AND THEN I SEE YOU AGAIN
(Here, There and Everywhere)
By: RC. Sukito
Friday night, at 8:05 PM
Toyota Land Cruiser hitam itu meluncur cepat diheningnya malam yang basah oleh derasnya hujan. Cahaya kilat yang menyambar sesekali menerangi langit malam, seperti sebuah lampu flash raksasa milik Sang Penguasa yang sedang mengabadikan potret kehidupan anak manusia. Suara mesin mobil itu harus menyerah kalah pada deru angin yang mengamuk malam itu. Kuatnya terpaan angin seolah memuntahkan semua kepenatan kota sepanjang hari ini. Air hujan yang jatuh menghantam keras permukaan mobil menimbulkan suara gemericik yang sangat memekakkan telinga.
Laki-laki itu mengemudikan mobilnya dengan santai, ia sama sekali tidak terpengaruh oleh keadaan alam yang mengamuk. Sambil bersiul pelan ia menghidupkan radio mobilnya. Dengan sedikit memajukan badannya, laki-laki itu mulai menekan tombol search. Menekan dan terus menekannya sampai ia menemukan gelombang radio kesukaannya. Lalu ia menyandarkan punggung di sandaran jok mobilnya yang nyaman, kembali memandang pada jalanan yang ada di depannya.
Ia tahu saat hujan deras seperti ini, biasanya kebanyakan orang enggan keluar rumah kalau tidak terpaksa. Dengan leluasa akhirnya ia bisa menggunakan keengganan dari kebanyakan orang tersebut untuk keuntungan pribadinya, mengemudikan mobil tanpa perlu fokus dan tak ada macet! Ia tersenyum sendiri. Dari tape mobil mengalun lagu Twist and Shout. Ia melirik sekilas pada tape mobil, lalu mengeraskan volumenya dan mulai mengiringi The Beatles menyanyikan lagu itu.
“Yeah… Yeah… You gotta shake it out baby now, twist and shout!”
Ia menggoyangkan badannya ke kiri dan ke kanan, menyanyi lebih keras dari sebelumnya, seolah ia tidak mau kalah dengan suara hujan yang turun semakin deras. Sambil sesekali melihat ke tepi jalan yang banyak ditumbuhi pohon-pohon besar, dan dibalik pohon-pohon besar itu terhampar tanah kosong berlapis rumput liar. Ia berkhayal, “Asyik juga kalo bisa berkemah di lapangan itu. Bikin api unggun. Wuih, kayak Winnetou dan Old Shatterhand! Keren! ” Batinnya sambil tersenyum. Dan sambil bersenandung kecil, ia kembali bernyanyi mengiringi The Beatles.
“Come on, come on, shake it out now, twi –“
Trrrrtt—Trrrrtt—Trrrrtt…
Seketika iPhone-nya bergetar dan berbunyi,
“Geez! Duh, siapa sih…?!?” Dengan enggan ia menjangkau iPhone-nya yang ia letakkan di tempat yang ada di belakang persneling mobil. Dengan sudut mata ia melirik screen yang berkedap-kedip, melihat siapakah gerangan yang meneleponnya.
“Iya Ma, ada apa?” Ujarnya sesaat setelah menekan tombol ‘Answer’. Jalanan didepannya mulai menurun. Ia sudah biasa melewati jalan ini setiap kali ia pulang ke rumah orang tuanya di akhir minggu, namun hujan yang turun kali ini membuat jalanan terasa lebih licin dari biasanya. Mobilnya meluncur turun dengan cepat meskipun ia tidak menginjak pedal gas sama sekali.
“Apa??? Gak mungkin, Ma! Itu sama sekali gak mungkin!” Teriaknya, “Oma baru aja nelpon aku dua jam yang lalu, beliau minta dibawain apple turnover kesukaannya! Mama bohong! Oma gak mungkin meninggal!” Tiba-tiba saja ia memutuskan hubungan telepon, melempar iPhone-nya ke tempat duduk di sebelahnya. Ia menghentakkan kedua tangannya keras-keras ke atas stir mobil. Ia menggumam, “Gak mungkin! Mama pasti bohong! Gak mungkin oma meninggal!” Ia menggeleng-gelengkan kepalanya, matanya mulai basah.
“Gak mungkin!” Lalu ia berteriak sekeras-kerasnya, “GAK MUNGKIN…!!!!”
Ia tidak peduli lagi pada apa yang terjadi di sekitarnya. Ia begitu terpukul setelah mendengar kematian omanya—yang mungkin—sangat disayanginya. Perlahan laki-laki itu menyandarkan kepalanya ke sandaran tempat duduk, pandangannya mengabur karena airmata yang mengalir disudut matanya. kemudian ia mulai terisak tertahan, badannya berguncang karena isakan tangisnya. Mobilnya masih saja ia biarkan terus meluncur di jalanan yang menurun dan lurus tanpa kendali. Pikirannya kalut, saat ini tak ada yang lebih mengganggu pikirannya selain berita tentang Omanya.
“Bagaimana mungkin!” Erangnya kuat sambil menggeleng-gelengkan kepala. Kesedihan yang mendalam buatnya lupa akan keadaan sekitarnya. Tak jauh di depannya jalan mulai berbelok tajam, dan tiba-tiba dari arah yang berlawanan di ujung belokan itu muncul mobil ekspedisi sarat muatan dengan kecepatan tinggi.
Mobil ekspedisi itu memberikan lampu isyarat berkali-kali, namun laki-laki itu sama sekali tidak menyadarinya. Akhirnya, mobil ekspedisi itu membunyikan klakson beruntun yang menimbulkan pekak ditelinga. Ia terlambung terkejut, kembali pada kesadaran penuh. Serta-merta ia menyeka matanya yang basah dengan lengan kemejanya dan berusaha memfokuskan pandangannya kembali.
Lampu mobil ekspedisi yang menyorot terang, membuatnya tidak bisa menguasai medan. Ia limbung dan kembali kehilangan kendali. Harusnya ia menginjak pedal rem untuk mengurangi kecepatan mobilnya, namun karena panik dan kalut, ia malah menginjak dalam-dalam pedal gas dan membanting stir ke kiri dan ke kanan. Ia memang bisa menghindari tabrakan dengan mobil ekspedisi itu, tapi ia tidak sanggup menghindari mobilnya untuk tidak menabrak pohon besar yang ada di depannya.
BRAAAAAKKK...!!!
Benturan kencang antara mobil dan batang pohon besar menimbulkan bunyi berderak yang ganjil. Ia berteriak histeris saat pecahan kaca menghantam wajah sebelum kepalanya terhempas keras membentur kemudi mobil. Dan semuanya kembali sunyi. Hanya suara hujan dan angin yang meramaikan suasana.
Sesosok tubuh terlihat terkulai tak berdaya didalam mobil sana, ia sama sekali tak bergerak. Badannya membungkuk ganjil di atas kemudi mobil. Terlihat darah segar mengalir dari kening, telinga, hidung dan mulutnya. Mungkinkah ia sudah mati? Atau… Hey…! Tunggu sebentar! Tiba-tiba tubuh itu bergerak pelan. Ia masih hidup! Ia masih hidup!
Laki-laki itu bergerak pelan. Erangan kesakitan terdengar dari mulutnya. Tangannya serasa ngilu, perlahan ia mencoba menggerakkan tangan memegang kepalanya, “Aahh…!!!” teriaknya pelan. Dengan sekuat tenaga laki-laki itu berusaha menegakkan tubuhnya sambil mengernyitkan dahi menahan sakit yang tak terkira. Seluruh persendian tubuhnya seperti lepas. Ia tidak mampu menggerakkan tangan kanan untuk membuka pintu, kakinya pun kebas dan mati rasa. Terasa lemah, sakit, dan tak berdaya. Perlahan ia menyandarkan tubuhnya dan mencoba memejamkan matanya.
Ia kembali tersentak saat sesuatu yang dingin terasa menyentuh kulit wajahnya. Waktu seakan berhenti, entah berapa lama ia sudah berada disana. Tertatih laki-laki tersebut berusaha membuka matanya yang terasa berat, sejenak mengerjap-ngerjapkan matanya. Kemilau cahaya putih bersih menyilaukan matanya membuat ia kembali menyipitkan matanya.
“Hei!” Serunya tiba-tiba pada dirinya sendiri.
“Aneh! Kok gue gak ngerasa sakit lagi, ya?” Sontak ia memegangi keningnya.
“Bersih, kemana darahnya?” Tanyanya bingung. Tanpa disadarinya, ia sudah berada di luar mobil. Ia bisa melihat mobilnya yang hancur menabrak pohon, dan… Dan di sana, di dalam mobil itu, ia bisa melihat tubuhnya terkulai tidak berdaya. Ia bingung,
“Kok bisa gue lihat badan gue sendiri? Apa gue udah—“ belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, tiba-tiba saja ada yang menepuk pundaknya. Seorang wanita cantik berpakaian serba putih. Rambutnya yang sebahu tergerai dengan indahnya, aroma melati menguar dimana-mana.
Sejenak ia tertegun, seolah ia tidak percaya apa yang dilihatnya. Sesaat kemudian ia mulai tersenyum, senyum bahagia saat ia tahu siapakah gerangan wanita yang baru saja menepuk pundaknya itu.
“Elu…?” Tanpa ia sadari sebutir airmata bergulir mengalir, ia menangis. Kali ini ia tidak menangisi kepergian Omanya, namun menangis karena bahagia. Bahagia bertemu dengan sosok yang ada di hadapannya sekarang. Sosok yang sangat dirindukannya selama bertahun-tahun. Sosok yang ingin dipeluknya saat ia merasa tidak sanggup lagi untuk melanjutkan hidup.
“Apa kabar? Gue kangen banget sama elu, lu tau kan?” Suaranya terdengar serak dan bergetar akibat tangisan haru yang tercekat ditenggorokannya. Wanita itu menganggukkan kepalanya dan tersenyum lembut.
“Lu jauh lebih cantik dari sepuluh tahun yang lalu, sungguh!” Ia menghampiri dan ingin memeluk wanita itu untuk melepas semua kerinduan dan kegalauan hatinya. Namun wanita itu lebih dulu memegang tangannya, dan berkata dengan lembut,
“Ikut gue,” Ucapnya pelan sambil menuntun tangan laki-laki itu berjalan di sebelahnya. Cahaya kemilau pun menghilang setelah mereka pergi. Tubuhnya terasa ringan. Berkali-kali dia melirik kearah wanita yang ada disebelahnya itu, sekedar meyakinkan diri bahwa ia tidak bermimpi. Segurat senyum bahagia menghiasi bibirnya. Di surga kah dia? Entahlah, apapun itu, yang pasti ia tak ingin dibangunkan saat ini.
Samar-samar raungan sirine mobil polisi terdengar silih berganti dari kejauhan. Cahaya lampu ambulans pun terlihat berpendar-pendar menghiasai langit dikegelapan malam yang basah. Sesekali laki-laki itu menoleh kebelakang.
“Kemanakah kita….???” Desisnya perlahan. Makin lama tubuhnya terasa makin ringan mengambang. Makin tinggi, makin jauh…
******************************
To lead a better life
I need my love to be here
Here, making each day of the year
Changing my life with a wave of her hand
Nobody can deny that there’s something there
There, running my hands through her hair
Both of us thinking how good it can be
Someone is speaking but she doesn’t know he’s there
I want her everywhere and if she’s beside me I know I need never care
But to love her is to need her everywhere
Knowing that love is to share
Each one believing that love never dies
Watching her eyes and hoping I’m always there
To be there and everywhere
Here, there and everywhere
Lennon & Mc Cartney
About R.C Sukito; A simply irressistable person.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar