“The Fairies’ Tale In The Dark Town” (Part. 4)

“TheFairies’ Tale In The Dark Town”
 (Part. 4)
By: Naomi
Khalisa 2
“THOU CONVERSATIONS & FLASHBACK MEMORY”
“Jadi kakak bukan mantan pacarnya? Tapi mengapa komentarnya kak Khalisa bisa seperti itu, ya?” Tanya Nayla siang itu saat mereka lunch bersama Khalisa di sebuah café yang berada dikawasan Setia Budi, tak jauh dari kantornya Khalisa. Khalisa tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.  

“The Fairies’ Tale In The Dark Town” (Part. 3)



“The Fairies’ Tale In The Dark Town”
 (Part. 3)

By: Naomi

KHALISA 1

“GOODBYE BATAVIA CITY…!”

Last February 2010. Diketinggian 3000 kaki dari permukaan laut, diatas awan didalam burung besi, Tokyo’s destination.



Pesawat terbang itu melaju tenang di atas sana, sesekali terlihat berguncang akibat getaran udara yang ditimbulkan. Cuaca sangat tak menentu, sedang tak bersahabat. Seorang perempuan muda cantik berwajah campuran— Jepang-Canada-Indonesia—tengah duduk termangu disalah satu kursi penumpang dipesawat tersebut, matanya memandang nanar jauh keluar jendela. Wajahnya yang cantik terlihat murung dan sendu, seraut kesedihan yang teramat sangat tampak membias disana. Sesekali terdengar helaan nafas berat, memancing tanda tanya penumpang lain yang duduk bersebelahan dengannya.

AND THEN I SEE YOU AGAIN (Here, There and Everywhere)




AND THEN I SEE YOU AGAIN
(Here, There and Everywhere)


By: RC. Sukito


Friday night, at 8:05 PM


Toyota Land Cruiser hitam itu meluncur cepat diheningnya malam yang basah oleh derasnya hujan. Cahaya kilat yang menyambar sesekali menerangi langit malam, seperti sebuah lampu flash raksasa milik Sang Penguasa yang sedang mengabadikan potret kehidupan anak manusia.  Suara mesin mobil itu harus menyerah kalah pada deru angin yang mengamuk malam itu. Kuatnya terpaan angin seolah memuntahkan semua kepenatan kota sepanjang hari ini. Air hujan yang jatuh menghantam keras permukaan mobil menimbulkan suara gemericik yang sangat memekakkan telinga.

THOU SPIRITS DIALOG

THOU SPIRITS DIALOGUE


By: Naomi
           

TENG…!

Jam dinding kuno itu berdentang satu kali. “Hoaaaamhhh… Pukul 1 lewat tengah malam ternyata.” Gumamku lirih seraya beranjak mematikan komputer yang sedari tadi menyala begitu saja dimeja belajarku. Sebenarnya ada tugas presentasi yang harus kukerjakan, namun entah mengapa penyakit malas mulai menyerangku. Dan kupikir, aku tak harus terburu-buru, kan? Berhubung deadline-nya minggu depan, so aku benar-benar harus matang menyiapkan materi. Dan itu tak boleh tergesa-gesa.