The Fairies’ Tale In The Dark Town” (Part. 8)


“The Fairies’ Tale In The Dark Town”
 (Part. 8)
By: Naomi

TERROR 2
“The Call…”

Tubuh mereka saling bersentuhan, saling bergesekan, seakan-akan saling berlomba mencari kebahagiaan dalam kehausan dahaga cinta. Mereka begitu terhanyut dengan permainan surga dunia anak cucu Adam hingga tak lagi memperdulikan apa-apa lagi. Pakaian mereka pun acak-acakan, kaos yang dikenakan Bintang telah terlepas begitu saja dan tercampak entah kemana menampakan sepasang dadanya yang bidang dan kokoh. Sementara semua kancing kemeja Nayla yang juga telah terbuka menampakkan tubuh bagian atasnya yang padat dan ramping dengan tali bra yang menggantung lemas disamping bahunya.


Namun satu kekagetan luar biasa terpancar dari raut wajah mereka. Tiba-tiba saja handphone Nayla yang terletak dikantong celananya bergetar, membuat dirinya jadi  tersentak kedepan tatkala Bintang tengah menjelajahi tubuhnya. Bintang yang saat itu berada diatas tubuhnya Nayla juga ikut terkejut dan reflek melonggarkan pelukannya. Sejenak mereka terlihat bingung dan saling pandang sampai getaran-getaran susulan lainnya handphone tersebut mengembalikan kesadaran mereka kembali.

Wajah Nayla terlihat jengkel dan kesal. Dengan tergesa-gesa ia kembali merapikan pakaiannya dan mengancingkan lagi celana jeansnya yang sempat melorot kebawah. Nayla merasa sangat gusar, disaat mereka tengah diselimuti dan terbuai oleh permainan cinta, ada saja yang mengganggu! Ocehan demi ocehan pun mulai terluahkan dari bibirnya yang sensual. Hujan cinta pun berganti menjadi hujan omelan, batin Bintang sambil tersenyum geli, meski ada segelintir kekesalan menyelinap diam-diam dihatinya.

Trrrrttt—trrrrttt… Trrrrttt—trrrrrttt…

“Angkatlah, Sayang… Siapa tau telpon penting.” Ujarnya menenangkan Nayla sembari menjangkau baju kaosnya yang tergeletak tak begitu jauh darinya. Nayla pun beringsut duduk dan menyandarkan punggungnya ke bahu Bintang yang telah terlebih dahulu bangkit darinya. Tiba-tiba saja kening Nayla  berkerut dan bibirnya mengerucut cemberut saat menatap ke layar handphone.

“Kenapa, Sayang? Ada masalah?” Tanya Bintang sambil merangkul Nayla dalam pelukannya, sebuah ciuman lembut mendarat dikeningnya. Dirapatkan kancing kemeja Nayla yang terbuka, dan kemudian memasangkan jaketnya ketubuh Nayla yang ramping. Ia tak ingin Naylanya masuk angin dan kedinginan. Sesaat Nayla merasa tentram mendapatkan sentuhan seperti itu, perasaan nyaman, cinta dan rasa perlindungan yang diberikan Bintang mampu mengenyahkan sedikit gundah dihatinya. Ia merasa tenang berada dalam pelukan kekasihnya yang tampan. Sedikit kehangatan mulai mengalir ditubuhnya yang mulai mencairkan kegalauannya.

“Sayang…” Tegur Bintang lembut ketika didapatinya Nayla masih saja menatap bingung ke layar handphone, mendiamkan panggilan masuk yang tetap bergetar.

“Ha…?”

“Kenapa tidak diangkat?” Lanjutnya lagi.

“Keavy…” Sahutnya lirih dengan nada bingung yang menyiratkan perasaan tidak nyamannya dia.

“Keavy?”

“Iya.” Jawabnya lunglai.

“Wanita yang telah kamu anggap sebagai kakakmu itu kan, Sayang?” Tanya Bintang hati-hati. Nayla mengangguk.

“Lalu? Mengapa tak dijawab panggilan darinya, Sayang?”

“Males!” Sungut Nayla ketus.

“Lho? Kan kalian sempat akrab dulunya?” Kejar Bintang bingung. Wanita, memang sulit dimengerti jalan pikirannya, batinnya.

Huh! Dulunya.” Nayla mendengus kesal.

“Tapi sekarang sudah tidak lagi. Dia sangat aneh menurutku.” Imbuhnya lagi. Nayla tercenung.

“Tapi Sayang, ya dicoba dulu diangkat telponnya. Kita kan nggak pernah tau, siapa tau dia ada sesuatu yang penting untuk disampaikan.” Bujuk Bintang sambil mengosok-gosok bahunya Nayla.

“Mau ya Sayang, yaa…” Rayunya lagi sembari mengusap-usap kepala Nayla. Nayla melotot menatap Bintang, namun sejuknya tatapan Bintang mampu mencairkan gunung es kebencian yang bercokol dihatinya terhadap Keavy. Dengan perasaan tidak suka, diturutinya juga saran Bintang. Sedikit bimbang dan penuh keragu-raguan, dia menekan tombol ‘yes’.

“Ya, hallo.” Nayla menjawab dengan ogah-ogahan seraya menatap tajam kearah Bintang, sejurus kemudian ia menekan tombol ‘loud speaker’ yang ada di hanphone. Ia ingin Bintang juga ikut  mendengarkan pembicaraan mereka.

“Hallo, Dik… Lagi ngapain?” Terdengar jawaban ramah suara serak seorang perempuan yang berusia sekitar 35 tahunan keatas.

“Hmm, nggak lagi ngapa-ngapain kak, lagi tiduran aja. Capek, barusan pulang kerja!” Sahut Nayla dingin dan ketus sembar memasang wajah jutek. Ia masih saja menatap Bintang.

Tiba-tiba saja Nayla menangkap seberkas sinar keterkejutan dimata Bintang, kilatan tajam yang aneh! Namun Bintang berusaha sedapat mungkin untuk bersikap tenang, seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Ia tahu, Nayla sedang memperhatikannya. Nayla pun jadi menduga-duga, ada apakah gerangan? Apakah Bintang mengenal Keavy? Tidak-tidak, mereka kan belum pernah bertemu, pikir Nayla. Tapi… tatapan Bintang tidak pernah seperti itu sebelumnya. Huft… teka-teki apalagi ini? Perhatian Nayla pun jadi buncah antara percakapannya dengan Keavy atau pertanyaan ‘ada apa dipikirannya Bintang’?

“Kok cepat banget tidurnya, Dik?” Sambung Keavy lagi.

“Hah?!?” Nayla tersentak kaget, kembali pada kesadarannya dari pikirannya yang baru saja terarah pada Bintang.

“Kenapa, Dik?”

“Nggak kenapa-napa, ini juga mau tidur. Kenapa memangnya!” Lanjut Nayla mendengus kesal. Apa urusannya dia mau tidur larut atau tidak? Gerutunya dalam hati. Dilihatnya Bintang masih saja menatap dirinya dengan tajam dan diam, wajahnya terlihat mengeras dan dingin. Dan sungguh, Nayla tidak menyukai diamnya Bintang kali ini. Dia mengenal Bintang dengan baik, jika kekasih hatinya telah bersikap seperti itu, pasti ada sesuatu yang mengganjal hati dan pikirannya.

“Mau tidur apa mau ditidurin….???” Tanya Keavy lagi sambil tertawa terkekeh—yang menurut Nayla kekehannya—seperti kakek sihir, jikalaupun ada —sangat memuakkan!


*To be Continue

Tidak ada komentar:

Posting Komentar