CATATAN TERAKHIR

By: Naomi
         


“Heeyyy, Boossss… Mau kemana, lo…???” Teriakan Eagle tak membuatku mengurungkan niat untuk memperlambat langkahku meninggalkan mereka; Eagle dan kekasihnya Tania. Langsung saja aku menaiki sebuah angkot yang tengah berhenti persis didepanku. Kulambaikan tanganku pada meraka berdua yang menatapku dengan kebingungan setelah menghenyakkan pantat duduk dibangku kecil yang sering digunakan kenek. Sebelah tanganku menutupi hidung, terasa ada cairan hangat yang mengalir diantara jari-jariku.
           

                Penumpang diangkot itu penuh sesak, dan semua mata memandang tertuju kearahku. Aku jengah ditatap seperti itu, namun kucoba untuk tak menghiraukannya.


            “Mas, anu… Itu hidungnya berdarah…” Seorang perempuan yang duduk didepanku menegurku.
 



             “Oh, iya mbak… ini tadi kebentur gitu.” Aku mencoba untuk berbohong dan menjawab seadanya sembari menyeka  darah dihidungku. Padahal tidak, sama sekali tidak terjadi benturan.


            “Tapi itu darahnya makin banyak keluar lho, mas…” sambungnya lagi diiringi dengan tatapan prihatin darinya. Beugh… aku benci ditatap seperti itu dan dikasihani.


            “Iya, mbak… Nggak apa-apa, terimakasih…” kucoba mengumbar seulas senyum. Namun aku tidak tau apakah mereka tau aku tersenyum atau tidak, karena area hidung dan mulutku tertutup dengan sapu tangan.  Mbak itu benar, darah yang mengalir seakan tak henti-hentinya mengucur dari hidung. Kepalaku terasa sakit sekali dan pandanganku pun ikut buram. Sesampainya ditujuan aku langsung berlari kencang menuju kontrakanku.



**********

           

            Kubaringkan tubuhku dikasur ini, menatap langit-langit kamar yang mulai terlihat suram. Kontrakan ini terasa sepi tanpa adanya dia  disisiku. Asaku melayang…


            “Sayang, sahabatku Eagle dan Tania katanya mau ngajak sayang ketemuan nanti malam. Bisa nggak, Yang?”  Teringat kembali percakapan sore itu dengan kekasih hatiku, Celia. Sambil tersenyum aku menyanggupi permintaannya. Aku akan membuatnya bahagia bersamaku, itulah tekadku. Akan kulakukan apapun untuknya, karena dia segala-galanya untukku. 


Bertemu dengan sahabat baru memang sangat menyenangkan. Apalagi Tania telah dianggap adik oleh Celia, dan Eagle adalah sahabat baiknya. Sahabat Celia, adalah sahabatku juga. Namun aku merasa tak enak ketika tadi meninggalkan mereka dengan cara yang seperti itu. Tapi apa boleh buat, darah telah mengucur hebat dari hidungku. Aku akan meminta maaf pada mereka.


Apa yang terjadi sebenarnya adalah…. Hhh… semua semata-mata karena aku tidak mau mereka mengetahui bahwa aku sakit. Benar! Aku sakit… Bahkan, Celia pun tak aku beri tahu bahwa aku sakit. Aku tak sanggup memberitahukan pada Celia, karena aku tak kuasa melihatnya bersedih. Hatiku terasa jutaan kali lebih sakit melihat dan mendengar dia tersakiti. Sungguh kasihan melihat Celia mendapatkan seorang kekasih seperti aku. Seseorang yang tak punya apa-apa selain cinta yang tulus dan suci, hanya untuknya.


Aku beruntung mendapatkan seorang kekasih seperti dia, yang mau menerima aku apa adanya dan mau mengerti aku. Bersamanya, aku merasa tlah memiliki sorga dunia. Aku bahagia.


Namun penyakit yang kian hari menggerogoti tubuhku buat aku merasa rendah diri. Aku tau, waktuku takkan lama lagi. Namun aku tak sanggup menyatakan hal ini pada Celia, karna dia pasti kan terluka. Jujur saja, terkadang aku juga menjadi rendah diri. Dia begitu sempurna dimataku, sementara aku…??? Bermacam cara akhirnya kulakukan agar dia membenciku. Aku ingin dia marah, murka semurka-murkanya terhadap diriku agar dia pergi meninggalkanku. Sesungguhnya hatiku juga sakit memperlakukannya seperti itu, namun mungkin itu baik untuknya. Pada saat aku pergi, dia takkan terasa kehilanganku… Ya Allah, tolong kuatkan aku dan Celia.


Aku terhenyak mendengar pernyataan Celia bahwa dia takkan meninggalkanku sampai saat itu tiba, dan tak akan pernah meninggalkanku. Dia malah semakin mencintaiku dan mengorbankan apapun hanya untukku. Lebih kagetnya lagi, ternyata dia jauh lebih tau tentang sakit yang aku derita sebelum aku mengetahuinya.


Ahhh… sudah-sudah dan sudah…!!! Jangan dibahas lagi tentang aku! Yang jelas aku tak mau dia mendapatkan aku yang seperti ini…! 


Malam ini aku membuat dia menangis dan  tersakiti lagi. Aku tetap ingin membuat dia membenciku, dan meninggalkanku. Aku ingin membuatnya merasa bahwa aku tak lagi acuh pada dirinya dan merasa aku mencampakkannya. Aku ingin menunjukkan padanya bahwa aku egois dan tak butuh dia. Dan dia menangis lagi… Ya Allah… Kalian boleh bilang aku jahat dan pengecut! Silahkan! Namun, cuma hal itu yang bisa kulakukan agar dia tak merasa kehilanganku saat aku tak lagi bersamanya. Hanya Allah yang tau betapa aku mencintainya dan membutuhkannya. Kan kubawa jauh hatiku yang terluka tanpa dirinya. Kan kusimpan selalu cintaku padanya.


Buat Tania dan Eagle, terimakasih telah menjadi sahabat buat Celia. Kuingin kalian selalu menemaninya saat aku tak ada lagi disisinya. Temani dia, bilang padanya bahwa dia adalah bintang terindah yang ada dalam hatiku. Dia belahan jiwaku dan pelangi dalam hidupku. Hatinya bagaikan bidadari yang selalu menerangi gelapnya hidupku. Kan kubawa mati cintaku padanya. Aku sangat mencintainya…


Celia, aku senang kamu mempunyai sahabat dan adik yang baik seperti Eagle dan Tania. Jagalah persahabatan kalian, karena sahabat dan Allah kan selalu ada kapanpun kamu butuhkan. Aku kan sedikit lebih lega, jikalaupun aku harus pergi, sudah ada mereka yang menemani dan menyayangi kamu. Moga Allah menjaga persahabatan kalian…


Celia sayangku… Maafkan jika aku bersikap seperti ini terhadapmu. Bukan karna aku membencimu, semua karna aku terlalu mencintaimu… aku tak sanggup lihatmu terluka dan menagis lagi. Paling tidak, kamu takkan menangisi kepergianku jika kamu membenciku. Celia, menikahlah dengan laki-laki sempurna. Tidak dengan laki-laki seperti diriku… jika kalian memiliki anak, aku yakin dia pasti cantik seperti dirimu dan tampan seperti ayahnya. Meskipun aku berharap laki-laki itu adalah aku… Jaga dan didiklah mereka dengan baik, moga mereka menjadi anak yang sholeh dan sholehah. Amin… Aku akan bahagia jika kamu bahagia…



**********



Saat ini kepalaku makin sakit dan tak tertahankan pandanganku berputar hebat. Darah kembali mengucur dari hidungku. Aku pasrah, jika ini adalah saatku, akan aku sambut dengan gagah. Tapi tunggu dulu sebentar, biarkan aku menyelesesaikan tarawehan terakhirku dan memanjatkan doa untuk almarhum kedua orang tuaku, kekasihku, sahabat-sahabatku, dan orang-orang yang aku cintai. Tanpa terasa tubuhku makin lemah dan terjatuh dalam pembaringan sajadah. Bajuku telah penuh berlumuran darah. Semua terasa gelap… gelap… dan gelap…


 Sayup-sayup terdengar suara-suara panik…



“Bil…! Bangun, Bil… BILAL BANGUUUUN…!!!!!”


Tak terasa, makin kumerasa makin jatuh dalam kegelapan yang kian pekat… terasa ringan… melayang… terbang… dan damai…. Ya Allah… lindungilah orang-orang yang kucinta, dan bahagiakanlah mereka… Hhhh…





**********

Tidak ada komentar:

Posting Komentar