedang menangis sedih. Tiba-tiba dia datang, tangan-tangan kecilnya mengusap lembut perlahan air mata yang tumpah dan mengalir dipipiku.

             “Bunda napa menangis sedih…? Sudah ya Nda, nayan menangis wagiTcadan pewuk Bunda.” Hiburnya sambil memelukku dan. Aku malah jadi menangis terharu, sekaligus tersenyum bahagia. Syahdan kecilku, dia jagoan pelindungku.

             “Bunda, udah… ayamnya udah Tcadan masukin kandang. Kasih wampunya Bunda, kasian kita kedinyinan dia.” Ujarnya sambil menarik-narik tanganku.

              Syahdan sangat antusias sekali mengurus dan merawat anak-anak ayamnya. Terkadang ia berubah menjadi seorang bocah yang paling cerewet dan bawel jika menyangkut peliharaannya. Tak jarang dia berteriak-teriak mengingatkanku atau mengabariku cerita tentang anak-anak ayamnya. Dan terkadang, “Bundaaaaa… ayi minumnya tumpaaahhh…”, atau, “Bundaaaaa… ayamnya hauuusss… cepat kasih minuuum…”, “Bundaaaa… Ayamnya pup di wantaiii, kasih pempeys Bunda…” dan banyak hal lainnya yang terkadang buatku jadi tertawa geli melihat ulah dan bawelnya dia.

              Masih teringat olehku ketika Syahdan merengek-rengek minta dibeliin anak-anak ayam kecil kuning ketika kami mampir melewati sebuah pasar. Anak-anak ayam yang kecil-kecil dan lucu-lucu itu sangat menarik perhatiannya. Kupikir, hal itu cuma keinginan sesaat darinya yang tak lama lagi akan menguap dan terlupa dengan sendirinya. Namun dugaanku salah, hampir selama dua minggu dia selalu saja berbiacara dan merengek-rengek minta dibeliin anak ayam.

              Alangkah girangnya dia ketika akhirnya aku membelikan dua ekor anak ayam untuknya. Dia sampai meloncat-loncat gembira dan berkali-kali mencium tanganku sambil mengucapkan terimakasih. Ia senang sekali! Aku jadi tertawa geli ketika dia mengajak anak-anak ayamnya bercengkrama dan bermain bersama. Tapi ada rasa sedikit kekhawatiran ketika Syahdan memegang-megang dan menggendong anak-anak ayam itu, aku takut dia terserang virus! Alhasil, aku selalu saja memandikannya tiap sebentar, untung saja dia tidak protes. Hihihihi…

              Tapi kali ini, Syahdan tengah menangis mencibir, terisak-isak dan berhiba hati. Aku jadi tak tega melihat wajahnya yang sedih sekali, seperti orang yang kehilangan sesuatu yang teramat sangat dicintainya. Syahdan, telah kehilangan salah satu anak ayamnya.

              “CUAPCUAPCUAPCUAP…!!!”

              “Syahdaaaannn…!!! Anak ayamnyaaaa…!!!” Teriakku kaget ketika mendengar pekikan anak ayamnya Syahdan yang mencuap-cuap. Sontak aku langsung berlari keluar rumah dan mendapati salah satu anak ayam tersebut tengah berada didalam mulut seekor kucing besar. Rasa marah dan rasa kasihan akan nasib si anak ayam mencuat kepermukaan. Kucing itu pun aku kejar berharap agar nasib seekor anak ayam itu masih bisa diselamatkan dan tidak berakhir didalam perut sang kucing!

              Dengan kesetanan aku berlari mengejar kucing sialan yang menerkam anak ayamnya Syahdan. Kukejar dia sampai kerumah tetangga yang berjarak tiga rumah dari rumahku, namun usahaku sia-sia! Kucing itupun melompat dan memanjat naik keatas loteng garase milik tetangga. Aku pun mendengus kesal, geram sekali. Rasanya kucing itu hendak kuterkam juga sebagaimana ia menerkam anak ayamnya Syahdan!

              Tanpa kusadari Syahdan juga tengah belari-lari kecil dibelakangku. Kaki-kaki kecilnya yang kurus terlihat berjinjit kesakitan, ia sama sekali tak mengenakan alas kaki.

              “Ayam Tcadan, Bunda… Ayam Tcadan…” Tcadan terisak-isak pilu sembari menghampiriku. Aku terenyuh sedih menatapnya, air mata juga mulai tergenang dipelupuk mata ikut larut merasakan kesedihan yang baru saja dialami Syahdan. Syahdan itu anakku, anak yang kulahirkan normal dari rahimku sendiri. Sedihnya Syahdan, sedihku juga.

              “Sabar ya Sayang, sabar…” Hiburku sambil memeluknya erat.

              “Kucing nakaw… Ayam Tcadan dimakannya, Bunda… heu…hu…hu…hu…” Duh, sungguh aku tak tahan melihat rona kesedihan yang terpancar dari raut wajah polosnya Syahdan.

              “Iya, Nak… Sabar ya, Sayang.. Nanti kalau kucingnya ketemu, akan Bunda marahin kucingnya…” Aku mencium kedua pipinya dan menatap lembut kedua matanya.

              “Biwang ama Awwah, Bunda… Biyaw Awwah yang mawahin kucing itu, ayam Tcadan diyiyitnya ama muwut kucing besaw itu…” Syahdan masih saja terus terisak dan menatap pilu pada loteng garase dimana terakhir kali kucing itu terlihat. Ia termangu.

              “Iya Nak, Bunda bilang sama Allah… Nanti kita beli lagi, ya… Sekarang kita pulang, yuk! Kasihan anak ayam kita yang satu lagi tinggal sendirian…” Bujukku. Perlahan Syahdan menggenggam erat tanganku, beriringan berjalan pulang, dengan jalannya yang masih saja jinjit.

              “Kok ayamnya nggak puwang kewumah kita, Bunda…?” Tanyanya sendu sambil jalan berjinjit. Sesekali Syahdan masih saja melihat kebelakang, berharap suatu keajaiban datang dan anak ayamnya muncul dengan tiba-tiba.

              “Sayang, ayamnya Syahdan sekarang udah berada di surga, didekatnya Allah. Dia senang sekali berada disana.”

              “Benawan, Bunda!” Sahutnya antusias dan sumringah disela-sela isak tangisnya.

              “Iya, benaran Sayang…”

              “Ooo… Awwah tu hebat tuh, Bunda! Nanti dimawahinnya kucing tu sama Awwah, napa dia yiyit ayamnya Tcadan. Nanti Awwah copotin yiyinya kucing itu, ompong dia! Nggak bisa dia yiyit-yiyit wagi. Ituwah, nakaw jugawah!” Syahdan kembali mulai berceloteh. Aku jadi tersenyum lagi. Mudah-mudahan saja perasaan hatinya cepat membaik.

              Sekarang, Syahdan hanya tinggal berdua dengan salah satu anak ayamnya yang masih tersisa. Dia semakin perhatian dengan anak ayam yang tinggal satu itu, dan ayam kecil itu semakin disayang olehnya. Tak mau lagi kehilangan untuk yang kedua kalinya. Syahdan selalu menunggui ayamnya ketika dilepas bermain dihalaman. Ayam itupun terlihat jinak dengannya, kemana dia pergi, ayam itupun mengikutinya. Ketika Syahdan duduk dilantai teras, anak ayam itupun ikut meronggok duduk dipahanya. Mereka terlihat saling menyayangi, dan… saling kesepian. Hatiku jadi terenyuh melihatnya.

              Syahdan dan ayam itu adalah pribadi-pribadi yang pernah kehilangan. Syahdan kehilangan sosok figur seorang ayah, sementara ayam itu pun juga kehilangan saudaranya. Perasaan kehilangan, menjadikan mereka merasa senasib. Harus saling menemani dan saling menguatkan. Terbentuk ikatan cinta yang saling mengasihi dan melindungi antara Syahdan dan anak ayamnya.

              Bunda janji, Bunda takkan pernah meninggalkan Syahdan sendirian. Bunda takkan buat Syahdan bersedih! Bunda akan jadi sahabat terbaikmu, Nak… Bunda akan menjadi Ibu dan Ayah yang baik buat Syahdan. Bunda akan menjaga dirimu. Bunda menyayangimu, Syahdan… Bunda menyayangimu dengan seluruh cinta yang ada. Bunda akan selalu berusaha menjadi yang terbaik untukmu. Cinta Bunda akan selalu ada untukmu, Sydahdan anakku tersayang… Tetaplah menjadi anak yang tegar! Jadilah yang terbaik, Bunda percaya akan kamu… Bunda akan selalu bersamamu, selamanya… 


              Bunda loves you, Oakley…

Selalu…







*Padang, Desember 2009


***********************************

Syahdan’s Vocabulary Words;
*   Tcadan                     : Syahdan
*   Siwam                      : Siram
*   Beyum                     : Belum
*   Sowe                        : Sore
*   Ake                          : Pakai
*   Ayi                           : Air
*   Biwang                    : Bilang
*   Awwah                    : Allah
*   Nayan                      : Jangan
*   Ambiw                     : Ambil
*   Wampu                    : Lampu
*   Biyaw                      : Biar
*   Gewap                     : Gelap
*   Pewuk                     : Peluk
*   Kedinyinan              : Kedinginan
*   Wantai                     : Lantai
*   Pempeys                  : Pempers
*   Nakaw                     : Nakal
*   Mawahin                 : Marahin
*   Diyiyit                     : Digigit
*   Muwut                     : Mulut
*   Besaw                      : Besar
*   Puwang                   : Pulang
*   Wumah                    : Rumah
*   Benawan                 : Benaran
*   Yiyi                          : Gigi
*   Wagi                        : Lagi
*   Ituwah                     : Itulah
*   Jugawah                  : Jugalah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar