”The Fairies’ Tale In The Dark Town” (Part. 2)

“TheFairies’ Tale In The Dark Town”
 (Part. 2)
By: Naomi
Keavy
“Hate & Revenge”
Batavia City, seputaran Selatan kota….
Disebuah ruangan tertutup, terlihat seorang perempuan berusia sekitar 35-an keatas tengah berjalan mondar-mandir dengan gelisahnya. Sebatang rokok terselip diantara jemarinya, sesekali ia menatap tajam kearah telepon yang tergeletak diam diatas meja kerja. Ya, benar! Dia tengah menunggu telepon penting dari seseorang.   
Tiba-tiba saja telepon itu berdering. Dengan sigap perempuan itu berjalan kearah meja kerjanya. Dihempaskannya tubuhnya bersandar pada kursi kerjanya yang empuk yang sengaja dibuat dari bahan pilihan. Ia berdiam diri sebentar, menatap nanar dan membiarkan telepon itu tetap berdering. Terlihat jelas perempuan itu tengah bimbang dan mengambil nafas panjang. Kerutan penuaan mulai terlihat jelas didahinya.
“Ya.” Dia menjawab telepon itu dengan tenang dan ekspresi wajah yang dingin.
“Bos…!” Terdengar suara berat seorang pria dari ujung corong telepon diseberang sana.
“Hmm... Laporkanlah hasil pengintaianmu, Fred!” Perempuan itu menyelipkan rokok filter tersebut dibibirnya, menghisapnya dalam-dalam dan menghembuskannya. Asap rokok itu terlihat mengepul dan mengambang diudara dan kemudian sirna. Sebelah tangannya memijit-mijit batang hidungnya, sementara di lain hal ia mencoba berkonsentrasi dan menajamkan pendengarannya. Meski ia terlihat keras untuk bersikap tenang, namun tak urung keringat dingin pun mulai mengucur membasahi dahinya.
“Aku sudah dapat info tentang pecundang itu, Bos! Dia tinggal didaerah Timur kota. Yeaahh… Sangat tidak sebanding dengan dirinya Bos lah, kalangan bawah Bos!” Alfred berbicara begitu berapi-api dan sangat melecehkan, sesekali terlihat semburan-semburan liur terlontar dari mulutnya membahasi corong handphone-nya. Perempuan itu hanya diam mendengarkan dengan seksama mendengar penuturan orang suruhannya. Namun seketika tampangnya berubah mengeras dan dingin, Urat-urat saraf yang ada didekat pelipisnya terlihat bergerak-gerak.
“Mau diapakan itu pecundang, Bos?” Tanyanya lagi ogah-ogahan.
“Habisi dia!” Perempuan itu menyundutkan bagian ujung rokok yang terbakar kedasar asbak kayu antik berukirkan naga, ia menekannya kuat-kuat. Ingin rasanya ia menghabisi orang yang dia rasa selama ini menjadi saingannya, seperti ia menekankan rokok filter itu ke asbak. Berserpihan, tak berbentuk.
“Bos….???” Alfred terlihat bingung. Menghabisi nyawa seseorang yang setara dengan orang-orang kalangan bawah amatlah mudah baginya. Namun ia sangat tidak mengerti apa yang diinginkan bosnya dari orang yang tingkat kehidupannya berada jauh dibawah bosnya itu? Orang yang tidak punya apa-apa dimatanya.
"Lakukan saja perintahku! Jangan membantah!" Bentaknya garang.
“Baik, bos! Tapi bagaimana dengan yang perempuannya?” Akhirnya Alfred menyanggupinya.
“Jangan pernah kau menyentuhnya! Dia milikku! Sedikit saja kamu mebuatnya tergores, aku sendiri yang akan menjadi malaikat mautmu! Mengerti kamu!” Sontak suara perempuan itu terdengar berang membentak yang membuat ciut nyali Alfred.
“Ba-baik, bos!”
“Nah, pergi kamu sekarang!” Perempuan itu memutuskan sambungan telepon. Dadanya terasa sesak, sesak oleh rasa hati yang bercampur baur. Cinta, rindu, dendam, amarah dan kebencian melebur jadi satu. Berawal dari satu rasa kecewa; penolakan!
Perempuan itu menyambar sebungkus rokok kretek yang ada didepannya, mengambil sebatang dan mulai menyalakannya lagi. Dalam sekejap, mulut perempuan itu berubah bak lokomotif yang mengepulkan asap terus menerus. Sesekali ia terbatuk-batuk, tersedak oleh asap rokoknya sendiri. Dia tau dokter telah menyuruhnya berhenti merokok, entah berapa banyak racun nikotin yang telah menggerogoti paru-paru dan tubuhnya. Namun ia sama sekali tak peduli, karna dia sangat membutuhkannya sekarang. Rokok bisa memberikannya ketenangan.
Perlahan-lahan kepalanya terpekur. Raut-raut wajah kelelahan terpampang jelas pada wajahnya yang terlihat kuyu. Air mukanya memancarkan kesedihan yang hanya bisa dia rasakan sendiri, karna dia takkan pernah mau berbagi rahasia hatinya yang terdalam pada siapapun juga.
Teringat kembali olehnya  saat-saat dimana dia masih bisa menikmati dan bercengkrama pada satu sosok wanita yang menjadi hiasan mimpi-mimpinya. Dia sangat menginginkan wanita itu untuk menjadi pendamping hidup melewati hari-hari hingga masa tuanya menjelang. Meski ia tau, saat itu disampingnya juga telah ada seorang wanita yang mendampinginya. Namun salahkah dia jika merasa jatuh cinta lagi pada seorang wanita yang usianya jauh lebih muda dari dirinya? Aku hanya manusia biasa yang tak pernah luput dari godaan cinta, pikirnya. Aku menyerah pada satu cinta ini, karna daya tariknya telah menyeretnya begitu kuat dan begitu dalam. Ia membuatku kembali merasakan indahnya dunia...
Tapi mengapa disaat-saat rasa cinta mulai memenuhi rongga parunya, bajingan itu datang kekehidupan orang yang dicintanya? Sementara ia tengah berusaha menarik perhatian wanita yang telah menjadi bintang kecil dihatinya. Teramat susah menarik simpatik Bintang Kecilnya itu, mengingat tabiatnya yang keras dan tak gampang untuk jatuh cinta. Berbagai macam cara telah dia lakukan, termasuk memutuskan hubungan percintaannya dengan Shilla—Baby Doll—nya yang telah bertahun-tahun hidup mendampingin dirinya.
Tidak…! Tidak bisa!!! Tak seorangpun yang boleh memilikinya! Dia milikku! Bertahun-tahun aku menunggunya, dia istri masa laluku!
PRANG…!!!
Terdengar keras lemparan suara sebuah benda yang terbuat dari beling dan membentur dinding, pecah berserpihan dan berserakan dimana-mana.
“Kau takkan bisa memilikinya…” Desisnya sinis. Ia menatap pecahan gelas yang baru saja dilemparnya ke dinding.
“Tak lama lagi, nasibmu takkan ubahnya bagaikan gelas itu!” Ia terlihat risau. Diambilnya sebuah berkas dalam map berwarna kuning lusuh dan membukanya. Didalamnya terdapat beberapa catatan dan sebuah foto yang diambil beberapa bulan  yang lalu oleh orang-orang suruhannya. Foto seorang laki-laki berwajah tampan dengan tatapan mata yang tajam, tengah melamun disebuah kios kecil. Raut wajah di foto itu terlihat sedih, seperti merindukan seseorang. Seseorang yang berada jauh diseberang sana.
“Akan kukejar kau  meski kau sembunyi dilubang tikus sekalipun! Kau takkan pernah kuizinkan untuk memilikinya! Meski dengan itu, aku harus mengirimmu ke neraka…” Perempuan itu tersenyum sinis, dan menyalakan lighter membakar foto itu. Perlahan-lahan, api mulai melalap foto itu dan menimbulkan sebuah siluet berwarna kuning keemasan.
“Setelah kau mati, aku akan mengambilnya lagi darimu… Hahahahahaha… Mampus, kau!” Perempuan itu tertawa menyeringai menatap foto yang habis dimakan api dan meninggalkan seonggok abu hitam diatas meja, dan perempuan itu pun perlahan hingga hilang tertelan udara.
Entah apa yang berkecamuk didalam pikirannya, ia mengepalkan tangannya dan meninju meja yang ada didepannya. Bughttt…!!!  Diedarkannya pandangannya dan tertancap pada sebuah foto yang tertata manis disudut mejanya, seorang perempuan berwajah campuran yang tengah tersenyum manis dengan bola mata yang indah dan jenaka.
Ahh… Bintang kecilku, tunggulah aku…” Seketika wajah perempuan itu kembali pias nelangsa. Tawa seram yang terdengar membahana keluar dari mulutnya telah berganti menjadi isakan kecil. Disambarnya sebuah pena dan mulai menuliskan sebuah nama. Nama yang telah menjadi racun dihatinya, nama yang telah menghancurkan hati dan kebahagiaannya. Nama yang telah membuat hati Bintang Kecilnya telah berpaling darinya. Sebuah nama yang menjadi mimpi buruk disetiap malamnya.    
“BINTANG, MATILAH KAU…!!!”
***********************************  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar