A LITTLE SECRET BETWEEN MOON AND EARTH-Bag. 3
By: Naomi
“Kamu...???” Kent melontarkan kata-kata
dengan penuh tanya keheranan.
“Maaf aku telah mengganggumu lagi,
telah memakai tempat tidur dan selimutmu demi mencari sebuah kehangatan. Aku
kedinginan dan kelelahan.” Ucapnya polos sambil mengucek-ngucek matanya.
“Ummm… Bunny kemana, ya?” Lanjutnya
lagi seraya mengedarkan pandangan mata mengitari ruangan itu mencari-cari
kelincinya. Kent masih terdiam melongo, seolah-olah tak percaya dengan apa yang
dilihatnya.
“Maaf, itu tadi tongkat sihirnya kamu,
ya? Waaahh… besar sekali! Aku tak pernah melihat tongkat sihir yang sebesar
itu.” Si Gipsy menatap takjub bergantian kearah Kent dan tongkat pemukul
baseball yang terpental tergeletak disamping lemari. Kent jadi salah tingkah
ditatap seperti itu, namun sekaligus bingung dengan gelagat aneh si jelita yang
telah mencuri hatinya tersebut. Si jelita yang menghampirinya dipertengahan
malam. Si jelita yang tadi telah mencium pipinya dan langsung menghilang
dibalik awan. Si jelita yang tanpa sengaja telah membiarkan Cupid menancapkan
panah cinta dijantung hatinya Kent. Dan si jelita yang datang untuk yang kedua
kalinya dan kembali membuatnya terpana. Whadda miracle…
Setelah berhasil meredakan degup jantungnya,
Kent mulai menyunggingkan sebuah senyum persahabatan untuk yang pertama
kalinya.
“Hmm… Iya, itu tongkat sihir yang maha
dahsyat! Makanya kamu jangan macam-macam seperti tadi itu. Seandainya kamu
diketuk tongkat tadi, ck―ck―ck…” ancam Kent
menggoda hanya sekedar untuk menakut-nakuti, kebiasaan Kent yang iseng mulai
muncul. Si gadis gipsy terlihat bergidik ngeri menatap tongkat tadinya sempat
berada dalam genggaman tangan Kent. Perlahan dia beringsut mundur namun dia
terjatuh terduduk diatas ranjang karena tersandung pinggiran tempat
tidur.
“Hey―hey―hey…! Jangan
ketakutan seperti itu, dong… memangnya aku terlihat seperti hantu? Aku bukan
penyihir…” Terang Kent sambil mengulurkan tangannya membantu si gadis gipsy.
“Tong―kat i―tu…” Ujar si gadis
gipsy terbata-bata.
“Oh, c’mon… Itu kan cuma pemukul
baseball, tak ada yang salah dengan itu semua.” Kent menepuk lembut bahu si
gadis gipsy. Ia terperanjat mendapati pakaian yang dikenakan si gadis gipsy
terasa lembab dan sedikit basah ditelapak tangannya.
“Kenapa pakaianmu basah? Kamu
bisa masuk angin jika mengenakan pakaian yang seperti ini.” Tanya Kent
prihatin.
“That’s why I came here, aku
kedinginan…“ Jawab si gadis gipsy lirih.
“Aku membutuhkan sedikit kehangatan dan
aku juga harus mengeringkan pakaianku. Aku tak memiliki pakaian lain, hanya
ini… Aku tak mungkin melanjutkan perjalanan dengan kondisi tubuh dan pakaian
yang seperti ini. Semua benar-benar diluar dugaanku, mereka sama sekali
tak bersahabat! Hampir saja Sang Bayu buatku terpental jatuh…” Sesalnya
lagi sambil menggeleng-gelengkan kepalanya sedih.
Melihat kesedihan yang terpancar dari
wajah si gadis jelita yang telah merebut hatinya itu, jiwa pelindung Kent
langsung mengepak-ngepakkan sayapnya. Tanpa berpikir dua kali, Kent langsung
beranjak menuju wardrobe.
“Sebenarnya kamu mau kemana?”
Tanya Kent sambil mengobrak-abrik wardrobe-nya mulai mencari sesuatu.
“Ke bulan. Aku harus mengantarkan
Bunny.” Ujarnya lirih. Serta-merta Kent menghentikan kegiatannya dan menoleh
kebelakang, menatap kebingungan kearah si gadis gipsy.
“Ke Bulan…???” Tanyanya lagi dengan
dahi berkerut.
“Iya, ke Bulan. Apa ada yang salah?”
Gadis itu melemparkan pandangannya keluar jendela yang belum sempat ditutup.
“Bunny harus pulang…” Lanjutnya lagi
tanpa menghiraukan tatapan bingungnya Kent. Kent hanya bisa mengangkat kedua
bahunya dan meneruskan kegiatannya lagi. Dia pikir, mungkin si gadis gipsy
pujaan hatinya itu tengah bergurau. Yeah… apapun itu, yang penting gadis
pujaan hatinya telah kembali, pikirnya sambil tersenyum dan melanjutkan
pencahariannya.
“Ini, ganti dulu pakaianmu! Ini yang
paling kecil yang aku punya, mudah-mudahan saja muat ditubuhmu.” Kent
menyodorkan sepasang pakaian baru yang belum pernah dia gunakan sama sekali
semenjak dibeli. Memang tak pernah, karna ukurannya yang kekecilan untuk ukuran
tubuhnya.
Dengan tersenyum manis, si gadis gipsy
menerima pakaian yang disodorkan Kent. Dia terharu akan ketulusan Kent, matanya
berkaca-kaca. Ternyata, diluar sana masih ada yang peduli.
“Terima kasih.” Ucapnya lirih.
“Maaf, hanya itu yang aku punya. Aku
tidak tahu, apakah pakaian itu…” Kent hendak melanjutkan kalimatnya namun
terputus oleh jawaban si gadis gipsy.
“Ooohhh…. Tidak─tidak─tidak… Ini bagus
sekali, sudah lebih dari cukup.” Jawab si gadis gipsy lembut sambil membelai
pipinya Kent. Sorot matanya menatap Kent dengan lembut, membuat jantung Kent
semakin berdetak tak karuan.
“Kenapa?” Tanya Kent bingung ketika
gadis pujaan hati yang berdiri dihadapannya terlihat gelisah.
“Ngghhh… Aku mau mengganti pakaianku,
tapi… Aku─” Si gadis gipsy menunduk malu.
“Ummm… Would you turn around, please…
Aku─” Tanpa diucapkan dua
kali Kent reflek membalikkan tubuhnya sambil tersenyum penuh pengertian. “Thank
you. Namaku Zweeth. Maaf ya, aku tidak terbiasa ada orang bersamaku saat aku
berganti pakaian.” Sambungnya lagi mulai bercerita sembari melepas pakaiannya
yang basah satu-persatu.
Kent terperangah jengah ketika
mengarahkan pandangannya kedepan, ada semburat merah diwajahnya. Tanpa disadari
ada cermin yang terletak dihadapan Kent yang membuat ia masih bisa melihat
keadaan yang terjadi dibelakangnya. Ia dengan jelas bisa menatap sosok polos si
gadis gipsy yang tengah berganti pakaian dibelakangnya.
Seketika Kent menahan nafas dan
memejamkan matanya. Namun rasa takjub dan penasaran menahan niatnya tersebut,
ada gemuruh aneh didadanya. Dengan bantuan pantulan cermin, Kent mencuri-curi
pandang menatap akan keelokan tubuh si gadis gipsy. Tak sadar, si gadis gipsy
terus saja mengganti pakaiannya. Terlihat oleh Kent bahwa pakaian yang
dipinjamkannya masih saja tidak sesuai dengan ukuran tubuh si gadis gipsy.
Pakaian itu kebesaran untuknya hingga membuat tubuhnya seperti hilang ditelan
pakaian.
Namun disisi lain Kent terpana. Pakaian yang terlihat kedodoran itu
justru malah membuat si gadis gipsy terlihat seksi! Leher t-shirt yang lebar
dan menggantung di pundak menampilkan bahu mulus si gypsi, dan menampakkan
belahan dadanya yang menggumpal kencang. Darah Kent berdesir kencang diiringi
oleh jantung yang berdebar-debar.
“Baiklah, sudah selesai. Nah, sekarang
kamu boleh berbalik.” Ujar Zweeth malu-malu menatap punggung Kent yang
perlahan-lahan berbalik kearahnya.
“Waaahh… Kebesaran untukmu, ya?” Ujar
Kent mengomentari pakaiannya.
“Maafkan aku, hanya itu ukuran paling
kecil yang aku punya.” Lanjutnya lagi.
“Ssstt… Ini sudah lebih dari cukup,
kok. Aku yang seharusnya malu dan berucap terimakasih atas kebaikan hatimu.”
Zweeth menempelkan jari telunjuknya dibibir Kent. Tatapan mata mereka saling
beradu. Ada sebuah getaran halus yang terasa mengalir disudut hati mereka,
perasaan hangat yang membuat mereka merasa nyaman berdekatan. Mata mereka
seakan-akan berbicara hal-hal yang tak terkatakan. Seakan memahami bahwa telah
terjadi sesuatu dengan diri mereka, tapi tak bisa dijelaskan dengan logika.
Entah siapa yang memulai terlebih
dahulu, tiba-tibs saja tangan mereka sudah saling bergenggaman erat yang mampu
menghantarkan ribuan voltase sensasi yang menggetarkan keseluruh tubuh. Dari
ujung rambut, sampai keujung kaki. Mampu membuat logika terpinggirkan oleh rasa
asing yang mengguncang sukma. Yang membuat seluruh saraf-saraf halus disekujur
tubuh jadi bagaikan kesetrum nikmat, yang membuat bulu-bulu halus dikulit
berdiri karna sentuhan-sentuhan yang penuh kelembutan.
“Kamu terlihat lelah sekali, Zweeth.
Sudah waktunya istirahat.” Desis Kent lirih mencoba menenangkan gemuruh
menggelora yang mulai membakar jiwanya. Debaran jantungnya terasa semakin
menggila. Dengan jemari yang bergetar, dirapikannya anak-anak rambut yang
menjuntai lemas di dahi Zweeth.
Tanpa melepaskan genggaman tangannya,
Kent mengantarkan Zweeth menuju kepinggiran ranjang. Seperti dihipnotis, zweeth
merebahkan tubuhnya perlahan tanpa bisa mengalihkan pandangan dari teduhnya
mata Kent. Ia merasa nyaman berada bersama Kent, tidak tahu kenapa tapi Zweeth
sangat damai ditemani olehnya.
“Would you stay here,
please… accompany me…” Pinta Zweeth memohon. Ia merasakan ketakutan berada di
tempat yang sama sekali tak ia kenal, dan ia ingin Kent menemaninya malam ini.
Kent sama sekali tak menjawab, ia hanya tersenyum. Perlahan Kent turut
membaringkan tubuhnya yang memang sudah terasa lelah disamping Zweeth. Dengan
sangat hati-hati Kent menarik bedcover hingga menutupi dada mereka berdua. Ia
tak ingin Zweeth merasa kedinginan, Kent sungguh-sungguh ingin melindunginya.
“Sleep tight, my
dear… I’ll cover you, Zweeth.” Bisik Kent lembut. Ada semburat merah
terlihat dipipi Zweeth saat itu, ia merasa sangat tersanjung. Mereka berbaring
saling berhadap-hadapan, saling menatap lembut satu sama lainnya. Kent
menepiskan semacam benang yang menempel pada didadanya Zweeth, tanpa sengaja
jemarinya menyentuh sepasang bukit kembarnya Zweeth yang tersembul sebagian.
Kent mendadak kikuk dan merasa bersalah. Ia khawatir Zweeth akan marah
kepadanya dan berpikir Kent bukanlah seorang pria yang sopan.
Namun reaksi Zweeth tidak seperti yang
dipikirkan oleh Kent. Zweeth malah terlihat tersipu-sipu malu dan menunduk. Ada
rona merah dipipinya. Kent sangat terpesona oleh kecantikan Zweeth yang alami. “Sungguh
indah makhluk ciptaan Tuhan yang tengah berada didepanku, am I dreaming?
Please, don’t wake me up…” Batin Kent.
Dengan mengumpulkan segenap
keberaniannya, Kent memegang dagu Zweeth dengan lembut dan menatap dalam mata
Zweeth. Ada kepolosan dan ketulusan yang terpancar dari mata Zweeth. Dan, oh
Tuhan, kilatan cahaya itu… buat perasaan Kent semakin tak menentu. Ada rasa
ingin memiliki yang begitu besar di hati Kent. Ia ingin sekali melindungi dan
ingin menjadikan Zweeth seseorang yang sangat berarti yang akan menemani
hidupnya selalu sampai tiba saatnya ajal menjemput.
Kent untuk kesekian kalinya mencoba
mencari-cari manik-manik indah yang berpendar di mata Zweeth. Adakah Zweeth
merasakan hal yang sama dengannya? Kent terkesiap ketika mendapati hal itu
dimata Zweeth. Zweeth balas menatap dengan lembut dan semakin mempererat
genggaman tangan Kent. Jantung Kent semakin berdebar tak karuan, ia tengah
dilanda badai asmara!
Kent yang memang telah dirasuki hawa
panas birahi cinta cupid mulau memberanikan diri untuk menyentuh lembut dan
membelai mesra rambut serta pipi Zweeth. Zweeth terlihat pasrah dan menikmati
setiap mili sentuhan lembut yang diberikan Kent. Perlahan-lahan wajah mereka
terlihat semakin mendekat sehingga Kent bisa merasakan hangatnya hembusan nafas
Zweeth menerpa wajahnya. Kent tak bisa lagi menyembunyikan gairah yang
tengah bergemuruh di dalam dirinya, ketika ia menatap bibir indah
Zweeth yang sensual, ia terpesona.
Tiba-tiba saja Zweeth tersentak kaget
ketika ia merasakan jemari Kent menyentuh bagian tubuhnya yang sensitif, namun
ia tak bergeming. Ada rasa aneh yang menggelora didada dan perutnya bercampur
rasa takut. Namun rasa indah yang menyentak-nyentak birahi membuatnya
membiarkan jemari Kent membelai sepayang payudaranya. Tanpa sadar Zweeth
mendesah pelan menikmati sentuhan mesra Kent. Matanya mendadak sayu, menatap
Kent penuh dengan perasaan kasih.
Merasa tak ada penolakan dari Zweeth,
Kent akhirnya memberanikan diri untuk bertindak makin jauh. Perlahan dikecupnya
mesra bibir indah Zweeth. Zweeth merasakan satu hal yang belum pernah ia
rasakan seumur hidupnya, perasaan yang sangat sulit untuk diucapkan
hanya kata-kata namun mampu membuatnya melayang tinggi ke awan. Perasaan
apakah ini? Bahkan kali ini ia sama sekali tak membutuhkan bantuan sapunya
untuk bisa membuatnya terbang. Sungguh fantastis!
Sekejap, kedua insan yang telah terkena
bisa dari panah Dewa Asmara tersebut telah tenggelam kedalam dunia lain yang
pernuh warna-warni cinta. Zweeth memejamkan matanya menikmati setiap rasa yang
menggebu dihatinya, ia ingin tenggelam dalam rasa itu. Sementara Kent
berusaha memberikan kebahagiaan terhadap pujaan hatinya. Didekapnya mesra tubuh
Zweeth dan menciumnya dengan penuh gairah. Mereka saling memagut, bergumul
memadu kasih dan cinta yang telah lama terpendam. Bibir dan lidah mereka saling
bertaut, perlahan-lahan keringat pun mulai merembes dan membasahi tubuh mereka.
Zweeth merasakan dirinya telah melayang sampai ke bulan, tetapi tak
bersama Bunny, kelinci kecilnya.
**********************************
Jam 3 dini hari. Udara dingin dan
titik-titik embun telah membekukan bumi beserta isinya. Namun dua insan yang
tengah dimabuk asmara itu tengah bermandikan peluh, tak terpengaruh oleh
dinginnya udara malam. Dinginnya dinding kamar peraduan pun menjadi saksi bisu
dari ‘sauna’ mereka. Seulas senyum bahagia terukir disudut bibir mereka,
terlelap dengan mimpi indah yang baru saja mereka jelang.
**********************************
Tidak ada komentar:
Posting Komentar