DARREL KECIL_Bag. 1


DARREL

By: Naomi

Prologue:

Bayi kecil itu tergeletak tak berdaya dalam sebuah kardus kecil disebuah halte. Udara dingin yang menusuk tulang membuat tubuhnya kaku dan pipinya membeku berwarna kemerahan. Tubuh mungil nan malang itu hanya berbungkuskan selimut hangat yang sudah lusuh dan sebuah topi lucu yang menempel dikepalanya. Disebelahnya terdapat sepucuk surat dan sebuah botol susu. Ia kelihatan bingung, namun sama sekali tak menangis. Tiba-tiba ia tersenyum sumringah ketika sebuah kepala melongok kepadanya dan mengulurkan sepasang tangan untuk menggendongnya. Tatapan matanya yang lucu dan polos membuat orang itu menjadi luruh hatinya.
“Ahh… kasihannya dirimu, Nak…”

*********************************

Tokyo, 2010

Disebuah gubuk reyot diantara pemukiman rumah kumuh yang terletak dipinggiran kota Tokyo itu, terdengarlah sebuah suara erangan kesakitan dari seorang perempuan yang tak bisa dibilang muda lagi. Perempuan itu tengah berjuang diantara hidup dan mati, keringat mengucur deras didahinya dan nafasnya pun tersengal-sengal. Ia terlihat sangat lelah. Dengan dibantu oleh salah seorang tetangganya, ia hendak melahirkan bayi kelimanya. 


Disebelahnya, seorang laki-laki yang terlihat lebih tua dari usia yang sebenarnya ─akibat tergerus oleh kerasnya kehidupan─ terlihat kebingungan, berjalan mondar-mandir dan duduk-tegak mengitari ruangan kecil yang mereka sebut ‘rumah’ itu. Jemari tangannya terlihat sibuk meremas-remas satu-satunya topi butut kepunyaannya. Terbias pancaran ketegangan dari raut wajahnya, sindrom seorang suami yang tengah menunggui kelahiran anaknya.

Para tetangga berkumpul berdesak-desakan diluar rumahnya yang terbuat dari kardus hanya sekedar ingin tau tentang keadaan mereka. Mereka ikut prihatin, dan hanya bias membantu semampunya mereka. Disudut lain dari ruangan tersebut, berjejal-lah empat orang anak yang masih kecil-kecil. Tubuh dan baju mereka terlihat kumuh dan kumal. Mereka hanya diam melihat semua itu.

Selang beberapa waktu kemudian, terdengarlah pekikkan keras suara seorang bayi yang baru lahir. Suasana yang tadinya tegang langsung lumer dan berganti jadi hiruk-pikuk kebahagiaan. Aura kebahagiaan menguar dari gubuk kecil tersebut.

Telah lahir seorang bayi laki-laki kecil bermata sipit dan berhidung mancung. Semua member selamat kepada sepasang suami istri tersebut dan juga mendoakan keselamatan dan kebahagiaan bagi mereka sekeluarga dan begitu juga untuk si bayi.

Hari berganti hari, minggu berganti minggu dan bulan berganti bulan. Laki-laki yang dipanggil ‘Ayah’ oleh anak-anak dan istrinya itu mulai kewalahan menafkahi mereka semua. Tingginya biaya hidup di Jepang membuat dirinya harus bekerja keras membanting tulang hampir dua puluh empat jam. Akibatnya, dia terserang penyakit kronis yang berujung pada kematian. Dia ditemukan tergeletak tak bernyawa disebuah lorong kecil dengan darah mengalir dari mulut dan hidung.

Kematian suaminya membuat si istri menjadi terpukul, ia terguncang hebat. Ia merasa tak mampu menjadi orang tua tunggal dan memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya meskipun ia telah telah berusaha sebisa mungkin mencari pnghasilan tambahan. Untuk orang seperti dirinya, hanya bisa menjadi buruh upah cucian dari orang-orang kalangan ekonomi menengah keatas. Dan itu sangat tidak mencukupi.

Beban hidup yang semakin memuncak buat dirinya dihinggapi rasa kalut dan tertekan. Tak ada jalan keluar yang bisa ia pikirkan. Beruntung ada tetangga-tetangga yang mau memungut dan membesarkan empat orang anaknya. Tapi semua masih belum bisa mengurangi bebannya.

Sebenarnya, ia sangat mencintai keluarga dan anak-anaknya. Namun hutang yang ditinggalkan oleh suaminya menjerat lehernya. Jangankan untuk membayar hutang, untuk makan sehari-hari dan membeli susu buat si bayi saja ia sangat kesulitan. Tak jarang ia hanya makan dengan kentang rebus.
Pernah ia mencoba untuk memberikan anak bungsunya pada tetangga, tapi tak ada yang mau. Tak ada yang berani mengambil resiko karna bayi kecilnya mengidap kelainan jantung. Ia hanya bisa menangis memeluk bayi kecilnya yang lucu, lincah dan terlihat cerdas saat ia memutuskan untuk meninggalkan bayi tersebut disebuah halte pada dini hari. Air matanya jatuh menimpa pipi si bayi, dan si bayi kcil pun tertawa terbahak-bahak berpikir bahwa ibunya tengah mengajak dirinya bercanda.

Bayi kecil itu diayun dan ditimang-timang, diciumnya sepuas hatinya. Tawa bayi kecil itu merekah diantara suasana halte yang sunyi pada musim dingin itu. Setelah puas bermain, bayi kecil itu diletakkannya dengan hati-hati disebuah kardus yang telah dilapisi kain lusuh dan selimut hangat.

Air mata mulai mengucur deras. Ia tak sanggup melakukan semua itu, namun ia harus melakukannya! Ia tak ingin bayinya menjadi terlantar tanpa ekonomi yang cukup seperti dirinya. Ia lebih memilih untuk meninggalkan bayinya di halte ini, berharap ada orang yang baik hati yang mau merawatnya.

Matahari telah mulai menampakkan sinarnya di ufuk Timur. Saatnya dia harus segera pergi, karna sebentar lagi halte ini akan penuh dengan orang-orang yang hendak berangkat kerja. Dengan penuh kelembutan, diperbaiki letak topi dan selimut hangat bayinya. Dipandanginya bayinya dengan tatapan penuh kasih sayang,belaian-belaian lembut dari ibunya membuatnya terlelap. Seulas snyum menghiasi bibir tipisnya, seperti bermimpi bahwa dirinya tengah dipeluk oleh ibunya didepan sebuah perapian yang hangat.

Hati perempuan itu terluka mengeluarkan darah, teriris pedih bak sembilu tatkala tiba saatnya harus pergi meninggalkan buah hatinya. Diletakkannya sepucuk surat dan sebotol susu disebelah bayi kecilnya. Sepucuk surat yang berisi tentang riwayat buah hatinya. Dikecupnya sekali lagi kening buah hatinya, tenggorokannya tercekat dan tak mampu berkata-kata lagi. Dalam isak diamnya, perempuan itu berharap dan berdoa kepada Tuhan, agar bayi kecilnya segera menemukan seseorang yang baik hati dan mau merawat buah hatinya itu. Semoga bayinya mendapatkan kehidupan yang lebih baik.

Secepat kilat tubuh ringkih perempuan itu berbalik dan tergopoh berlari meninggalkan bayinya, air matanya tak henti-hentinya mengalir. Ia tak tahan berlama-lama menatap wajah polos bayinya, hatinya terluka. Biarlah… biarlah dia kutinggalkan disana, semoga ada seorang malaikat yang menolongnya… Batinnya menjerit pilu. 

"Maafkan Ibu, Nak..."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar