“Heeyyy, Boossss… Mau
kemana, lo…???” Teriakan Eagle tak membuatku mengurungkan niat untuk
memperlambat langkahku meninggalkan mereka; Eagle dan kekasihnya Tania.
Langsung saja aku menaiki sebuah angkot yang tengah berhenti persis didepanku.
Kulambaikan tanganku pada meraka berdua yang menatapku dengan kebingungan
setelah menghenyakkan pantat duduk dibangku kecil yang sering digunakan kenek.
Sebelah tanganku menutupi hidung, terasa ada cairan hangat yang mengalir
diantara jari-jariku.
Penumpang diangkot itu penuh sesak, dan semua mata memandang tertuju kearahku.
Aku jengah ditatap seperti itu, namun kucoba untuk tak menghiraukannya.
“Mas, anu… Itu hidungnya berdarah…” Seorang perempuan yang duduk didepanku
menegurku.
“Oh, iya mbak… ini tadi kebentur gitu.” Aku mencoba untuk berbohong dan
menjawab seadanya sembari menyeka darah dihidungku. Padahal tidak, sama
sekali tidak terjadi benturan.
“Tapi itu darahnya makin banyak keluar lho, mas…” sambungnya lagi diiringi
dengan tatapan prihatin darinya. Beugh… aku benci ditatap seperti itu
dan dikasihani.
“Iya, mbak… Nggak apa-apa, terimakasih…” kucoba mengumbar seulas senyum. Namun
aku tidak tau apakah mereka tau aku tersenyum atau tidak, karena area hidung
dan mulutku tertutup dengan sapu tangan. Mbak itu benar, darah yang
mengalir seakan tak henti-hentinya mengucur dari hidung. Kepalaku terasa sakit
sekali dan pandanganku pun ikut buram. Sesampainya ditujuan aku langsung
berlari kencang menuju kontrakanku.
**********
Kubaringkan tubuhku dikasur ini, menatap langit-langit kamar yang mulai
terlihat suram. Kontrakan ini terasa sepi tanpa adanya dia disisiku.
Asaku melayang…
“Sayang, sahabatku Eagle dan Tania katanya mau ngajak sayang ketemuan nanti
malam. Bisa nggak, Yang?” Teringat kembali percakapan sore itu dengan
kekasih hatiku, Celia. Sambil tersenyum aku menyanggupi permintaannya. Aku akan
membuatnya bahagia bersamaku, itulah tekadku. Akan kulakukan apapun untuknya,
karena dia segala-galanya untukku.
Bertemu dengan
sahabat baru memang sangat menyenangkan. Apalagi Tania telah dianggap adik oleh
Celia, dan Eagle adalah sahabat baiknya. Sahabat Celia, adalah sahabatku juga.
Namun aku merasa tak enak ketika tadi meninggalkan mereka dengan cara yang
seperti itu. Tapi apa boleh buat, darah telah mengucur hebat dari hidungku. Aku
akan meminta maaf pada mereka.
Apa yang terjadi
sebenarnya adalah…. Hhh… semua semata-mata karena aku tidak mau mereka
mengetahui bahwa aku sakit. Benar! Aku sakit… Bahkan, Celia pun tak aku beri
tahu bahwa aku sakit. Aku tak sanggup memberitahukan pada Celia, karena aku tak
kuasa melihatnya bersedih. Hatiku terasa jutaan kali lebih sakit melihat dan
mendengar dia tersakiti. Sungguh kasihan melihat Celia mendapatkan seorang
kekasih seperti aku. Seseorang yang tak punya apa-apa selain cinta yang tulus
dan suci, hanya untuknya.
Aku beruntung
mendapatkan seorang kekasih seperti dia, yang mau menerima aku apa adanya dan
mau mengerti aku. Bersamanya, aku merasa tlah memiliki sorga dunia. Aku
bahagia.
Namun penyakit yang
kian hari menggerogoti tubuhku buat aku merasa rendah diri. Aku tau, waktuku
takkan lama lagi. Namun aku tak sanggup menyatakan hal ini pada Celia, karna
dia pasti kan terluka. Jujur saja, terkadang aku juga menjadi rendah diri. Dia
begitu sempurna dimataku, sementara aku…??? Bermacam cara akhirnya kulakukan
agar dia membenciku. Aku ingin dia marah, murka semurka-murkanya terhadap
diriku agar dia pergi meninggalkanku. Sesungguhnya hatiku juga sakit
memperlakukannya seperti itu, namun mungkin itu baik untuknya. Pada saat aku
pergi, dia takkan terasa kehilanganku… Ya Allah, tolong kuatkan aku dan Celia.
Aku terhenyak
mendengar pernyataan Celia bahwa dia takkan meninggalkanku sampai saat itu
tiba, dan tak akan pernah meninggalkanku. Dia malah semakin mencintaiku dan
mengorbankan apapun hanya untukku. Lebih kagetnya lagi, ternyata dia jauh lebih
tau tentang sakit yang aku derita sebelum aku mengetahuinya.
Ahhh…
sudah-sudah dan sudah…!!! Jangan dibahas lagi tentang aku! Yang jelas aku tak
mau dia mendapatkan aku yang seperti ini…!
Malam ini aku membuat
dia menangis dan tersakiti lagi. Aku tetap ingin membuat dia membenciku,
dan meninggalkanku. Aku ingin membuatnya merasa bahwa aku tak lagi acuh pada
dirinya dan merasa aku mencampakkannya. Aku ingin menunjukkan padanya bahwa aku
egois dan tak butuh dia. Dan dia menangis lagi… Ya Allah… Kalian boleh
bilang aku jahat dan pengecut! Silahkan! Namun, cuma hal itu yang bisa
kulakukan agar dia tak merasa kehilanganku saat aku tak lagi bersamanya. Hanya
Allah yang tau betapa aku mencintainya dan membutuhkannya. Kan kubawa jauh
hatiku yang terluka tanpa dirinya. Kan kusimpan selalu cintaku padanya.
Buat Tania dan Eagle,
terimakasih telah menjadi sahabat buat Celia. Kuingin kalian selalu menemaninya
saat aku tak ada lagi disisinya. Temani dia, bilang padanya bahwa dia adalah
bintang terindah yang ada dalam hatiku. Dia belahan jiwaku dan pelangi dalam
hidupku. Hatinya bagaikan bidadari yang selalu menerangi gelapnya hidupku. Kan
kubawa mati cintaku padanya. Aku sangat mencintainya…
Celia, aku senang
kamu mempunyai sahabat dan adik yang baik seperti Eagle dan Tania. Jagalah
persahabatan kalian, karena sahabat dan Allah kan selalu ada kapanpun kamu
butuhkan. Aku kan sedikit lebih lega, jikalaupun aku harus pergi, sudah ada
mereka yang menemani dan menyayangi kamu. Moga Allah menjaga persahabatan
kalian…
Celia sayangku…
Maafkan jika aku bersikap seperti ini terhadapmu. Bukan karna aku membencimu,
semua karna aku terlalu mencintaimu… aku tak sanggup lihatmu terluka dan
menagis lagi. Paling tidak, kamu takkan menangisi kepergianku jika kamu
membenciku. Celia, menikahlah dengan laki-laki sempurna. Tidak dengan laki-laki
seperti diriku… jika kalian memiliki anak, aku yakin dia pasti cantik seperti
dirimu dan tampan seperti ayahnya. Meskipun aku berharap laki-laki itu
adalah aku… Jaga dan didiklah mereka dengan baik, moga mereka menjadi anak
yang sholeh dan sholehah. Amin… Aku akan bahagia jika kamu bahagia…
**********
Saat ini kepalaku
makin sakit dan tak tertahankan pandanganku berputar hebat. Darah kembali
mengucur dari hidungku. Aku pasrah, jika ini adalah saatku, akan aku sambut
dengan gagah. Tapi tunggu dulu sebentar, biarkan aku menyelesesaikan tarawehan
terakhirku dan memanjatkan doa untuk almarhum kedua orang tuaku, kekasihku,
sahabat-sahabatku, dan orang-orang yang aku cintai. Tanpa terasa tubuhku makin
lemah dan terjatuh dalam pembaringan sajadah. Bajuku telah penuh berlumuran
darah. Semua terasa gelap… gelap… dan gelap…
Sayup-sayup
terdengar suara-suara panik…
“Bil…! Bangun, Bil…
BILAL BANGUUUUN…!!!!!”
Tak terasa, makin
kumerasa makin jatuh dalam kegelapan yang kian pekat… terasa ringan… melayang…
terbang… dan damai…. Ya Allah… lindungilah orang-orang yang kucinta, dan
bahagiakanlah mereka… Hhhh…
**********

Tidak ada komentar:
Posting Komentar