(Tragedy in School)
By: Naomi
Desember, 1996
“Hoy…! Lagi ngapain lo disini…!!!” Sebuah suara berat terdengar membentak Danu dari arah belakang yang membuat dia tersentak kaget. Dengan reflek Danu langsung menoleh kepalanya kearah pemilik suara berat tersebut. Masih dengan raut wajah yang penuh dengan rasa kaget, Danu menatap sosok orang yang telah membentaknya tersebut. Sosok laki-laki berwajah garang dengan tubuh gempal dan tinggi besar, terlihat tengah menimang-nimang sebuah balok kayu ditangannya. Dengan gaya sangarnya yang mengancam, laki-laki itu menatap tajam kearahnya.
“Apa urusan lo nanya-nanya? Lo pengen nyari-nyari masalah ama gue, huh…!!!” Danu mendengus kesal dan balas mengancam.
“Gue tanya, apa kerja lo disini! Lo mau gue gebukin apa pake ini balok? Kalo lo nggak mau gue matiin, cepet lo jawab gue! Lalu angkat kaki lo dari sini!” bentak laki-laki itu kasar sambil mengulangi pertanyaannya tadi.
Dengan wajah yang merah padam menahan amarah, Danu mengedarkan pandangannya mengitari keadaan sekitar.
“Sepi…” pikirnya.
“Heh! Lo kalo berani, buang tu balok! Ayo duel!” Danu balik menantang sembari mengepalkan kedua tangannya.
“Oke!” Laki-laki itu melempar balok yang ada ditangannya kearah samping dan segera melangkah mendekati Danu yang sudah siaga.
Tanpa terelakkan, perkelahian pun terjadi. Tak seorang pun mengetahui kejadian yang tengah berlangsung dibelakang pasar tersebut. Perkelahian yang sama sekali tak seimbang, antara remaja yang berpostur tinggi kurus melawan laki-laki yang berbadan tegap dan tinggi besar, dengan otot-otot lengannya yang tampak sangat kekar. Dengan sekedipan mata pun sudah jelas kalau laki-laki −yang ternyata seorang petugas keamanan pasar tersebut− berada diatas angin.
Meski sudah melakukan perlawanan sekuat tenaga, namun pada akhirnya Danu kewalahan juga. Semua usaha yang dilakukannya ternyata sia-sia, laki-laki penjaga pasar tersebut memang bukan tandingannya. Laki-laki itu terlalu tangguh untuk dilumpuhkannya.
Sesaat sebelum dipergoki oleh laki-laki tersebut, sebetulnya Danu sedang duduk santai dengan aktivitas ‘kecil’nya. Dia berpikir, ditempat sepi seperti dibelakang pasar ini, tidak mungkin ada orang yang akan mengetahui perbuatannya. Akan tetapi dugaannya keliru! Ketika segala perhatiannya tengah tercurah terhadap kesibukannya, tiba-tiba saja dia dihardik oleh seorang laki-laki yang tak dikenal yang saat ini sedang baku hantam dengannya. Saking terkejutnya, sontak semua daun ganja yang hampir berhasil dilintingnya jatuh berserakkan. Tentu saja dia menggeram marah dan langsung naik darah!
Namun apa mau dikata, sekarang tubuhnya malah tergeletak tak berdaya dibawah kaki laki-laki tersebut. Sambil berusaha menyeka darah yang meleleh disudut bibirnya, dengan bengis laki-laki itu menginjak kepalanya.
“Lo beruntung, karna kali ini gue biarin lo hidup! Dasar tengik!” Bentak laki-laki tersebut dan kemudian beranjak pergi meninggalkan Danu yang terkapar. Wajahnya bersimbah darah.
*************
“Awan…! Lo ngliat Deden, nggak?” Seru Mira sambil menghampiri Awan.
“Enggak, tuh! Nggak ngliat gue… Memangnya knapa, Mira?” Awan balik bertanya.
“Ahh nggak… nggak ada apa-apa, kok. Gue cuma mau nanyain Danu doang. Mana Haryo juga pada nggak keliatan batang hidungnya lagi. Anak itu nggak masuk juga hari ini. Apa Danu ada sama dia kali, ya?” Mira menghela nafas panjang.
“Aduuuh… Udah deh, Mira… Nggak usah terlalu worry gitu, lah! Cowok lo itu nggak bakalan knapa-knapa, kok… Lagian, dia kan udah gede!”
“Iya, sih… Yaa… mudah-mudahan aja dia nggak knapa-knapa. Tapi kok dia bolos lagi, ya?” Tanya Mira bingung sembari menyelipkan anak rambutnya yang jatuh menjuntai ketelinga. Tanpa menunggu jawaban, Mira segera bergegas meninggalkan Awan menuju ke lokal 3 IPA 4.
“Deden! Sini, Den! Cowok yang merasa namanya dipanggil langsung menoleh.
“Bentar, yaa…” pamit Deden meninggalkan beberapa orang teman sekelasnya yang tadinya tengah bercengkrama dengannya. Dengan langkah santai Deden menghampiri Mira, orang yang tadi memanggilnya.
“Ada apa?” Deden menggaruk-garuk kepalanya yang sama sekali nggak gatal.
“Danu. Lo tau nggak ya dia kemana?” Mira memandang Deden dengan tatapan memelas, meminta jawaban.
“Mira… Danu itu udah gede, udah bisa jagain dirinya sendiri. Lagian, gue mana tau dia kemana…? Sedari tadi gue juga nggak ngliat dia, tuh!” Jawab Deden enteng seraya mengalihkan pandangan herannya kearah bapak Wakasek yang tengah berjalan menghampiri mereka berdua. Dilihatnya beliau sedang menatap beringas kearahnya. Dari dulu bapak Wakasek memang sentiment banget terhadapnya semenjak Deden menjadi orator demo dikalangan siswa-siswi disekolah mereka.
“SINI KAMU…!!!” tanpa basa-basi beliau langsung menghardik Deden. Dengan raut wajah yang kebingungan, Deden beranjak meninggalkan Mira yang juga ikut memandangnya dengan ekspresi wajah yang penuh keheranan. Deden hanya mengangkat kedua bahunya, pertanda dia juga tidak mengerti.
“Ikut saya ke kantor!” Hardik beliau lagi. Setibanya dikantor, Deden disuruh duduk. Sementara bapak Wakasek memilih berdiri dibelakangnya.
“Kamu memang bandel! Makin hari kelakuanmu makin tidak karuan! Baju tidak pernah dimasukin, celana dicorat-coret, tampang kayak preman! Kamu masih mau sekolah disini atau tidak, hah…!!!” hardik bapak Wakasek sambil berjalan mondar-mandir dibelakangnya.
“Yaa… Jelas mau lah, Pak…” Deden menjawab dengan tenang.
“Berkelahi, ngancam adik-adik kelas dan malakin mereka… Mau jadi jagoan kamu, ya!” Bentak beliau lagi.
“Tidak, Pak.” Deden menjawab singkat sambil menatap tajam ke mata bapak Wakasek, terkesan menantang.
“Apanya yang tidak…!!!” seru bapak Wakasek sembari menempeleng kepala Deden. Terlihat beliau sangat emosi dengan sikap Deden yang menurutnya sama sekali tak menghargai beliau.
“Eh bangsat, lo…!!! Lo kalau mau marah silahkan saja! Tapi jangan pake kekerasan kayak gini, dong!” Deden serta merta berdiri menghantam kursi yang sedari tadi didudukinya dengan kaki hingga terpelanting kebelakang. Sorot matanya mulai gusar, tersirat penuh amarah dan dendam.
“Kamu berani melawan saya, ya!” Hardik beliau lagi sambil mendorong tubuh Deden hingga terhuyung kebelakang.
“Saya keluarkan kamu dari sini!” sambung beliau lagi dengan nada penuh ancaman.
BRAKKK…!!!
Dengan kalap dan penuh emosi Deden membalikkan meja yang ada didekatnya.
“Awas, lo ya! Kalau lo sampai berhentiin gue, bakalan gue hancurin ini sekolah! Gue bakar! Ngerti, lo!”
“Kamu pikir saya takut, apa!” Wajah bapak Wakasek berubah menjadi merah padam. Baru saja beliau selesai berbicara, tinju Deden telah melayang bersarang tepat dihidung Wakasek tersebut yang membuat beliau jadi terhuyung kebelakang. Belum lagi puas, ditendangnya perut beliau. Dan beliau pun jatuh terjengkang.
“Lo kira murid-murid disini takut ama lo, hah!!! Lo belum tau siapa gue! Awas kalau gue sampai dikeluarkan disekolah ini, nggak bakalan selamat lo!” Ancam Deden sengit sambil melangkah keluar ruangan.
Mendengar keributan yang terjadi diruangan wakil kepala sekolah, sontak semua murid dan guru-guru pada berhamburan kesana melihat ada apakah gerangan yang terjadi? Mereka berebut mencari tahu kejadian heboh yang tengah berlangsung. Paras tegang menghiasi wajah mereka.
“Pak, bapak tidak apa-apa?” Salah seorang guru mencoba bertanya seraya mengulurkan tangannya kepada bapak Wakasek bermaksud hendak menolong.
“Diam, kau! Biarkan saja! Saya bisa berdiri sendiri!” ujar beliau ketus sambil menepiskan tangan guru tersebut. Namun beliau kembali terjatuh lagi ketika berusaha berdiri karena masih kehilangan keseimbangan. Guru tersebut bersurut mundur, tak lagi berani berbicara menawarkan bantuan.
Di lorong sekolahan, Mira bergegas menghampiri Deden.
“Den… ada apa, sih? Kok lo bisa jadi ribut gitu ama Mr. Killer itu?” Tanya Mira sambil berusaha mensejajarkan langkahnya dengan Deden yang sedang terburu-buru.
“Ah! Nggak apa-apa! Nggak ada apa-apa!” Jawab Deden gusar sambil bergegas masuk kedalam kelasnya. Sejurus kemudian dia keluar lagi sambil menyandang tas ransel dibahunya.
“Gue pulang, Mira! Gue mau nyari Danu dulu!”
“Deden, tunggu!” Mira berusaha menahannya, tapi Deden sudah berlalu dari hadapannya.
************
Disebuah rumah minimalis nan asri…
“Danu…? Apa yang terjadi dengan dirimu, Nak?” seorang wanita paroh baya berwajah lembut dan keibuan menegur Danu. Dari raut wajah beliau terlukis jelas binar kekhawatiran yang terpancar melihat anak sulungnya yang pulang dengan wajah babak belur serta pakaiannya yang kumal dan kotor.
“Nggak, Ma… Nggak ada apa-apa, kok…” Jawab Danu sambil mencoba untuk tersenyum kearah mamanya.
“Tapi Nak, wajah kamu…”
“Danu nggak apa-apa kok, Ma… Cuma beset-beset dikit biasa kok…” ujar Danu menghibur karena tak sampai hati melihat tatapan mamanya yang terlihat sedih.
“Danu mau kekamar dulu ya, Ma…” Lanjut Danu dan kemudian berlalu meninggalkan mamanya. Beliau terlihat hanya menggeleng-gelengkan kepalanya dan menarik nafas panjang melihat tingkah laku anak sulungnya.
“Sial!” Gerutu Danu sembari membuka pintu kamarnya. Dilemparkannya tas yang sedari tadi disandangnya ke meja belajar.
“Apes banget gue hari ini! Udahlah dihajar orang ampe benjut gini, kirain preman pasar biasa… ehh, nggak taunya malah jagoan dan penjaga disana…! Brengsek!” Danu terus saja mengumpat sambil sesekali terlihat mengernyitkan kening karena menahan sakit dan nyeri yang terasa disekujur tubuhnya. Setelah menyalakan Compact Disc Player-nya keras-keras, segera saja dia melangkah kekamar mandi yang terletak didalam kamarnya. Diamati wajah tirusnya melalui permukaan cermin, terlihat olehnya wajahnya yang lebam kebiru-biruan. Sejurus kemudian, diambilnya handuk kecil yang ada didekat sana dan mulai membersihkan mukanya dengan air hangat yang telah terkumpul di washtafel.
“Danu… ini temen kamu Deden datang, lho…” Ujar mamanya dari ruang bawah. Kebetulan kamar Danu terletak dilantai atas.
“Oh, iya… Suruh aja masuk, Ma…!” Seru Danu berteriak tanpa beranjak dari cermin. Sesaat kemudian Deden sudah menampakkan batang hidungnya dikamar Danu.
“Tumben lo pulang cepat, Den. Lo bolos juga kali, ya?” Tanya Danu begitu keluar dari kamar mandi. Dilihatnya Deden tengah tiduran diatas tempat tidurnya.
“Eh, Nu! Muka lo knapa?!?” Seru Deden sambil beringsut duduk tanpa mengindahkan pertanyaan Danu. Deden kebingungan melihat muka sahabatnya yang babak belur seperti itu.
“Gue habis digebukin ama orang pasar!” Sahut Danu dengan raut wajah kesal.
“Tadinya gue pikir dia preman biasa yang sengaja nyari gara-gara ama gue. Eh, nggak taunya jagoan disana! Nyesel dah gue nantangin tuh orang!” Lanjutnya lagi sambil meringis kesakitan ketika tanpa sengaja Danu menepuk pelipisnya sendiri yang robek.
“Aahahahaha… Emang dasar elo aja kali yanga lagi apes!” Timpal Deden sambil tertawa.
“Kalo gue lain lagi, barusan gue habis ngasih bogem mentah ama Wakasek!” Lanjutnya lagi sambil menepuk dadanya bangga.
“Kok bisa?” Tanya Danu sambil menyalakan sebatang rokok.
“Dia ngancam gue, Nu! Mau ngeluarin gue dari sekolahan! Mana pake acara nampol pala gue sgala lagi, huh!” Deden mendengus kesal sembari menegecilkan volume CD player.
“Gila! Nekad banget, lo!” Sahut Danu antusias.
“Habisnya dia yang mulai duluan, sih!” Ujar Deden dengan raut wajah yang tampak masih kesal.
“Huebaaath…! Top Markotop, lah!” Danu menatap takjub sambil mengacungkan dua jempolnya. Seandainya bisa, dia ingin sekali mengacungkan keempat jempolnya dihadapan Deden. Tiba-tiba saja pintu kamar diketok lagi dari luar.
“Masuk…” Jawab Deden santai. Seraut wajah manis muncul dari balik daun pintu yang terbuka.
“Nah, lho… Ama siapa lo kesini, Mira?” Tanya Danu kebingungan ketika tiba-tiba saja Mira telah muncul dihadapannya.
“Ama Restu, Awan, dan Tyas.” Jawab Mira datar.
“Hah…?!? Tyas ngikut kesini juga…???” Teriak Deden panik sambil mengacak-ngacak rambutnya sendiri.
“Iya, kenapa! Nggak suka, ya!” Wajah cantik Tyas nongol dari belakang punggung Mira yang disusul oleh Awan dan Restu. Dengan tampang jutek Tyas menghenyakkan pinggulnya duduk disebelah Deden. Sementara Mira masih berdiri membelakangi pintu mengamati wajah Danu dengan seksama.
“Nu, lo kok nggak masuk sih tadi? Kasian Mira tuh, yang dari tadi rebut nyariin elo terus!” Tanya Restu sembari mengacak-acak kumpulan kepingan CD milik Danu.
“Danu… Lo… Wajah lo kenapa…???” Ekspresi wajah Mira langsung berubah menjadi tegang ketika menangkap ada yang nggak beres diwajah kekasihnya.
“Oohh… Ini… Ah, nggak apa-apa kok, Mira… Cuma benjut dan beset-beset dikitlah, jatoh dari motor.” Sahut Danu santai sambil tersenyum. Ia mencoba menyembunyikan kejadian yang sebenarnya karena tak ingin membuat Mira jadi khawatir.
“Danu, please… Jangan bohongin gue, Nu…” Suara Mira terdengar serak dan bergetar menahan getir.
“Bener kok, Mira… Gua tuh nggak knapa-napa… Suer deh, biar dimarahin juga emang kayak gitu keadaannya kok… Senyum, dong! Jelek tau kalo bibirnya ditekuk gitu…” Danu mencoba mencairkan suasana hatinya Mira.
“Nu, mana rokoknya? Bagi gue, dooong…” Bisik Deden ditelinga Danu.
“Ngg… Boleh nggak Tyas, kalo Deden merokok?” Danu malah balik naya ke Tyas. Tyas pun mendelik jengkel kearah Deden. Ditatap begitu, Deden cuma cengengesan.
“Boleh ya, Tyas… Cuma sebatang aja kok…” Rayu Deden memelas.
“Hmmm… Iya, deeehhh… Tapi janji, cuma sebatang aja, ya…!” Ujar Tyas menyerah.
Tak terasa waktu begitu cepat berlalu. Jam dinding pun berdentang lima kali, matahari telah condong ke Barat. Akhirnya, satu persatu dari mereka pun mulai meninggalkan rumah Danu. Sepeninggalnya mereka, Danu kembali duduk termenung didalam kamarnya. Diambilnya bungkusan morfin yang tersimpan dibawah kasur. Tak lama kemudian, Danu pun jatuh tertidur setelah terlebih dahulu menghirup bubuk jahanam itu dalam-dalam.
*********
Hari-hari pun berlalu seperti biasanya, sampai tibalah hari yang takkan pernah dilupakan Danu seumur hidupnya.
Siang itu seusai jam sekolah, seperti biasa Danu dan Mira tengah jalan beriringan. Entah ada kejadian apa, tiba-tiba didepan gerbang sekolah telah bergerombol puluhan siswa-siswa SMK. Alamat bakalan terjadi tawuran! Dan para guru pun sibuk menginstruksikan agar para siswa dan siswi tetap berada didalam pekarangan sekolah mereka.
“Siapa sih yang udah nyari-nyari masalah ama anak-anak STM ini?” Celetuk Deden gusar dengan tiba-tiba, entah ditujukan pada siapa.
“Ah, Sial! Batal deh acara gue hari ini! Bokin gue pasti ngamuk-ngamuk ini!” Restu yang datangnya entah dari mana pun ikut menimpali. Tangannya terkepal disamping tubuhnya. Sedang Danu hanya diam saja mengawasi gera-gerik siswa SMK dengan pandangan mata yang tajam penuh amarah.
Seperti ada yang mengkomando, dalam hitungan detik saja para siswa SMK bergerak maju serempak memanjati gerbang sekolahan tempat Danu dan teman-temannya menuntut ilmu.
Laksana para pejuang yang tengah mempertahankan daerah kekuasaan, secara serentak pula para siswa laki-laki disekolahan Danu bergerak berlari menghadang mereka sambil mengacung-acungkan semua benda yang ada, bermaksud menghalau para siswa SMK.
Bisa ditebak apa yang terjadi! Tawuran pun tak terelakkan lagi. Para siswi berlarian panik dan menjerit-jerit mencoba menyelamatkan diri mereka masing-masing. Keadaan jadi kacau-balau.
Dalam sekejap, hujan batu pun terjadi. Bongkahan kaca-kaca mobil dan jendela sekolah pecah berserakan. Bahkan motor-motor yang tengah diparkir pun tak luput dari serangan mereka. Danu tak bisa lagi menahan emosinya menyaksikan semua itu. Dengan beringas dia mulai melakukan perlawanan kearah gerombolan anak-anak SMK itu.
Amarahnya sudah terpancing, darahnya t’lah menggelegak sampai keubun-ubun. Dengan membabi-buta, Danu pun mengamuk menerjang anak-anak SMK yang telah memporak-porandakan ketenangan sekolahnya. Dia sama sekali sudah tak bisa berpikiran jernih lagi. Ditepiskannya tangan Mira yang hendak memeganginya. Semangat patriotik yang berkobar didada membuatnya tak lagi menghiraukan keselamatan dirinya.
Sampai tiba-tiba ada seorang siswa SMK yang tengah memegang pisau lipat berkilat yang berdiri tak berapa jauh, mencoba hendak mempecundangi Danu dengan menusuknya dari belakang. Mira yang melihat hal tersebut jadi tercekat dan tersentak kaget! Dia tak bisa membiarkan hal yang buruk terjadi pada Danu. Secara spontan Mira berlari menuju arah kerumunan dimana tawuran berlangsung. Hanya satu yang ada dalam pikirannya; Danu!
Dengan sekuat tenaga ia menghampiri Danu dan mendorongnya kuat-kuat hingga Danu jatuh terjengkang kesamping. Namun akibatnya sungguh fatal! Pisau lipat yang tadinya diarahkan menikam punggung Danu akhirnya bersarang di jantung Mira, menembus dadanya tanpa bisa dielakkan lagi. Sekejap mata Mira terbelalak dan mulutnya ternganga hening menahan sakit yang menghujam. Tangannya memegangi luka yang menganga. Darah segar mulai mengucur dan merembes dari seragam sekolah yang ia kenakan. Beberapa detik kemudian, ia pun jatuh luruh terhempas ditengah kancah tawuran tersebut. Orang yang menikam Mira pun kabur menghilang entah kemana. Tak seorang pun yang menyadari kejadian itu, kecuali Danu!
“Dan―nu…” Erangnya lemah… Danu yang masih terkejut dengan kejadian itu serta merta melompat berdiri dan menghambur menghampiri Mira yang tergeletak lemah. Dengan panik, direngkuhnya tubuh Mira kedalam pelukannya. Seragam Danu pun ikut memerah, basah oleh darah. Kekhawatiran tak bisa lagi disembunyikan dari raut wajahnya yang tampan. Hatinya bagaikan tercabik-cabik menyaksikan belahan jiwanya bersimbah darah. Didekapnya erat tubuh kekasih yang telah menyelamatkan nyawanya tersebut. Ketegarannya sebagai seorang lelaki pun luruh. Matanya mulai terasa panas dan berkaca-kaca, dan perlahan-lahan sebentuk anak sungai tlah mengalir dipipinya.
“Mira… Bertahanlah, sayang…” Danu mencium lembut kening Mira dan mencoba menguatkan hatinya. Namun bias ketakutan jelas terpancar, suaranya bergetar.
“Nu… Ber―jan―jilah…. Un―tuk ti… ti―dak me… nyentuh… o―bat terla―rang itu, la―gi…” Desisnya lirih dan terputus-putus. Tubuh Mira pun semakin lemah dan terlihat pucat.
“Iya, Mira… Gue janji! Mira… Bertahanlah! Ambulance akan segera datang!”
“Nu….” Tangan Mira yang berlumuran darah dengan perlahan membelai pipi dan menyeka buliran air mata Danu. Danu pun menangkupkan telapak tangannya diatas tangan Mira, menahan tangan lembut tersebut agar tetap berada dipipinya. Danu benar-benar tak bisa lagi menyembunyikan segala kesedihannya.
Mira tersenyum lemah menatap Danu. Tatapannya menyiratkan betapa ia menyayangi Danu dengan tulus. Kemudian, pandangan dan binar matanya pun meredup. Perlahan-lahan, tangannya yang berada dipipi Danu pun mulai tergantung lemas. Beberapa detik kemudian, Mira pun menutup matanya seiring dengan lafadz Illahi yang terhembus lirih keluar dari mulutnya. Sampai akhirnya Mira menghembuskan nafas terakhirnya dalam pelukan Danu, kekasih hatinya. Kepalanya terkulai lemah dipelukan Danu. Namun, seulas senyum manis masih tersungging indah dari bibir tipisnya. Mira begitu kelihatan cantik, tenang dan damai… Dia seperti tertidur.
“MIRAAAAA…!!!!!!” Danu berteriak histeris. Diguncang-guncangkannya tubuh Mira, berharap agar kelopak mata kekasihnya itu terbuka kembalii. Namun sia-sia, Mira tidak akan pernah bangun lagi. Sambil terus mengerang dan terisak sedih, Danu mendekap erat tubuh kekasihnya yang penuh dengan darah. Tubuh itu masih terasa hangat, dan Danu tidak percaya bahwa kekasihnya telah tiada. Air mata mengalir deras dipipinya yang juga membasahi rambut almarhumah kekasihnya.
Beberapa saat kemudian, dari kejauhan terdengar raungan sirine ambulance dan mobil polisi. Perlahan-lahan hiruk pikuk yang tadinya heboh, terdengar tak seriuh tadi lagi. Danu masih saja memeluk tubuh kekasihnya yang sudah tak bernyawa tersebut. Matanya nanar menatap tak percaya pada sosok yang tengah terbaring tak berdaya didalam pelukannya. Dengan penuh kasih sayang, ditepuk-tepuknya lembut pipi Mira, seraya berkata,
“Mira… Bangun, sayang… Lihat, ambulance-nya udah datang… Gue nggak bohongkan, sayang… Bangun sayang, bangun… Gue mohon buka matanya, Mira… Miraaaa….!!!”
Namun, segala usaha Danu sudah terlambat. Tubuh yang ada dalam pelukannya itu perlahan-lahan mulai digin dan membeku. Takkan pernah tubuh itu bernyawa kembali, takkan pernah lagi…
“Istirahatlah dengan tenang, sayangku…”
―The End―
Padang, 1999

Tidak ada komentar:
Posting Komentar