MISTERI POHON JAMBU DIDEPAN RUMAH_Bag. 1


MISTERI POHON JAMBU DIDEPAN RUMAH


By: Naomi


      “Ibu… aku mohon, untuk kali ini izinkanlah aku tidur bersama Ibu… Aku takut, Bu…” Pintaku memelas sambil berdiri didepan pintu kamar orang tuaku. Ibu hanya tersenyum simpul menatapku.

            “Masya Allah, Nao—Nao… Kamu takut apa sih, nak…?” Jawab ibu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

            “Ayolah, Bu… Untuk kali iniii… aja!” Aku bergidik ngeri menoleh kearah pintu kamarku yang terletak tak begitu jauh dari kamar orang tuaku.

            “Kamu itu sudah besar, sudah 17 tahun. Apa kamu nggak malu? Kalau kamu takut, ambil wudhu’ dulu sana sebelum tidur. Sudah, ibu mau istirahat dulu. Ibu lelah setelah seharian bekerja.” Ibu berbalik masuk dan menutup pintu kamarnya dengan perlahan. Tinggallah aku sendiri, melongo dengan raut wajah pucat pasi. Dengan perasaan campur aduk dan ketakutan, aku kuatkan hati dan melangkah pelan perlahan menuju kamarku. Tanganku bergetar ketika jemari menyentuh gagang pintu yang dingin itu dan memutarnya




Krieettt… Brakkk!

Pintu itu kubiarkan terhempas dan menganga lebar. Lama aku terpaku sebelum memutuskan untuk melangkah masuk. Mataku awas mengitari ruangan kamar, menangkap jikalau ada gerakan yang mencurigakan. Namun, tidak ada kejadian aneh yang terjadi.

            Cuaca dimalam itu sangat cerah dengan taburan bintang yang begitu indah terhampar diangkasa sana. Tapi entah mengapa, tiba-tiba saja ada hawa dingin menusuk tulang ketika aku mencoba membaringkan tubuh ditempat tidurku. Cerahnya malam tak bisa mempengaruhi rasa takutku yang mendalam. Seketika bulu kudukku merinding. Kuusap pelan tengkukku sambil komat-kamit memanjatkat do’a. Kutarik selimut hingga batas dada. Pandanganku lurus kedepan menatap langit-langit kamar yang di cat berwarna putih. Perasaan kantuk yang begitu hebat mulai menyerangku, namun aku takut untuk memejamkan mata walaupun hanya sekejap.
           
“Hoaaaaammmhhhhh…..”

            Malam ini sudah hampir satu bulan aku tidak dapat memejamkan mataku dengan tenang. Aku tidak bisa tidur dengan lelap. Ada saja kejadian aneh yang kualami jikalau mata ini terpejam. Kejadian yang selalu membuatku hampir mati ketakutan dan menjadi  lemas sampai tak  bisa bernafas. Kejadian aneh yang mengerikan yang bisa saja membunuhku!

            “Hiiiyhh…!!!”

*********************

            Semua itu berawal dari kegemaran Ibu akan buah yang bernama jambu air. Ia begitu tergila-gilanya dengan pohon itu apalagi jika pohon itu tengah berbuah lebat. Namun sayang, dirumah tak ada pohon jambu. Saking cintanya, beliau tak sungkan-sungkan meminta hasil cangkokkan pohon itu pada tetangga di komplek belakang rumah. Dengan sumringah, beliau lalu menyuruh seseorang untuk menanam pohon itu dihalaman, persis didepan jendela kamarku.

            Aku cukup heran ketika mendapati pohon itu tengah berbuah. Buahnya hanya satu-satu, namun manisnya minta ampun! Akan tetapi, ada saja kejadian aneh yang terjadi setiap harinya semenjak pohon itu mulai tumbuh besar. Keluargaku tak menyadarinya, karena mereka belum pernah melihat lansung dengan mata kepala mereka sendiri perihal peristiwa mistis yang kerap kali dilihat oleh tetangga.

Pernah suatu malam, Om Ryan, tetanggaku, memergoki seorang laki-laki berkulit hitam legam dengan tubuh yang tinggi besar tengah lalu-lalang tanpa sehelai benangpun ditubuhnya. Dia curiga, lalu dengan sigapnya Om Ryan mengambil balok kayu sebagai senjata untuk berjaga-jaga. Ia mengira bahwa orang hitam itu adalah orang maling.

Dengan berjinjit pelan, Om Ryan menguntitnya dari belakang. Alangkah terkejutnya Om Ryan ketika orang hitam itu menghilang begitu saja dengan tiba-tiba ketika sampai diteras samping rumahku. Serta merta dibuangnya balok kayu yang sedari tadi berada dalam genggamannya dan lansung lari terbirit pontang-panting. Bagaikan wabah, peristiwa yang menimpa Om Ryan itu berkembang pesat dari mulut ke mulut!


*********************


            Jam dinding itu telah berdentang dua belas kalin namun aku tetap berusaha untuk tidak memejamkan mata. Lampu kamar sengaja kunyalakan untuk sekedar mengusir kegelapan.  Sebenarnya bukan kebiasaanku yang menyalakan lampu diwaktu tidur, tapi sungguh aku takut, dan akhirnya gara-gara itu aku ditegur Ibu. Sekarang keadaan kamarku jadi lebih temaram ketika lampu tempat tidurku yang berdaya listrik 5 watt kunyalakan. Perasaan takut jadi seribu kali lebih berat terasa menghimpitku. Masih dengan mulut komat-kamit membaca do’a, kupaksa mata ini agar tetap terbuka. Walau sebenarnya aku lelah juga, teramat lelah.

            “Hhh… Nasiiiiib─nasib…”
            Namun akhirnya kelopak mataku mulai menyerah kalah oleh rasa kantuk yang menghajar. Aku mengaku kalah dan mencoba untuk memejamkan mata walau hanya sekejap, tapi tetap berusaha sepenuhnya menjaga kesadaranku.

WUUUZZZSSHH…!!! Satu bayangan berkelebat mendesir ketika mata ini terpejam.

            “DIA DATANG LAGI! DIA DATANG LAGI!” Jeritku panik dan mencoba berteriak  sekuat tenaga. Namun suaraku tercekat ditenggorokan, tak keluar sedikitpun! Tiba-tiba mataku pun tak bisa lagi terbuka sepenuhnya. Terasa sesuatu yang berat menindih tubuhku, nafasku sesak!

Tangan dingin dan berkuku panjang-panjang itu menekan dadaku, membuatku megap-megap kehabisan nafas. Kucoba untuk meronta, tapi tubuh ini seperti tiada daya. Sungguh perjuangan yang termat berat bagiku untuk bisa melepaskan diri dari ‘cengkramannya’. Telah berulang kali kubaca ayat kursi dalam hatiku dan alhamdulillah mataku kembali terbuka, walau hanya bisa terbuka sedikit.

Aku ketakutan setengah mati ketika menyadari makhluk apa yang tengah menindih tubuhku! Sosok yang sangat menakutkan, dengan tubuh tinggi besar dan hitam legam. Perutnya buncit berlipat, disekeliling pinggangnya ditumbuhi rambut-rambut panjang lebat yang menyerupai jerami.  Rambutnya panjang, gimbal dan terjuntai kedepan. Matanya besar, merah manyala dengan pupil segaris menyerupai pupil mata kucing. Ia menyeringai dan tertawa lebar diatas tubuhku, menampakkan giginya yang besar-besar dengan taring-taring tajamnya yang mencuat keluar. Tawanya begitu besar dan menggema diseluruh ruangan. 



To be continue... 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar