ANNA


“ANNA”
By: Naomi

Aneh! Itulah kesan pertama yang kutangkap ketika menjejakkan kaki untuk yang pertama kalinya dirumah itu. Rumah yang di cat berwarna putih itu kelihatan sepi, seperti tak pernah ditempati. Itulah rumah Sofie, teman sekampusku.

“Jadi lo tinggal disini, Fie?” Celetukku memecahkan kesunyian. Kuedarkan pandangan mata mengitari rumah tersebut. Ada bangunan bertingkat dua disebelahnya, namun masih dalam satu pekarangan rumah.

“Iya, Sha,” dengan susah payah Sofie menjejalkan anak kunci kedalam pintu tersebut.

            “Sendirian?” Tanyaku lagi.

            “Enggak, bareng kakak.” Klik! Terdengar bunyi pintu terbuka.

            “Mari Sha, ayo masuk.” Lanjutnya.

            Rumah itu tidak terlalu luas. Tapi menurutku cukup besar juga untuk ditempati oleh Sofie yang tinggal hanya berdua dengan kakak perempuannya. Tidak terlalu banyak perabot, hanya satu set sofa ruangan tamu beserta lemari pajangan yang dipenuhi keramik kecil-kecil. Ruangan tengahnya pun hanya dilengkapi dengan sederetan peralatan elektronik terbaru yang canggih, tanpa kursi, hanya dihiasi permadani biru yang lembut ditambah dengan bantal-bantal besar yang berbentuk persegi.

Namun ada satu pemandangan yang mengganjal mata. Ayunan santai itu, ayunan yang terletak bersebrangan dengan ruangan tengah rumahnya. Entah mengapa, perasaan aneh tadi mulai menggelayuti hati ini kembali. Tiba-tiba saja bulu romaku merinding dan perasaan dingin mulai menjalari tubuh.

            “Fie, apa kamu nggak takut tinggal berdua?” Ujarku sekedar mengeyahkan rasa aneh yang menghinggapi diri. Sofie berjalan menuju kamarnya yang kuikuti dari belakang.

            “Enggak tuh! Kan ada anak kost cowok juga,” jawabnya santai sembari melemparkan tasnya ketempat tidurnya.

            “Oh, jadi yang disebelah tempat kost, ya?” Tanyaku semangat. Sofie hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.

            “Eh, ada yang keren, nggak?” Tanyaku lagi sambil mengedipkan mata, sekedar melumerkan suasana hati yang diliputi perasaan ngeri. Dia tertawa ngakak.

            “Kenapa?” Selidiknya genit.

            “Yaa… siapa tau aja…” elakku sambil menghempaskan tubuh pada kasur yang empuk itu.

            “Hahaha… dasar! Emang satu belum cukup, apa?” Ledeknya.

            “Yee… orang cuma nanyain apa ada yang cakep gitu doang! Buat cuci mata, gitu loh!”

            “Hehehe… kirain… Udah, ah! Aku mau mandi dulu, gerah, nih! Lagian, aku jarang ketemu mereka. Pada sibuk, gitu… Oh, iya… anggap seperti rumah sendiri aja ya, Sha!” Jelasnya sambil berlalu masuk kedalam kamar mandi yang terdapat didalam kamar.

Kucoba untuk membiasakan diri dengan situasi. Namun aku heran dan berpikir, mengapa ayunan itu begitu mengganggu penglihatanku? Kucoba lg untuk lebih bersikap santai dan menyambar sebuah majalah demi melumerkan suasana hati yang tegang. Tapi udara panas dan rasa kering ditenggorokan memaksaku untuk mencari sesuatu yang segar.  Kulangkahkan kaki keluar menuju ke lemari pendingin yang terletak didapurnya yang bergaya modern itu sambil menggamit sebuah majalah Misteri. Aku haus!

Orange juice yang terdapat didalam, lemari pendingin itu sungguh menggugah hati. Kuteguk dengan segera setelah terlebih dahulu menuangkannya kedalam gelas. Namun baru beberapa tegukan, suatu kejadian aneh telah membuatku tersedak. Mataku tertegun menatap satu bayangan yang tak kasat mata melesat melintasi pintu kamar mandi yang terletak di ujung dapur tersebut. Wanita itu, dia menatapku! Aku terbirit lari ketika otakku kembali berfungsi setelah mencerna bayangan apa yang telah ditangkap oleh mataku. Sekarang baru aku tau perasaan aneh apa yang menghinggapiku. Penampakan!

Kututupi wajah dengan majalah yang sedari tadi berada dalam genggaman tanganku sambil duduk meringkuk ketakutan diruangan tengah tersebut. Namun perasaan takut mulai menggerayangiku kembali ketika secara tak sengaja mataku menangkap sebaris tulisan yang ada di majalah Misteri itu!

            “Sialan! Mistis banget, sih!” Umpatku kesal bercampur ngeri seraya melemparkan majalah tersebut. Kunyalakan TV setelah menjangkau remote yang berada tak jauh dari tempatku duduk. Volumenya kubesarkan. Sengaja! Biar bisa mengusir keteganganku. Perasaanku kembali berangsur tenang.

Ketika lagi asyik-asyiknya mengikuti sebuah lagu yang ditayangkan MTV, telingaku dikagetkan oleh suara berderit pelan yang keluar dari ayunan yang terletak tak begitu jauh. Reflek kepalaku menoleh dan mataku terpaku pada ayunan yang begerak perlahan, terayun sendiri. Samar-samar kulihat seorang bocah laki-laki tengah duduk diayunan tersebut. Kepalanya terpekur, seakan menatap lantai yang ada dibawahnya.

            “Astaghfirullah… ada yang aneh dengan rumah ini.”

***

Suasana kampus STBA Prayoga di siang itu terlihat begitu lengang. Kulihat Sofie tengah asyik duduk santai dibangku beton yang terdapat didepan ruangan dosen. Sesekali anak rambutnya melambai, dipermainkan oleh angin yang berhembus sepoi-sepoi.

            “Hai, Fie…! Ngapain bengong sendirian?” teriakku sambil berjalan menghampirinya. Sofie hanya melirikku dari sudut matanya dan tersenyum aneh. Ia tersenyum sinis. Kemudian ia menoleh kearah yang berlawanan, menatap aneh pada sosok laki-laki yang bernama Dean. laki-laki yang selama ini berusaha untuk menarik perhatian dan mendapatkan cinta Sofie.

            “Heh! Napa, lo?” Ujarku sambil menghenyakkan pantat duduk disebelahnya. Sofie menoleh menatapku, tapi ada yang lain dengan tatapan matanya. Aneh! Tak biasanya Sofie bersikap begini terhadapku. Sofie yang manja dan centil kenapa bisa tiba-tiba jadi cool gitu ya?

            “Eh, itu… laki-laki itu, siapa ya namanya?” Tiba-tiba saja ia mengajukan pertanyaan yang membuatku terheran-heran.

            “Heh?” aku menjadi kebingungan. Ku ikuti arah pandangan Sofie yang tertuju pada Dean.

            “Dia?” celetukku lagi. Sofie mengangguk. Keherananku semakin memuncak. Masa sih dia nggak kenal Dean yang hampir tiap malam ngapelin dia? Masa sih dia nggak ingat dengan Dean yang mau ngelakuin apapun demi cintanya terhadap Sofie? Waduh! Ada yang nggak beres nih!

            “Eh, lo ‘aman’ nggak, sih?” aku malah balas bertanya.

“Masa sih lo nggak tau dia?” Lanjutku lagi.

            “Eh–uh, itu… aku lupa,” jawabnya gugup. Kecurigaanku mulai bertambah. Aku ingin tahu ada apa gerangan dengan Sofie.

            “Lo ingat nama gue, nggak?” Selidikku.

            “Yaa—ingat… kamu…” Dia mulai kelimpungan menjawab pertanyaanku. Sekarang aku mulai mengerti.

            “Kamu siapa! Mana Sofie!” Desisku tajam. Dia semakin salah tingkah.

            “Aduh… kamu… aku… aku Sofie…” tangkisnya.

            “Jawab!” aku terus mendesaknya. Mungkin karena tidak tahan dengan desakanku, atau mungkin juga karena telah ketahuan, akhirnya ’dia’ mengaku.

            “Aku, Anna.” Ujarnya pelan, namun cukup untuk membuatku terkesiap hebat.

            “Apa!” Terlontar teriakan tertahan dari mulutku. Heran bercampur takjub. Aku tak percaya! Ini adalah pengalaman pertamaku berbicara dengan makhluk yang berasal dari lain dunia.

            “Ya, aku Anna. Penunggu rumahnya Sofie. Maaf tempo hari aku dan adikku telah membuatku ketakutan.” Jelasnya.

            “Ka—kamu… Adikmu… Hah…?!?” Aku tergugu.

            “Iya. Kami disana satu keluarga. Aku, orang tuaku, dan adik-adikku. Kami bertujuh sudah lama mendiami rumah itu.”

            “Mana Sofie! Ngapain kamu ada ditubuhnya?” Ujarku sedikit ketus ketika sudah bisa menguasai keadaan. Aku tidak lagi takut kepadanya, malah geram.
            “Sofie kutitipkan di hotel Sedona, dia nggak bakalan kenapa-napa. Aku hanya meminjam sebentar tubuhnya. Aku tidak menyukai laki-laki itu. Laki-laki yang sering bertandang kerumahnya.” Suara Anna terdengar bersahabat.

“Dean?” Tanyaku hati-hati, ia mengangguk pelan sambil tersenyum. Timbul sedikit rasa nyaman ketika aku mencoba berbincang lebih jauh dengannya. Dia cukup terbuka dan santai. Usianya jauh lebih dewasa dariku, sehingga aku menambahkan embel-embel ‘Mbak’ didepan namanya.

            “Mbak Anna, panggil Sofie, dong… Udah waktunya kuliah, nih!” Ujarku sambil mengetuk-ngetuk pelan kaca Swiss Army yang melingkar dipergelangan tangan kiriku. Terlihat ‘Sofie’ menyapukan kedua telapak tangan kewajahnya. Ia menggeliat kecil dan tersentak. Seketika muncul lah raut wajah Sofie yang sebenarnya.

            “Hai, Shaaa…!” Ujarnya ceria sambil tersenyum girang. Aku hanya kembali melongo, terheran-heran.

******

Sejujurnya, aku merasa aneh karena berteman dengan makhluk yang tak kasat mata. Benar-benar aneh! Makin hari, aku makin mengenal pribadi mbak Anna. Ia bercerita bahwa ia kasihan melihat Sofie yang selalu kesepian. Ia ingin melindungi Sofie dari rayuan gombal para lelaki. Ia juga bercerita tentang keluarganya, bagaimana ia bisa ada disana, tentang ia yang takut anjing ketika mencoba berkunjung kerumahnya Meiling, dan tentang kakek-kakek yang menghadangnya ketika ia kuundang untuk bermain kerumahku ditengah malam. Kakek-kakek yang berdiam dirumahku, terangnya.

            Pernah aku bertanya kepadanya mengapa ia tak pernah menunjukkan wajah aslinya. Namun ia tak pernah menjawab dan selalu saja mengalihkan pembicaraan. Aku semakin bertanya-tanya dan menduga, apa wajahnya mengerikan seperti sinetron mistis yang kerap ditayangkan di TV itu? Tapi aku tak berani memaksanya untuk bercerita tentang hal-hal yang ada diluar batas. Aku cukup tau diri untuk hal itu.

            Tak begitu banyak yang mengetahui perihal mbak Anna yang sering memakai tubuh Sofie sebagai media perantara. Namun lambat laun, hal itu tercium juga oleh keluarganya Sofie. Sofie kerap bertingkah aneh dihadapan keluarganya. Selidik punya selidik, akhirnya mereka tahu, bahwa Anna dan keluarganya adalah penunggu rumah tersebut. Mereka memang tidak mengganggu kenyamanan keluarganya Sofie, malah mereka turut menjaga rumah tersebut dari orang yang berniat iseng.

            Lama aku tak mendengar lagi kabarnya mbak Anna. Entah bagaimana ceritanya dia, aku juga tidak tahu. Ketika hal itu kutanyakan Sofie hanya bilang bahwa tubuhnya letih jika harus digunakan mbak Anna terus. Banyak kudengar cerita dari Sofie tentang mereka. Tentang mereka yang tak mau lagi mencampuri urusan dunia, dan tentang permintaan aneh mereka. Mereka minta dikirimi pakaian.

            “Hah? Jadi mereka naked?” Bisikku tak percaya. Sofie mengangguk.

            “Waktu itu secara tak sengaja Om-ku mendapati mereka dikamar mandi belakang, tanpa sehelai benang pun yang melekat ditubuh mereka.”

            “Jadi itu sebabnya ia tak berani menampakan wujud aslinya…” Gumamku pelan.

            “Ia malu.” Lanjut Sofie.

            “Makanya ia minta Om untuk mengirimi mereka beberapa pasang pakaian bekas.”

            “Caranya?” Keningku berkerut dan alis mataku bertaut mendengar penjelasan Sofie.

            “Dengan bantuan Kyai, Om bakalan melemparkan semua pakaian itu dijembatan besar dekat rumah. Biar mereka sendiri yang mengambilnya.” Terangnya lagi. Aku menggaruk-garuk hidung kebingungan. Aku tak mengerti!

           
******

Cerita tentang mbak Anna menguap begitu saja seiring dengan kesibukan kami dengan tugas-tugas perkuliahan yang menumpuk. Waktu libur pun tiba, kusempatkan diri untuk bermain kerumah Sofie. Sudah lama aku tidak berkunjung kerumahnya. Tidak ada yang berubah, kecuali cat rumahnya yang kelihatan baru. Sambil duduk santai, aku mengitari pandangan. Mencoba mencari-cari bayangan mbak Anna. Tapi nihil, tak sedikitpun ada tanda-tanda menunjukkan keberadaan mbak Anna.

            “Fie… ada cemilan, nggak?” Celetukku.

            “Coba liat di kulkas deh, Sha… Perasaan masih ada Dunkin Donat disana.”

Dengan malas kuseret kakiku kearah dapur. Entah mengapa, tiba-tiba saja pandanganku tertuju pada kamar mandi yang ada disana. Sudut bibirku bergerak melengkung naik.

            “Eh, mbak Anna…? Udah punya baju baru, toh?” Aku tersenyum menggoda menatap sosok perempuan berbaju daster batik dipojok sana. Sosok tak kasat mata; ANNA…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar