A LITTLE SECRET BETWEEN MOON AND EARTH (Part. II)






By: Naomi



              Diatas sana, sosok jelita itu terus saja terbang melesat tinggi. Tak peduli dengan Sang Bayu dan kegelapan malam yang mulai menghajarnya, yang jelas dia harus bisa sampai ke bulan. Setelah hampir satu windu menghilang, malam ini juga Bunny harus segera diantarkan ke bulan! Itu tekadnya.


              Malam pun mulai merangkak pelan menuju dini hari. Dinginnya angin mulai terasa menusuk kulit hingga ke tulang. Dirapatkannya Sang Kelinci ketubuhnya. Wajahnya terasa beku ditampar dinginnya angin. Dia pun mulai kelelahan, setelah berkali-kali terpental akibat melaju kencang melawan arah angin yang bertiup. Berkali-kali juga dia jatuh tergelincir dari sapunya karna menahan kantuk yang mulai menyerang.




              Bersamaan dengan mengganasnya Sang Penguasa malam, titik-titik embun pun mulai bermunculan. Jari jemarinya yang menggenggam erat tangkai sapu perlahan mulai menjadi kaku, kebas dan mati rasa. Pipinya memerah dan terasa menebal. Pakaian yang membaluti tubuhnya pun tak sanggup lagi menahan rembesan embun hingga membuatnya jadi lembab. Ia pun mulai menggigil hebat, kedinginan…


              “Aku harus bisa…” desisnya lirih, namun penuh dengan rona keputus-asaan. Dicondongkannya tubuhnya kedepan merapat pada tangkai sapunya. Dengan sisa tenaga yang ada, ia kembali menerjang angin dan menembus pekatnya malam. Tapi kali ini dia jatuh terpental lebih jauh. Sesaat ia mulai putus asa. Dengan terbang yang terseok-seok, dia kembali berusaha mencari arah yang sebelumnya sempat mengabur. Tiba-tiba saja ia berhenti diudara dan mulai menangis terisak. Ditatapnya bulan yang tenggelam dibalik selubung kelam. Cuaca sedang tidak bersahabat diatas sana. Tak ada lagi cahaya bulan yang biasanya menuntun arahnya terbang. Diangkatnya Sang Kelinci – yang sedari tadi didekapnya – tinggi-tingi melewati batas kepalanya.


              “Lihat! Bahkan Sang Empunya malam pun seperti enggan bersahabat dengan kita…!” lengkingnya panik seraya menunjuk kearah bulan yang tersaput awan.


              “Aku rasa, aku tak sanggup lagi, Bunny… Aku lelah, letih sekali…” Bunny menatap gadis itu dengan tatapan yang polos dan bola matanya yang bulat jenaka. Si gadis gipsy terenyuh melihat tatapan kelinci itu , yang seolah mengerti dengan segala keputus-asaan yang tengah melanda hati dan pikirannya. Dipeluknya kembali kelinci itu erat-erat.

              “Jangan khawatir, Bunny… Jangan khawatir! Kita pasti bisa! Tapi sekarang ini, kita harus istirahat dulu. Tubuhku terasa mulai membeku. Aku butuh kehangatan dan tempat berbaring sebagai pelepas lelah…” Hiburnya seraya mengedarkan pandangannya mengamati pemandangan yang terhampar dibawahnya.


              Perlahan dia mulai terbang lagi, tatapannya mulai mencari-cari sesuatu. Tapi tak satu sumber kehangatan pun yang dapat dijumpainya. Rasa kalut mulai menghampirinya kembali. Ketika kepanikan mulai memuncak, dengan perlahan kabut yang terhampar dibawahnya mulai terkuak. Si gadis gipsy terpekik gembira sambil melepaskan pegangannya dari tangkai sapu. Hampir saja dia jatuh terjungkal kalau saja dia tidak cepat-cepat meraih kembali pegangannya. Dimantapkannya hati, pandangannya tertuju pada secercah tanda kehidupan yang terlihat samar, yang masih bersinar dibawah sana. Satu-satunya tanda kehidupan yang masih bisa terlihat olehnya. Senyum manis mengambang dibibirnya.


              “Nah, Bunny… Lihat! Ada secercah kehangatan dibawah sana!” Secepat kilat ia melesat bak anak panah yang dilepaskan dari busurnya, menukik turun dengan tajam. Sambil mendekap erat kelincinya, ia pun menyipitkan mata dan menajamkan penglihatannya. Dinginnya angin mulai kembali terasa menampar-nampar pipinya dengan membabi buta. Tak dihiraukannya semua itu. Tujuannya cuma satu, segera sampai ditempat yang tengah ditujunya.


              “Wah…! Harusnya tadi aku meminjam kacamata pilotnya Bibi Gwendolyn nih, Bun…” selorohnya keras sambil berusaha melawan lajunya deru Sang Bayu.


              Tanda kehidupan itu semakin dekat dan terang. Terang bagaikan bintang timur yang menghiasi langit malam. Tanda kehidupan yang ternyata berasal dari sebuah kamar yang terletak dilantai dua rumah bertingkat tersebut.


              Si gadis gipsy bersembunyi diantara rimbunnya dedaunan pepohonan didekat rumah tersebut. Matanya awas tak berkedip, mengamati setiap gerak-gerik yang ada. Sepi… 


              Kembali diarahkannya pandangannya pada cahaya yang berasal dari lampu kamar tersebut. Pikirannya dipenuhi oleh kehangatan yang ada didalam ruangan dan perapian. Kehangatan sehelai selimut dan seonggok bantal. Dari balik jendela yang terbuka lebar, dia melihat seseorang yang bertampang macho tengah asyik tenggelam dalam satu benda yang dipikirnya merupakan bola kristal. Dia sangat terheran-heran melihat bola kristal kepunyaan orang tersebut. Bola kristalnya berbentuk kotak, tidak bulat bola seperti yang dimiliki oleh Bibi Gwen. Dan jari jemari si pemilik bola kristal aneh itu tengah menari-nari diatas sebuah papan aneh yang juga ada kotak-kotak kecilnya.


              “Pasti dia sedang merapal mantra!” Bathinnya menduga-duga. Beberapa saat kemudian dia tersentak kaget dan terpana akan kehebatan bola kristal yang dimiliki oleh orang tersebut. Sesuatu muncul dikotak kristal tersebut. Seorang wanita cantik mulai bergerak gemulai dengan diiringi sebuah senandung merdu yang mengalun dari bibirnya. Sekejap si gadis gipsy terpesona mendengar alunan tersebut. Laksana terhisap aliran magnet, tanpa sadar dirinya mulai melayang terbang melewati jendela dan masuk kedalam ruangan yang terasa hangat itu.

      
        Dengan gerakan anggun, dijejakkannya kakinya dikarpet hijau yang ada diruangan tersebut. Udara hangat dan berbau pinus langsung menerpa indera penciumannya. Sambil menghela nafas lega, diletakkannya Bunny didalam keranjang yang ada disebelahnya. Keranjang itu terlihat sangat pas untuk ukuran tubuh Bunny.


          Setelah menyembunyikan sapu terbangnya, kemudian si gadis gipsy mulai melangkah mendekati pembaringan yang sejak diatas tadi begitu diidam-idamkannya. Perlahan dia mulai merebahkan tubuhnya dibalik selimut tebal yang terhampar diatas pembaringan tersebut. Sekejap, aliran darah ditubuhnya mulai terasa lancar kembali. Rasa kantuk dan lelah yang hebat mulai menyerang kembali. Senandung merdu yang terdengar mengalun menambah rasa nyaman. Dia terbuai, terlelap kealam mimpi. Beberapa saat kemudian terdengar dengkuran lembut dan halus keluar dari bibir sensual si gadis gipsy tersebut.


        
      Kent tersentak kaget ketika telinganya mendengar suara-suara aneh lagi dari arah belakang tubuhnya. Serta merta ia menyambar tongkat baseball yang terletak didekatnya. Penuh rasa heran dan waspada, dia mulai mengedarkan pandangannya seraya menajamkan pendengarannya.



    Pandangannya tertuju pada sesuatu yang teronggok dibalik selimut diatas ranjang. Perlahan-lahan ia mulai melangkah tanpa menimbulkan suara-suara. Tongkat baseball teracung ditangannya. Ditariknya selimut itu dengan pelan, sambil mengambil ancang-ancang bersiap-siap mengayunkan tongkat. Tiba-tiba saja sosok makhluk putih kecil berbulu lembut menerjang mukanya. Ia tersentak kaget dan terlompat mundur. 


              Brakkk…!!! 


          Seketika tongkat kayu itu terlepas dari pegangannya dan menimbulkan suara berisik. Ia merasa heran dengan kehadiran sosok yang tak dikenal berada dalam kamarnya. Matanya melotot menatap makhluk putih yang berlari dan menghilang dibalik pintu. Belum sempat Kent meredakan kekagetannya, tiba-tiba dari dalam selimut muncul lagi satu sosok jelita yang tengah menguap dihadapannya. Kent terpana…



To be continued

Tidak ada komentar:

Posting Komentar