MISTERI POHON JAMBU DIDEPAN RUMAH_Bag. 2


MISTERI POHON JAMBU DIDEPAN RUMAH
 By: Naomi


Kisah sebelumnya:





Aku ketakutan setengah mati ketika menyadari makhluk apa yang tengah menindih tubuhku! Sosok yang sangat menakutkan, dengan tubuh tinggi besar dan hitam legam. Perutnya buncit berlipat, disekeliling pinggangnya ditumbuhi rambut-rambut panjang lebat yang menyerupai jerami.  Rambutnya panjang, gimbal dan terjuntai kedepan. Matanya besar, merah manyala dengan pupil segaris menyerupai pupil mata kucing. Ia menyeringai dan tertawa lebar diatas tubuhku, menampakkan giginya yang besar-besar dengan taring-taring tajamnya yang mencuat keluar. Tawanya begitu besar dan menggema diseluruh ruangan.


(Bagian 2) 

 Lelah rasanya diriku ini menjerit-jerit histeris minta tolong, namun tak ada satupun orang yang bisa  mendengarku. Bahkan aku sendiripun juga tak bisa mendengar jeritanku! Akhirnya ku pasrahkan diri kepada yang Maha Kuasa. Terus saja kulantunkan do’a sambil berusaha melepaskan diri dari cengkraman dan tindihan tubuhnya. Entah yang keberapa kalinya ayat kursi dan Al-Fatihah itu kubaca, ketika tiba-tiba saja tubuh ini mempunyai satu kekuatan yang sangat dahsyat hingga bisa membuat makhluk seram itu terpental menyingkir.  Jin kafir ─begitu nama makhluk itu kunamakan─ itu langsung terlontar dan tiba-tiba saja menghilang. Aku langsung merasa terhempas dan duduk tegak ditepian tempat tidur. Sekujur tubuhku bersimbahkan keringat dingin. Tak urung aku mengucapkan lafadz syukur berkali-kali terhadap Allah, ternyata Dia masih sayang kepadaku.


“Kejadian ini bukan sekali-dua kali. Makhluk itu terus saja muncul dipertigaan malam dan selalu menghilang saat adzan subuh berkumandang. Selama itu pula aku selalu didera perasaan takut dan selalu mengucap ayat-ayat suci ketika dia mencegkramku lagi. Dan kejadian hari ini genap sebulan dia menghantui kamarku.”


Dengan perasaan yang lebih tenang, kucoba lagi memejamkan mata ini. Sesungguhnya aku masih takut, tapi aku percaya pada kekuatanNya. Ku rubah  posisi tidurku. Kaki yang tadinya berada di ujung ranjang sekarang berganti tepat dengan posisi kepalaku tadinya. Dan akhirnya akupun bisa tertidur pulas. Makhluk itu tak pernah datang-datang lagi setelah aku merubah posisi tidurku.

“Alhamdulillah…”

            Rasanya belum cukup aku tidur dua jam, telingaku kembali menangkap suara berisik dari luar, dari teras rumahku. Tidurku jadi terganggu dan kembali membuka mata serta memasang pendengaran sebaik mungkin, mendengarkan dengan seksama. Tapi tiba-tiba saja suara itu berhenti. Aneh sekali! Sepertinya ia tahu kalau aku mendengarkannya.

            “Hhh… ya sudahlah…”

Kucoba lagi untuk memejamkan mata dan, heeeyy…! Suara itu terdengar kembali! Suara langkah kaki manusia! Langkah manusia yang mengenakan sandal bakiak. Mau tak mau otakku kembali berpikir keras. Siapakah gerangan tengah malam begini mondar-mandir diteras samping rumah yang bersebelahan dengan kamarku? Orang malingkah dia…??? Tetapi kalau benar dia maling, mengapa dia mengenakan sandal bakiak dan berjalan mondar-mandir? Bukankah hal itu hanya bikin ribut saja? Atau jangan-jangan pembantuku? Ah, tidak mungkin! Ngapain pembatuku malam-malam keluar rumah dan berjalan mondar-mandir diteras? Ahh, ada –ada saja…

            Dengan bermodalkan rasa penasaran, kuberanikan diri melangkah keluar. Sejenak langkahku tertegun ketika sesampainya aku didepan pintu kamar. Tapi aku tak perduli, rasa penasaran yang memuncak ternyata sanggup mengusir rasa takutku. Aku ingin tahu, siapakah gerangan yang mondar-mandir diteras rumahku? Ternyata ruang tamuku cukup terang karena cahaya bulan yang menyinari saat aku membuka pintu kamar dan melongokkan kepala keluar.

“Bulan purnama…” desisku. Kutatatp jam yang tergantung di dinding. Waktu menunjukkan pukul 2 dini hari. Kulangkahkan kaki menuju kamar orang tuaku dengan maksud membangunkan mereka. Namun kembali kuurungkan niatku dan tertegun didepan pintu kamar mereka. Aku takut maling itu mendengar jikalau aku mengetuk pintu kamar orang tuaku, dan aku jg takut ia keburu kabur. Jadinya aksi heroik aku memergokinya bisa terancam gagal, dong! Tidak─tidak─tidak! Aku harus bisa mengatasinya sendiri!

 Entah dari mana datangnya keberanian itu, kuhampiri pintu depan ruangan tamu dengan mengendap-endap. Kusibakkan tirai jendela lebar-lebar dan mengintip keluar rumah. Kutolehkan kepala mengedarkan pandangan kearah kananku, tak ada siapa-siapa. Kupalingkan lagi kepalaku kearah kiri. Hmmm… Juga tak ada apa-apa, tapi mengapa tadi ada suara berisikdan ribut begitu?

See…? Tak ada apa-apa, kan?” Makiku pada diriku. Lihat, sunyi dan sepi!

“Dasar!” Umpatku lagi dalam hati sembari merapatkan kembali tirai jendela yang terkuak.
Namun pada saat yang bersamaan, aku jadi tertegun menatap kearah depan. Pandanganku berbenturan pada satu sosok yang tak kasat mata. Kulihat didepanku ada sosok tubuh seorang perempuan yang tengah tertawa menyeringai. Rambutnya awut-awutan. Kepalanya berdarah-darah. Perempuan itu sama sekali tak mengenakan busana. Setidaknya begitu, karena ia terlihat bertelanjang dada yang hanya ditutupi oleh rambut hitamnya yang terurai kedepan.

Tangan perempuan itu teracung kedepan. Bagaikan terhipnotis, aku hanya bisa menatapnya tanpa bisa berkata-kata. Aku terpukau dengan pemandangan aneh didepanku. Serta merta, tangan perempuan itu mengelus pipiku, aku merinding. Spontan kutepiskan tangannya, menutup tirai jendela dan berlalu kedalam kamar, seperti tidak ada kejadian apa-apa.

            Keesokan paginya, aku tersadar akan kejadian semalam. Tiba-tiba saja sekujur tubuhku merinding dan menggigil hebat. Wajahku pucat hingga Ayah menjadi bertanya-tanya. Akhirnya, kuceritakanlah semua dari A sampai Z pada Ayah. Ayah cuma mngangguk-angguk mendengar ceritaku.

 Tak butuh waktu sehari, tiba-tiba saja Ayah memanggil seorang Kyai kerumah. Menurut penuturan Kyai itu, ada sekumpulan makhluk halus yang bersifat jahat tengah berdiam dipohon jambu yang ada dihalaman rumahku. Jumlah mereka sangat banyak. Dahulunya, makhluk-makhluk itu menghuni induk pohon jambu itu, tapi karena sudah tak ada lagi tempat, mereka ikut dan memilih pindah kepohon yang berasal dari pohon yang sama. Sementara kamarku sendiri merupakan tempat perlintasan jalan mereka, dan tempat tidurku menghalanginya. Maka karena itulah aku sering diganggu karena menurut mereka, aku telah mengganggu mereka.

Lain halnya dengan cerita sosok perempuan yang kujumpai dini hari. Selidik punya selidik, ternyata ia dibunuh oleh adik perempuannya sendiri pada tahun 1943 atas dasar iri hati. Perempuan itu lebih cantik dari adiknya, itu menurut kisahnya. Lalu, hubungannya denganku adalah perempuan itu ingin balas dendam, dia mengira bahwa aku adalah adiknya yang pernah membunuhnya. Kali ini, aku benar-benar ketakutan.

            Maka dilakukanlah ritual pengusiran. Sang Kyai berkomat-kamit mulutnya sambil menggenggam tasbih. Kemudian disiramkannya air kembang yang telah dipersiapkan, dan lalu menyuruh orang suruhannya untuk menebang pohon itu sampai selesai. Namun malam itu, ibunda jatuh terhempas dibekas tebangan pohon. Penunggunya marah! Dan ritual pun diulang kembali. Ternyata mereka minta dicarikan rumah yang baru! Maka, dipindahkanlah mereka ketempat lain. Dan setelah itu tidak ada lagi kejadian aneh.
           
******

Sudah sebulan lebih aku dapat menikmati tidur dengan nyenyak, setelah aku berinisiatif untuk pindah kamar. Tak ada lagi gangguan apa-apa. Aku lega! Tanpa takut dihantui kembali.

            Siang itu keadaan rumah lagi sepi, hanya ada aku dan seorang pembantuku yang berusia separo baya. Kuhabiskan waktu dengan melukis gambar diruangan tengah, berhadapan dengan pintu kamar baruku. Namun, ketika lagi asyik-asyiknya melukis, tiba-tiba saja pintu kamarku berderit dan terbuka. Tak lama kemudian tertutup kembali dengan sangat eloknya. Seperti sedang ada orang yang tengah memasuki pintu kamar. Aku terkesiap, setengah melompat kuhampiri kamarku dan membukanya. Aneh! Tidak ada siapa-siapa…

            “Astaghfirullah…! Apa lagi ini?”


********

Padang, 1997



Tidak ada komentar:

Posting Komentar