By: Naomi
Diatas sana, sosok jelita
itu terus saja terbang melesat tinggi. Tak peduli dengan Sang Bayu dan
kegelapan malam yang mulai menghajarnya, yang jelas dia harus bisa sampai ke
bulan. Setelah hampir satu windu menghilang, malam ini juga Bunny harus segera
diantarkan ke bulan! Itu tekadnya.
Malam pun mulai merangkak pelan menuju dini hari. Dinginnya angin mulai terasa
menusuk kulit hingga ke tulang. Dirapatkannya Sang Kelinci ketubuhnya. Wajahnya
terasa beku ditampar dinginnya angin. Dia pun mulai kelelahan, setelah
berkali-kali terpental akibat melaju kencang melawan arah angin yang bertiup.
Berkali-kali juga dia jatuh tergelincir dari sapunya karna menahan kantuk yang
mulai menyerang.
Bersamaan dengan mengganasnya Sang Penguasa malam, titik-titik embun pun mulai
bermunculan. Jari jemarinya yang menggenggam erat tangkai sapu perlahan mulai
menjadi kaku, kebas dan mati rasa. Pipinya memerah dan terasa menebal. Pakaian
yang membaluti tubuhnya pun tak sanggup lagi menahan rembesan embun hingga
membuatnya jadi lembab. Ia pun mulai menggigil hebat, kedinginan…
“Aku harus bisa…” desisnya lirih, namun penuh dengan rona keputus-asaan.
Dicondongkannya tubuhnya kedepan merapat pada tangkai sapunya. Dengan sisa
tenaga yang ada, ia kembali menerjang angin dan menembus pekatnya malam. Tapi
kali ini dia jatuh terpental lebih jauh. Sesaat ia mulai putus asa. Dengan
terbang yang terseok-seok, dia kembali berusaha mencari arah yang sebelumnya
sempat mengabur. Tiba-tiba saja ia berhenti diudara dan mulai menangis terisak.
Ditatapnya bulan yang tenggelam dibalik selubung kelam. Cuaca sedang tidak
bersahabat diatas sana. Tak ada lagi cahaya bulan yang biasanya menuntun
arahnya terbang. Diangkatnya Sang Kelinci – yang sedari tadi didekapnya –
tinggi-tingi melewati batas kepalanya.
“Lihat! Bahkan Sang Empunya malam pun seperti enggan bersahabat dengan kita…!”
lengkingnya panik seraya menunjuk kearah bulan yang tersaput awan.
“Aku rasa, aku tak sanggup lagi, Bunny… Aku lelah, letih sekali…” Bunny menatap
gadis itu dengan tatapan yang polos dan bola matanya yang bulat jenaka. Si
gadis gipsy terenyuh melihat tatapan kelinci itu , yang seolah mengerti dengan
segala keputus-asaan yang tengah melanda hati dan pikirannya. Dipeluknya
kembali kelinci itu erat-erat.
“Jangan khawatir, Bunny… Jangan khawatir! Kita pasti bisa! Tapi sekarang ini,
kita harus istirahat dulu. Tubuhku terasa mulai membeku. Aku butuh kehangatan
dan tempat berbaring sebagai pelepas lelah…” Hiburnya seraya mengedarkan
pandangannya mengamati pemandangan yang terhampar dibawahnya.
Perlahan dia mulai terbang lagi, tatapannya mulai mencari-cari sesuatu. Tapi
tak satu sumber kehangatan pun yang dapat dijumpainya. Rasa kalut mulai
menghampirinya kembali. Ketika kepanikan mulai memuncak, dengan perlahan kabut
yang terhampar dibawahnya mulai terkuak. Si gadis gipsy terpekik gembira sambil
melepaskan pegangannya dari tangkai sapu. Hampir saja dia jatuh terjungkal
kalau saja dia tidak cepat-cepat meraih kembali pegangannya. Dimantapkannya
hati, pandangannya tertuju pada secercah tanda kehidupan yang terlihat samar,
yang masih bersinar dibawah sana. Satu-satunya tanda kehidupan yang masih bisa
terlihat olehnya. Senyum manis mengambang dibibirnya.
“Nah, Bunny… Lihat! Ada secercah kehangatan dibawah sana!” Secepat kilat ia
melesat bak anak panah yang dilepaskan dari busurnya, menukik turun dengan
tajam. Sambil mendekap erat kelincinya, ia pun menyipitkan mata dan menajamkan
penglihatannya. Dinginnya angin mulai kembali terasa menampar-nampar pipinya
dengan membabi buta. Tak dihiraukannya semua itu. Tujuannya cuma satu, segera
sampai ditempat yang tengah ditujunya.
“Wah…! Harusnya tadi aku meminjam kacamata pilotnya Bibi Gwendolyn nih, Bun…”
selorohnya keras sambil berusaha melawan lajunya deru Sang Bayu.
Tanda kehidupan itu semakin dekat dan terang. Terang bagaikan bintang timur
yang menghiasi langit malam. Tanda kehidupan yang ternyata berasal dari sebuah
kamar yang terletak dilantai dua rumah bertingkat tersebut.
Si gadis gipsy bersembunyi diantara rimbunnya dedaunan pepohonan didekat rumah
tersebut. Matanya awas tak berkedip, mengamati setiap gerak-gerik yang ada.
Sepi…
Kembali diarahkannya pandangannya pada cahaya yang berasal dari lampu kamar
tersebut. Pikirannya dipenuhi oleh kehangatan yang ada didalam ruangan dan
perapian. Kehangatan sehelai selimut dan seonggok bantal. Dari balik jendela
yang terbuka lebar, dia melihat seseorang yang bertampang macho tengah asyik
tenggelam dalam satu benda yang dipikirnya merupakan bola kristal. Dia sangat
terheran-heran melihat bola kristal kepunyaan orang tersebut. Bola kristalnya
berbentuk kotak, tidak bulat bola seperti yang dimiliki oleh Bibi Gwen. Dan
jari jemari si pemilik bola kristal aneh itu tengah menari-nari diatas sebuah
papan aneh yang juga ada kotak-kotak kecilnya.
“Pasti dia sedang merapal mantra!” Bathinnya menduga-duga. Beberapa saat
kemudian dia tersentak kaget dan terpana akan kehebatan bola kristal yang
dimiliki oleh orang tersebut. Sesuatu muncul dikotak kristal tersebut. Seorang
wanita cantik mulai bergerak gemulai dengan diiringi sebuah senandung merdu
yang mengalun dari bibirnya. Sekejap si gadis gipsy terpesona mendengar alunan
tersebut. Laksana terhisap aliran magnet, tanpa sadar dirinya mulai melayang
terbang melewati jendela dan masuk kedalam ruangan yang terasa hangat itu.
Dengan gerakan anggun, dijejakkannya kakinya dikarpet hijau yang ada diruangan
tersebut. Udara hangat dan berbau pinus langsung menerpa indera penciumannya.
Sambil menghela nafas lega, diletakkannya Bunny didalam keranjang yang ada
disebelahnya. Keranjang itu terlihat sangat pas untuk ukuran tubuh Bunny.
Setelah menyembunyikan sapu terbangnya, kemudian si gadis gipsy mulai
melangkah mendekati pembaringan yang sejak diatas tadi begitu
diidam-idamkannya. Perlahan dia mulai merebahkan tubuhnya dibalik selimut tebal
yang terhampar diatas pembaringan tersebut. Sekejap, aliran darah ditubuhnya
mulai terasa lancar kembali. Rasa kantuk dan lelah yang hebat mulai menyerang
kembali. Senandung merdu yang terdengar mengalun menambah rasa nyaman. Dia
terbuai, terlelap kealam mimpi. Beberapa saat kemudian terdengar dengkuran
lembut dan halus keluar dari bibir sensual si gadis gipsy tersebut.
Kent tersentak kaget ketika telinganya mendengar suara-suara aneh lagi dari
arah belakang tubuhnya. Serta merta ia menyambar tongkat baseball yang terletak
didekatnya. Penuh rasa heran dan waspada, dia mulai mengedarkan pandangannya
seraya menajamkan pendengarannya.
Pandangannya tertuju pada sesuatu yang teronggok dibalik selimut diatas
ranjang. Perlahan-lahan ia mulai melangkah tanpa menimbulkan suara-suara.
Tongkat baseball teracung ditangannya. Ditariknya selimut itu dengan pelan,
sambil mengambil ancang-ancang bersiap-siap mengayunkan tongkat. Tiba-tiba saja
sosok makhluk putih kecil berbulu lembut menerjang mukanya. Ia tersentak kaget
dan terlompat mundur.
Brakkk…!!!
Seketika tongkat kayu itu terlepas dari pegangannya dan menimbulkan suara
berisik. Ia merasa heran dengan kehadiran sosok yang tak dikenal berada dalam
kamarnya. Matanya melotot menatap makhluk putih yang berlari dan menghilang
dibalik pintu. Belum sempat Kent meredakan kekagetannya, tiba-tiba dari dalam
selimut muncul lagi satu sosok jelita yang tengah menguap dihadapannya. Kent
terpana…
To be continued

Tidak ada komentar:
Posting Komentar