“GOTCHA!”




Dennis mengendap-ngendap macam detektif. Sesekali tubuhnya yang ramping menyelinap dibalik pohon flamboyan dan tiang bangunan. Asyik banget keliatannya. Sampai-sampai kalau disapa pun dia cuma bilang, “Sssttt…!” sambil meletakkan telunjuk dibibirnya.

Mungkin adegan ini rada-rada aneh buat kamu, demikian juga dengan penghuni kampus tekhnik waktu masih anyar-anyarnya makhluk ajaib yang satu ini. Rambut shaggy pendeknya selalu dibasahi pakai air, bukannya jelly. Jadi setiap pergantian mata kuliah, do’i selalu nyari kran air buat ngebasahi rambutnya. Fhiuh…!
 
 Cara jalannya aja aneka macam jenisnya. Kadang macam  detektif kayak pagi ini, kadang macam kutu loncat, kadang juga macam tukang obat. Tergantung mood-nya aja, dia kan orangnya moody banget gitu loh! Belum tingkahnya yang eksentrik dan lebih mirip orang syaraf itu. Yang suka teriak dikuping orang, yang suka ngejar-ngejar kucing pas jam nganggur lah. Tapi sekarang semua itu nggak aneh lagi buat jajaran kampus, malah seluruh penghuni kampus merasa bangga karena memiliki  spesies unik macam Dennis ini. Soalnya Dennis kan otaknya encer, lagi-lagi dosen nggak bisa komentar. Dennis kan selalu  serius kalo soal pelajaran. Tapi ya itu, kelakuannya yang aneh itu bikin orang pada nyengir karena keki.
Pernah nih suatu pagi,
“Denniiiiissss…!!!” Teriak Jovan hingga langit ketujuh lengkingannya. Dennis membalikkan badannya.
“Ada apa sih, Van? Kayak manggil copet aja”, gerutu Dennis sambil memijit-mijit kupingnya.
“Kamu yang matahin bolpenku ya?” Tanya Jovan serius.
“Iya…! Kok kamu tau seeh? Jangan-jangan kamu nyewa detektif ya?" Dennis balik nanya dengan tatapan takjub.
“Ah… Dennis! Itukan bolpen satu-satunya kenang-kenangan dari Sandra”, keluh Jovan.
“Aku tau, kok!”
“Lalu kenapa kamu patahin?”
“Aku kan nggak sengaja. Lagian seharusnya kamu yang minta maaf sama aku. Waktu bolpen kamu jatuh, terus keinjak sama aku, trus patah deh… tau nggak, waktu itu aku sampe kepleset segala lho!" Jelas Dennis antusias. Jovan mendelik.
“Iya deh… Aku juga salah kok… Sorry ya?” Dennis memasang tampang memelas.
“Waktu kamu hilangin kasetku dulu, aku masih bisa terima. Tapi ini dari Sandra Dennis, Sandra…!” ucap Jovan kesal.
“Aku tau. Lagian aku kan udah bilang sorry lagi, ya jangan pasang tampang sangar gitu dong ah! Nyeremin tau… Aku tau kok gimana cintamu sama Sandra, tapi kamu kan udah diputusin sama dia. Mestinya kamu perlu berbangga diri lho Van, soalnya aku punya niat baik nih sama kamu”, Dennis memasang ekspresi wajah yang paling manis didepan Jovan.
“Apa?” Tanya Jovan. Dennis mengulurkan sesuatu dari tasnya.
“Ini… Sebenarnya sih aku dah nyariin yang persis sama dengan kamu punya, aku sampai muter-muter lho nyarinya. Tapi karena nggak ada yang jual jadi aku beli yang ini aja deh! Nih, buat kamu!” Jelas Dennis sambil menyodorkan sebuah pulpen.
“Tapi ini kan pasaran sekali, Dennis…??? ‘Pilot’ lagi! Bahkan petugas pencatat listrik pun pake pulpen yang sama kayak ginian… Gimana seh, looo…!” Protes Jovan.
“Ahh… Akhirnya… Aku lega kalo kamu senang, Van”, ucap Dennis nggak nyambung, seraya meletakkan pulpen itu di kantong baju Jovan bagian atas. Jovan melongo.
“Senyum dong, Van… Itu kan pemberian dariku”, kemudian Dennis berlalu pergi. Tapi baru dua langkah ia sudah berhenti lagi. Jovan masih saja memperhatikannya. Tiba-tiba saja Dennis berjingkrak-jingkrak sambil meneriakkan Give It Away milik Red Hot Chilly Peppers. Yeah, itulah Dennis yang syaraf… Hahahahaha….
Dennis sudah berada di depan lokalnya, nih!
“Pageee…!”, teriaknya kenceng banget.
“Pageee jugaaa!” Teriak anak-anak kurang kompak. Kurang latihan kale… Tapi masih mending lho, soalnya pernah nih disuatu pagi pas Dennis lagi teriak ‘pagi’, tuh orang nggak ada yang nyahutin. Ehh… dia teriak lagi yang tiga kali lebih dahsyat. Sampai-sampai kaca jendela bergetar saking kencengnya. Bahkan getarannya terasa sampai radius dua kilo meter, busyet dah! Dennis mendekati kedua sohibnya, Chia dan Olla. Mereka akrab sekali lho! Mungkin karena mereka masih temen lama, satu kelas pas TK tuh…
“Denn, tadi ada yang nyariin kamu lho!" Cerita Chia.
“Oh yeah? Siapa?” Sahut Dennis cuek.
“Edward, anak semester 6. Lokal 3E. Anaknya keren banget lho! Dan yang lebih kerennya lagi, do’i nitip salam buat kamu”, lanjut Olla. Dennis terdiam beberapa saat.
“Siapa tadi? Edward ya? Anak 3E?” serobot Dennis. Olla dan Chia mengangguk serempak. Sesaat kemudian Dennis berlari keluar.
“Mo kmana, Dennis?” sergah Chia.
“Ngasih salam balik…!” Teriak Dennis.
Setelah lari beberapa saat, Dennis berhenti dan menepuk keningnya. Kemudian ia mengendap-ngendap macam detektif. Dan sekarang, Dennis  tengah berdiri di depan lokal 3E, celingak-celinguk kiri-kanan.
“Haiiii…!” Teriaknya kenceng. Semua makhluk bertelinga didalam kelas itu merasakan getaran aneh menyerang gendang telinga mereka.
“Ada yang namanya Edward, nggaaaak…???”Tanya Dennis semangat.
“Nggak ada, lagi keluar!” jawab seorang cewek manis bete.
“Bisa nitip pesan?”
“Bisa.”
“Bilangin Edward ya, salam balek dari Dennis dari lokal 1E, makasih!” Cewek manis itu mengangguk.
“Daaa…!!!” Teriak Dennis lagi lebih semangat. Semua terlonjak kaget, rambut disekitar telinga pun sampe berdiri saking dahsyatnya. Dennis membalikkan badannya dan berpapasan dengan seorang cowok.
“Kamu…”, mata Dennis terbelalak kagum. Cowok itu ke GR-an dipandangi lekat-lekat sama cewek secakep Dennis. Sampai-sampai kaki kirinya masuk tong sampah saking senengnya.
“Mirip yang di TV,” ucap Dennis takjub!
“Siapa? Superman?” Balas cowok itu.
“Bukan, Doraemon…” ujar Dennis masih terpesona seraya melangkah pergi. Cowok itu masih belum nangkap. Beberapa detik kemudian ia mengumpat-ngumpat. Dasar telmi!


****************************************


“Dennis, dapat salam dari Edward.” Ujar Olla.
“Lho! Kemaren kan udah?”
“Iya, tapi hari ini dapet salam lagi Dennis, dari dia…”, lanjut Chia.
“Kemarennya lagi, lagi dan lagi? Masa tiap hari salam mlulu, bosen ah nyamperinnya!” Keluh Dennis.
“Salah kamu sendiri, ngapain pake nyamperin ke lokalnya segala?”, ledek Chia.
“Heh! Kamu tau nggak sih…?” Celetuk Dennis.
“Apa?”
“Aku belum tau lho yang namanya Edward.” Terang Dennis lagi.
“Hah!” Chia dan Olla ternganga.
“Dennis…!” panggil seseorang dipintu lokal.
“Nah… itu dia yang namanya Edward…” bisik Olla.
“Gilaaa! Cakep banget!” Seru Dennis. Olla dan Chia hanya tersenyum ganjen. Dennis berjalan mendekat.
“Hai…” Sapa Edward sambil memamerkan senyum andalannya.
“Hai juga… Makasih buat salamnya”, Dennis tersenyum nyengir.
“Buat kamu…”, Edward menyerahkan setangkai mawar merah untuknya. Dennis pun terperangah, demikian juga dengan Olla dan Chia.
****************************************
Ada suatu yang aneh setelah kejadian itu. Mendadak Dennis berubah menjadi agak normal. Normal dalam arti kata cara jalannya udah nggak macam-macam lagi, udah nggak pernah bawa skateboard ke kampus meski lagi musim-musimnya. Lagian teriak-teriak waktu pagi juga udah jarang dilakuin. Acara ngagetin orang juga agak berkurang. Udah nggak mau lagi nyanyi-nyanyi didepan kelas ber-trio sama Chia dan Olla, kalo pas dosen nggak ada. Kalo pas jam kosong juga anteng aja dikelas atau diperpustakaan. Udah nggak nafsu lagi kalau liat kucing berkeliaran. Yeah… Sepertinya Dennis udah kehilangan keunikannya.
Anak-anak jadi merasa kehilangan. Tapi ada juga sih, yang mendukung perubahan Dennis itu. Soalnya mereka udah pada bosen harus korbanin jantungnya mereka tiap kali denger jeritannya Dennis yang kayak nenek lampir! Maka terjadilah pro dan kontra di seantero kampus. Jadi rame deh! Tapi kayaknya Dennis sa-bodo’ amat sama semua itu. Dennis makin menunjukkan tanda-tanda kenormalannya. Bahkan ia jadi sering kelihatan berduaan sama Edward. Dan hal itu dianggap sebagai alasan yang paling masuk akal sebab-sebab perubahan Dennis.
Sekarang sudah dua bulan lebih beberapa hari semenjak kejadian seru itu. Dennis lagi asyik duduk di café ditemenin Chia dan Olla. Mulutnya tampak sibuk bercuap-cuap penuh semangat.
“Kalian ingetkan, waktu itu aku lagi asyik-asyiknya jadi detektif?” Dennis memulai ceritanya.
“Jalan mengendap-ngendap, sembari ngupingin omongan orang. Naah… waktu itu secara nggak sengaja aku mendengar obrolan Edward and the gank. Sebenernya seeh sengaja, namanya juga nguping!” Dennis menyedot coke-nya. Olla dan Chia mendengarkan dengan penuh antusias.
“Trus aku jadi tau, kalo Edward tuh taruhan sama temen-temennya. Mereka pengen lihat kelakuanku kalo lagi jatuh cinta. Dan Edward yakin sekali kalo dia bisa bikin aku jatuh cinta sama dia. Yaa… kukerjain aja sekalian. Anggap aja detektif yang lagi nyamar. Eh, Edwardnya kepancing lho! Dia ngomong suka ke aku”, Dennis tertawa-tawa.
“Ternyata tugas menyamar itu susah sekali, lho! Aduuuh… rasanya badanku bisa kram semua deh, kalo ngejabaninya lebih lama lagi. Bayangin aja, dua bulan lebih aku harus ngerombak total penampilanku. Cara jalan yang dibuat-buat, ngomong yang manis-manis, nggak bisa nyanyi-nyanyi lagi… Ah, rese’! Rasanya badanku mo’ meledak waktu itu!”
Chia dan Olla mencibir dengan kompak.
“Ooo… Jadi selama ini kamu cuma pura-pura, toh?!?” Sahut Chia.
“Brengsek…! Knapa nggak kasih tau kita-kita?”, maki Olla menimpali. Dennis tertawa ngakak.
“Kamu udah maen rahasia-rahasiaan ya?” Chia menjewer telinga Dennis. Dennis masih saja terkikik.
“Jangan dijewer dong, ah! Ntar aku nggak mau cerita lanjutannya lagi, neeh!” protes Dennis. Chia mengalah dan melepaskan jawilannya.
“Trus gimana, Dennis?” serobot Olla penasaran.
“Puncak dari semua itu, pas ultahnya Kak Enya Sabtu kemaren lho! Untung aja dia mau diajak kerja sama. Waktu itu Edward ngajakin aku ke ultahnya Kak Enya, aku seh oke-oke aja… itukan  bagian dari rencana. Pas dijemput aku pake gaun warna biru, cewek banget deh kesannya! Langsung aja Edward ngeluarin rayuan pulo kelapanya. Huh! Dasar genit!” Dennis mencibir.
‘Naah, waktu dipesta, setelah Edward ngenalin aku sebagai pacarnya pada semua makhluk yang ada disitu, aku mulai melancarkan aksiku. Aku permisi ke toilet sebentar, terus aku ganti bajuku yang udah aku titipin ke Kak Enya. Senang deh bisa normal lagi. Aaaaa….!!!” Dennis menjerit kegirangan sambil mukul-mukul dadanya ala Tarzan. Olla dan Chia buru-buru nutup kuping.
“Aku balek lagi ke gayaku semula. Jeans belel yang full lobang, t-shirt, trus kemeja indies deh! Bisa dibayangin wajah Edward waktu itu, kayaknya dia mau meleleh saking kagetnya! Hahahahaha… Apalagi Kak Enya mintain aku ngramein acaranya. Ya udah, aku langsung aja nyanyi lagunya Garbage yang Paranoid. Aahhh… Pokoknya aku puas banget, deh!” Dennis berdiri dan melompat-lompat ala metal. Bibirnya yang sexy melantunkan Calcutta-nya Dr. Bombay. Enjoy sekali sepertinya. Chia dan Olla tersenyum lega, ternyata Dennis belum menjadi normal. Tiba-tiba saja Dennis menghentikan ulahnya ketika dilihatnya Edward berdiri tak jauh dari situ.
“Ed… Edward!” Dennis berteriak sambil melambaikan tangannya. Edward mengurungkan niatnya untuk menghindari Dennis.
“Aku pergi dulu ya…” kata Dennis pamit seraya berlari kearah Edward.
“Hey, kok nggak pernah kirim salam lagi seeh?” Ujar Dennis cuek. Edward cuma tersenyum kelimpungan. Dia rada nervous.
“Oh ya, gimana taruhannya? Kamu menang atau kalah?” Tanya Dennis. Edward mengeryitkan keningnya.
“Taruhan? Taruhan apa?”
“Jangan pura-pura tolol, deh… Itu taruhan antara kamu, Micky dan Alang. Yang pengen lihat kelakuanku kalo lagi jatuh cinta, gitu loh…!” Dennis mengingatkan.
“Heh…?!?” Edward mendelik kaget.
“Gimana aktingku? Meyakinkan, bukan? Anak-anak pada ketipu, lho! Bahkan mama dirumah sampai bikin acara selamatan segala saking senengnya. Dipikirnya aku sudah berubah kali… Tapi aku masih tetap Dennis yang sama kok, hihihihi…” Dennis terkikik geli.
“Jadi kamu udah tau semuanya?!!?” pekik Edward tak percaya.
“Iya. Kamu juga ketipu… Aku masih normal kok, normal dalam kacamataku, siiih… Yihaaa…!!!” Dennis melompat-lompat, kali ini ala Indian menang perang. Edward mendadak lemas.
“Tampang kamu kok mendadak seram gitu, sih? Oh iya, kamu kan kalah nih critanya, emang taruhannya berapa sih? Ck-ck-ck…” Dennis menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Nggak nyangka… Ternyata aku begitu berharga…” gumam Dennis GR.
“Kok kamu bisa tau, sih? Pasti ada yang berkhianat, neh…!” Edward menduga-duga.
“Nggak ada, kok… Aku tau ndiri”. Dennis tersenyum penuh kemenangan.
“Jangan panggil aku Dennis kalo aku bisa dikerjain orang seenaknya…” lanjutnya lagi.
“Jadi kamu udah ngerencanain semua ini?” Tanya Edward nelangsa.
“Ya-iyalah… Impas, kan? Satu sama…! Kamu pikir kamu menangkan? Hihihihihi… Makanya, jangan terlalu pede dong…” Dennis cengengesan.
“Iya deh… Sorry, ya… Pada dasarnya memang aku yang salah, kok…” sesal Edward.
“Nggak usah minta maaf, deh… Kita kan impas. Eh, tampang kamu kok menderita kayak gitu, sih? Don’t worry be happy, deh… Semua hadiah dari kamu pasti aku balikin, aku catet kok semuanya.” Hibur Dennis.
“Ah jangan, itukan buat kamu…” tolak Edward.
“Jangan nolak, dong… Ntar aku marah, neeh…!”. Bentak Dennis.
“Setrah kamu, deh…!” Edward pasrah.
“Rasanya nggak percaya deh, kalo kita pernah pura-pura pacaran… Pake kencan segala lagi, gombal banget, yak…!” sungut Dennis. Edward mengangguk setuju.
“Oh iya, gimana kalo kita berteman?” Usul Dennis.
“Apaaa…???”
“Aku pengen tau gimana rasanya berteman dengan seorang playboy…
“Tapi aku bukan playboy…!” protes Edward.
“Nggak masalah, ayo kita rayain pertemanan kita… Gimana kalo kita beli es kelapa muda yang ada di café depan kampus? Katanya anak-anak sih,  enak… Murah, lagi! Aku traktir, deh… Kamu kan kalah taruhan…”  Ajak Dennis.
“Tapi…”
“Aku tunggu sehabis jam ini, ya…!” Dennis membalikkan badannya dan berjalan bak ballerina. Edward tersenyum. Tiba-tiba saja Dennis berhenti sejenak disamping Awan.
Aaaaaaaa….!!!!!” teriaknya lantang, persis ditelinganya Awan. Awan sampai terjongkok-jongkok saking kagetnya. Dennis malah ikut-ikutan membungkuk disamping Awan,

“Nyari apaan, Wan…?” tanyanya innocent. Edward tertawa dari jauh mellihat ulahnya Dennis. Ternyata semua predikat ‘Ter’ yang selama ini disandangnya gugur oleh seorang Dennis. Ahh… Dennis—Dennis…!


***THE END***

*NN, 97*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar