By: Naomi
Malam ini tak seperti biasa, dinginnya
Sepintas dicobanya mengintip jendela BMG. Menurut ramalan cuaca mereka, malam ini cuaca kota seharusnya berawan (Akhh… Manusia! Sepintar-pintarnya mereka, tetap saja tidak akan pernah bias memprediksi segala sesuatu yang sudah menjadi kehendakNYA). Melalui sudut mata diliriknya jam yang ada dipojok bagian bawah komputernya, sudah dini hari. Wah! Dia lupa, kalau ternyata seharian ini perutnya belum diisi apa-apa. Untuk menjinakkan orkestra dilambungnya, dia harus terjun lagi dan bergelut dengan perabotan dapur. Maklum, resiko hidup sendiri. Inilah salah satu penyebab mengapa dia sering lupa untuk memenuhi kewajiban, dalam memelihara ternak-ternak yang ada diperutnya.
Membayangkan kerepotan di dapur, akhirnyaKent berusaha kembali mengalihkan perhatian dan konsentrasinya terhadap satu-satunya project yang sudah dua minggu ini sanggup membuat malam-malamnya larut dalam dunia yang bagi orang kebanyakan nampak tidak nyata. Hmm… Lumayan! Beberapa point yang sebelumnya sempat membuat kepalanya hendak meledak, sudah mulai bisa dipecahkannya satu-persatu. Sejenak dia mencoba memikirkan langkah selanjutnya yang mesti dikerjakan. Blank! Otaknya sama sekali tidak mau diajak kompromi. Tak satupun ide baru yang mampir kedalam kepalanya.
Membayangkan kerepotan di dapur, akhirnya
Setelah termenung beberapa saat kemudian , dicobanya untuk menyalakan sebatang Mild, berharap ide-ide brilliant akan segera muncul keluar. Namun nihil! Usahanya tersebut tak membuahkan hasil meski sudah dua batang Mild yang habis dihisapnya. Isi kepalanya sudah terlanjur suntuk oleh rasa gerah yang mengganggu konsentrasinya.
Dalam bimbang, dia mencoba menikmati kepulan demi kepulan asap yang menemaninya dalam kesendirian. Tiba-tiba saja alam bawah sadarnya mulai menangkap suara-suara asing yang mengganggu pendengarannya. Suara misteri itu begitu menggema ditelinga. Semakin lama semakin dekat menghampiri. Sejenak dia terdiam, mencoba untuk mendengarkannya dengan seksama. Tatapannya kosong memandang layar monitor yang terpampang dihadapannya, jidatnya berkerut-kerut kebingungan. Tangannya menggaruk-garuk kepala yang sebenarnya tidak gatal.
Tanpa sengaja sudut matanya menangkap ada secercah cahaya yang berkelebat.
“Apaan, tuh!” Pikirnya spontan. Sontak dia langsung berdiri penasaran, mencoba menghampiri asal muasal datangnya cahaya tersebut. Namun terlambat! Cahaya tadi sudah terlanjur lenyap!
Masih dengan ekspresi wajah yang penasaran, dia kembali duduk disinggasananya yang sudah tidak empuk lagi. Kepulan asap dari batang yang ketiga yang baru saja dikeluarkan, membuat nafasnya jadi tersedak ketika dirasakannya ada suatu benda tajam yang menusuk pantatnya.
“ADUHH…!!!” Dia terlompat kaget.
“Apa lagi, nih!” Gumamnya sambil menjumput satu benda yang ternyata sebuah jarum yang menancap dibagian pinggir singgasananya.
Disaat bersamaan, tampak kembali secercah cahaya putih yang berkelebat tadi. Kali ini, Kent benar-benar tidak mau lagi kecolongan untuk yang kedua kalinya. Meskipun dengan perasaan yang sedikit merinding, namun dengan sigap diikutinya arah perginya cahaya tersebut. Ternyata nasib baik tengah berada dipihaknya. Di pojokan loteng rumah miliknya, terlihat ada sesosok makhluk jelita berpakaian ala gipsy yang tengah mengawang, menatapnya dengan penuh kehangatan. Sebelah tangannya memeluk seekor kelinci putih, dan yang sebelahnya lagi memegang gagang sapu yang terselip di antara kedua pahanya. Sambil tersenyum, dia mulai melayang mendekati Kent . Sejenak Kent terbius dan terpana menatap keindahan yang hadir dihadapannya.
Setelah berdekatan, tanpa sungkan-sungkan gadis jelita itu langsung mengecup lembut kedua pipinya. Diambilnya jarum yang ada disela jepitan jemari tangannya Kent .
“Ini punya kami…” ujarnya sambil tersenyum.
“Saat terbang tadi, tanpa sengaja benda ini terjatuh dari saku bajuku. Maaf, sudah mengganggu dan mengagetkanmu dengan kedatanganku. Aku harus segera pulang dan mengembalikan kelinci ini kembali ke bulan…” ucapnya manis.
Ketika untuk kedua kalinya gadis jelita itu mengecup lembut kedua pipinya, Kent masih saja tak bisa berkata apa-apa. Dia seperti terbius, diam terpana, menyaksikan gadis gipsy itu yang dengan secepat kilat kembali melesat ke udara. Makin lama semakin mengecil. Dan kemudian berbentuk titik dan menghilang ditelan gelapnya malam.
***************

Tidak ada komentar:
Posting Komentar