CATATAN CELIA_Bag. 1


CATATAN CELIA
(Bag. I)

By: Naomi


(Danau U. I, April 09)

           
“Kamu yakin ingin tau yang sebenarnya, De…?”

            “Iya, A’… aku ingin tau apa yang sebenarnya terjadi…” Jawabku berusaha menunjukkan ketegaran dan mengatur nafas, padahal hatiku berkecamuk. Aku berharap ketakutanku tak menjadi kenyataan.

            Deco menatap tajam lurus kearah danau yang ada didepannya. Kedua tangannya ditangkupkan menopang dagu. Sementara aku yang tengah duduk disampingnya memandangnya dengan tatapan penuh kekhawatiran, harap-harap cemas penuh keingin-tahuan. Tiba-tiba saja rahang Deco mengeras, ekspresi wajahnya sangat sulit untuk kuartikan.


Deco, pria jangkung yang tampan itu tiba-tiba bergerak berdiri dan beranjak melangkah kedepan meninggalkanku duduk sendirian. Lalu dia membungkuk dan mengambil beberapa butir kerikil dan melemparkannya satu-persatu jauh ketengah danau. Terlukis diraut wajahnya sebuah kegelisahan yang terpapar jelas namun sulit untuk diungkapkan, dia tak seperti biasanya. Hening menyelimuti kami berdua. Sesekali terdengar hembusan nafas panjang.

“Aa’…” gumamku lirih memecah kesunyian, namun sepertinya cukup jelas tertangkap ditelinganya Deco.

“Kamu benar-benar pengen tau, De…? Apa kamu yakin kalau kamu benar-benar siap dengan semua ini?” Deco sama sekali tak menoleh. Aku mengangguk pelan sembari menggigit kecil bibirku untuk menenangkan perasaanku yang tak karuan, hatiku gundah. Dengan perlahan, Deco menoleh kearahku dan menatapku lama sekali. Ya Allah, mengapa dia menatapku seperti itu? Tergurat jelas dimatanya perasaan sedih yang mendalam. Namun aku tak berani mereka-reka apa yang tengah dipikirkan dan dirasakannya. Aku cuma bisa  berharap dan menunggu kata-kata yang akan keluar dari bibirnya adalah berita yang menggembirakan.

Terlihat Deco menimang-nimang kerikil yang masih tersisa digenggamannya.

“Dia sakit, De…" ujar Deco perlahan dengan suara serak. Kata-katanya seakan tersangkut ditenggorokan.

“Naya bilang, kerusakan dikepalanya sudah parah banget. Bisa dibilang… 85 persen udah mengalami kerusakan yang fatal, akibat kecelakaan dan benturan yang sering terjadi.” Deco menundukkan kepalanya, ekspresi wajahnya kembali mengeras dan tangannya terkepal. Aku tersentak kaget dan terpana mendengar ucapan Deco.

Bohong! Aku nggak percaya itu! Kugelengkan kepalaku kuat-kuat berusaha menepis bahwa kabar yang kudengar ini adalah bohong belaka! Ini cuma mimpi buruk! “Please somebody, wake me up…!” jeritku dalam hati. Hatiku terasa sedih, perih dan hancur berkeping-keping. Mataku memanas, ada telaga kecil yang mulai terkumpul dipelupuk mataku. Ya Allah… Mengapa ini semua terjadi padaku disaat aku menemukan seseorang yang sangat berarti dalam hidupku…???

“Astaghfirullah… Ini semua tidak benarkan, A’…?!?” Aku ingin menjerit, namun suaraku tercekat ditenggorokan. Deco terdiam, tak berani menatap mataku yang mulai berkaca-kaca.

“Jawab, A’…! Bilang bahwa ini semua cuma satu kesalahan medis!” Aku terisak pelan. Telaga itu tak terbendung lagi,  dan air mataku mulai tumpah perlahan-lahan.

“Aa’ berharap juga begitu, De… Sebagai dokter, Naya telah berusaha semampunya. Dia juga dibantu oleh teman-teman dokternya yang lain, De… Namun, hasil dari medical check-up yang kemaren menyatakan seperti itu. Sekarang Bilal dalam perawatannya Naya.” Deco menarik nafas panjang.

“Kak Naya bilang apa, A’…? Apa dia bisa sembuh…?”

“Fifty-fifty, De… Mereka juga tak berani menjamin, mengingat…” Deco tak kuasa melanjutkan ucapannya. Ia menyisir rambutnya dengan jari-jemari. Kemudian ia melangkah mendekati Celia dan kembali duduk disampingnya.

“Apa aku akan kehilangannya, Aa’…???” desisku lirih disela-sela isak tangis.

“Aa’ nggak tau, De… umur manusia terletak ditangan Allah, hanya Dia yang tau, De… Kita hanya bisa berdoa… Aa’ harap kamu bisa kuat dengan semua ini kalaupun hal itu terjadi, De… Aa’ ingin kamu bisa ikhlas, apapun yang terjadi… ”

Aku tak kuasa menghentikan rasa sedihku, mengapa ini harus terjadi lagi…??? Kenapa harus dia? Kenapa bukan aku…? Baru kali ini aku menemukan orang yang tepat, orang yang benar-benar mencintaiku dengan segala kekuranganku. Orang yang selama ini selalu sabar yang menghadapi kerasnya aku. Tak sekalipun ia memarahiku ketika aku berbuat kesalahan. Sebaliknya, ia akan menasehatiku ketika emosiku tlah mereda. Aku sangat mencintai Bilal, apapun akan kulakukan untuknya. Bilal segala-galanya bagiku, cuma dia yang mengerti aku.

“Aku tak sanggup kehilangannya, A’… Takkan pernah sanggup…”

“De…” Deco menyodorkan sebungkus tissue.

“Aku takkan pernah bisa ikhlas, A’… Ini semua tak adil…!” jeritku tak tertahankan. Kulempar tasku ke bangku taman yang kami duduki dan berlari kearah danau. Aku ingin mati saja…

Deco yang sepertinya mengetahui niatku segera saja menghambur berlari mengejarku. Ia berhasil menangkap tanganku dan menyentakkannya kebelakang. Aku terhenti dan meringis kesakitan mendapati tanganku yang dicekal seperti itu. Aduh… sakit sekali…

“Apa yang mau kamu lakukan! Jangan bodoh kamu, De…!!!” Teriaknya berang.

“Lepaskan aku, A’…” ujarku memohon.

“Tak akan!”

“Tapi ini sakit, A’…” Deco mulai melonggarkan pegangannya.

“Dia pasti akan kecewa dan sedih sekali melihat kamu yang seperti ini, De…”

“Apa Aa’ tau apa yang kurasa?” Aku menyentakkan tanganku hingga terlepas dari cengkramannya. Deco mengangguk pelan.

“Aku tau, walaupun tak tau dengan pasti…”

“Aa’ tau, betapa sakit, sedih dan perihnya hatiku melihatnya setiap hari dirinya meringis menahan sakit…? Namun dia tetap tertawa, A’… Dia tetap bersikap biasa-biasa saja dan menunjukkan pada orang-orang kalau dia itu sehat… Setiap dia tertidur malam, darah selalu saja mengucur perlahan dari hidungnya. Dia tidak tau itu kan, A’… Saat pagi menjelang ketika mau sholat subuh, dia jadi keheranan mengapa ada banyak darah yang ada dibajunya? Setiap hari juga kan A’, dia mesti membuang baju-baju yang berlumuran darah itu? Aa’ yang menceritakan semua itu kepadaku. Ironisnya, dia sendiri tidak mengetahui dan tidak mengerti kenapa semua itu bisa terjadi…?”

“Iya, De… Dia tidak tau bahwasanya dia sakit, kami merahasiakannya, De... Dia pasti akan sangat sedih sekali jika dia tau tentang sakitnya ini. Jangan beritahu dia dulu ya, De… Aku juga udah bilang Naya agar nyari waktu yang tepat untuk bilang padanya…”

“Tak bisakah kak Naya berbicara langsung kepadaku tentang Bilal? Separah apakah sakitnya, Aa’…?” Deco tidak menjawab dan hanya tertunduk sedih.
Suasana kembali sepi, larut dengan pikiran masing-masing. Namun, ada amarah yang hendak membuncah dihatiku.

Kulangkahkan kakiku kearah danau dan berhenti dipinggirnya. Dengan sekencang-kencangnya aku berteriak, tanganku yang terkepal kuacung-acungkan kearah langit,

“TUHAAAAN… INI SEMUA SUNGGUH TAK ADIL! MENGAPA ENGKAU SLALU SAJA MENGAMBIL ORANG-ORANG YANG AKU CINTAAA…!!! APA SALAHKU…??? KALAU KAU MAU MENGAMBIL, AMBIL SAJA NYAWAKU… JANGAN BILAL! Jangan Bilal, jangan Kau ambil Bilalku… Jangan, aku takkan bisa hidup tanpanya..  Karna dia matahari hidupku…”

Brughhht…!

“De…! Adeee…!!!”




*********


Tidak ada komentar:

Posting Komentar