The Fairies’ Tale In The Dark Town” (Part. 8)


“The Fairies’ Tale In The Dark Town”
 (Part. 8)
By: Naomi

TERROR 2
“The Call…”

Tubuh mereka saling bersentuhan, saling bergesekan, seakan-akan saling berlomba mencari kebahagiaan dalam kehausan dahaga cinta. Mereka begitu terhanyut dengan permainan surga dunia anak cucu Adam hingga tak lagi memperdulikan apa-apa lagi. Pakaian mereka pun acak-acakan, kaos yang dikenakan Bintang telah terlepas begitu saja dan tercampak entah kemana menampakan sepasang dadanya yang bidang dan kokoh. Sementara semua kancing kemeja Nayla yang juga telah terbuka menampakkan tubuh bagian atasnya yang padat dan ramping dengan tali bra yang menggantung lemas disamping bahunya.

“The Fairies’ Tale In The Dark Town” (Part. 7)



“The Fairies’ Tale In The Dark Town”
 (Part. 7)

By: Naomi


TERROR I
      “And so the Swans’ dance…”


Cuaca malam itu begitu cerah, tak ada sedikit pun awan yang menyaput sinar rembulan yang memancar indah. Kerlap-kerlip bintang yang bertaburan diangkasa membuat malam itu terasa sangat sempurna. Sesekali terdengar suara kodok meningkahi riuhnya nyanyian jangkrik. Hembusan angin malam menimbulkan orkestra daun yang bergesek diantara pepohonan. Udara   hangat terasa menyelimuti dan membelai mesra kulit sepasang insan yang tengah berbaring direrumputan hijau itu, sembari menatap takjub akan keindahan lukisan malam Sang Pencipta. Puncak, whadda perfect summer night camp at backyard!

RAPUH


RAPUH
(…Mengenangmu…)

By: Naomi

Gerimis kotamu yang menemani
Di iringi kilat yang menyambar indah
Senja menguning mengulum malam

“The Fairies’ Tale In The Dark Town” (Part. 6)



“The Fairies’ Tale In The Dark Town”
 (Part. 6)



By: Naomi

KHALISA 4

“I Will Survive!”

“Kak, ada apa? Kenapa kakak jadi bersedih?” Tegur Nayla membuyarkan lamunan Khalisa.

“Aku… Ahh… Nggak ada apa-apa, adik… Aku nggak kenapa-kenapa…” Tepis Khalisa tersenyum seraya menyeka sudut-sudut matanya yang berkaca-kaca dengan selembar tissue.

LONGING


LONGING



By: Naomi

The cloudened stars in my heart

When the night falls recalling

of  stopping all my peaceful heart

FOR MY BABY BOY

          CERITA UNTUKMU, ANAKKU…



Two tiny feet,
That wave in the air...
Two tiny hands,
That tug at your hair..
And an adorable little face,
A bundle of joy to love & embrace.
A cute baby boy
To cuddle and squeeze,
To pamper and play with
And bounce on your knees...

“The Fairies’ Tale In The Dark Town” (Part. 5)



“The Fairies’ Tale In The Dark Town”
 (Part. 5)


By: Naomi


KHALISA 3

Fathir; “When You’re Gone…”





Dihari yang sama,


Entah mengapa kali ini Fathir begitu bersikeras hendak mendaki gunung diam-diam tanpa sepengetahuan Khalisa. Meskipun ia tahu, Khalisa takkan pernah lagi mengizinkannya mendaki gunung. Hal itu juga telah diutarakannya kepada Bowo—salah satu sahabatnya— beberapa hari yang lalu. Namun Bowo pun ternyata sependapat dengan Khalisa, ia juga melarang keras Fathir. Mengingat sebentar lagi merupakan hari pernikahan para sahabatnya, Bowo berpikir alangkah Fathir menyiapkan diri se-optimal mungkin.


“The Fairies’ Tale In The Dark Town” (Part. 4)

“TheFairies’ Tale In The Dark Town”
 (Part. 4)
By: Naomi
Khalisa 2
“THOU CONVERSATIONS & FLASHBACK MEMORY”
“Jadi kakak bukan mantan pacarnya? Tapi mengapa komentarnya kak Khalisa bisa seperti itu, ya?” Tanya Nayla siang itu saat mereka lunch bersama Khalisa di sebuah café yang berada dikawasan Setia Budi, tak jauh dari kantornya Khalisa. Khalisa tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.  

“The Fairies’ Tale In The Dark Town” (Part. 3)



“The Fairies’ Tale In The Dark Town”
 (Part. 3)

By: Naomi

KHALISA 1

“GOODBYE BATAVIA CITY…!”

Last February 2010. Diketinggian 3000 kaki dari permukaan laut, diatas awan didalam burung besi, Tokyo’s destination.



Pesawat terbang itu melaju tenang di atas sana, sesekali terlihat berguncang akibat getaran udara yang ditimbulkan. Cuaca sangat tak menentu, sedang tak bersahabat. Seorang perempuan muda cantik berwajah campuran— Jepang-Canada-Indonesia—tengah duduk termangu disalah satu kursi penumpang dipesawat tersebut, matanya memandang nanar jauh keluar jendela. Wajahnya yang cantik terlihat murung dan sendu, seraut kesedihan yang teramat sangat tampak membias disana. Sesekali terdengar helaan nafas berat, memancing tanda tanya penumpang lain yang duduk bersebelahan dengannya.

AND THEN I SEE YOU AGAIN (Here, There and Everywhere)




AND THEN I SEE YOU AGAIN
(Here, There and Everywhere)


By: RC. Sukito


Friday night, at 8:05 PM


Toyota Land Cruiser hitam itu meluncur cepat diheningnya malam yang basah oleh derasnya hujan. Cahaya kilat yang menyambar sesekali menerangi langit malam, seperti sebuah lampu flash raksasa milik Sang Penguasa yang sedang mengabadikan potret kehidupan anak manusia.  Suara mesin mobil itu harus menyerah kalah pada deru angin yang mengamuk malam itu. Kuatnya terpaan angin seolah memuntahkan semua kepenatan kota sepanjang hari ini. Air hujan yang jatuh menghantam keras permukaan mobil menimbulkan suara gemericik yang sangat memekakkan telinga.