“LOVE AND SACRIFICING_Part. 5”


“LOVE AND SACRIFICING_Part. 5”
(KHALISA_3)
By: Naomi

WHEN YOU’RE GONE
Dihari yang sama,
Entah mengapa kali ini Fathir begitu bersikeras hendak mendaki gunung diam-diam tanpa sepengetahuan Khalisa. Meskipun ia tahu, Khalisa takkan pernah lagi mengizinkannya mendaki gunung. Hal itu telah diutarakannya kepada Bowo—salah satu sahabatnya— beberapa hari yang lalu. Namun Bowo pun ternyata sependapat dengan Khalisa, ia juga melarang keras Fathir. Mengingat sebentar lagi merupakan hari pernikahan para sahabatnya, Bowo berpikir alangkah Fathir menyiapkan diri se optimal mungkin.

Namun Fathir tetap kukuh dengan pendiriannya. Ada satu perasaan yang menggebu-gebu, yang selalu saja memanggil-manggil dirinya untuk kembali menaklukan tingginya puncak gunung. Di sisi lain, ingin sekali ia memberikan kejutan dan mempersembahkan secara diam-diam terhadap calon istri terkasihnya sekuntum bunga yang bisa melambangkan ketulusan, kesucian dan keabadian cinta kasihnya; Eidelweiss…
Akhirnya Bowo menyerah juga, ia kalah dengan keinginan dan watak keras sahabatnya. Ada firasat aneh yang menyelip dihati Bowo, namun dengan segera ia tepiskan dan mengucap istighfar.
Hawa dipuncak gunung itu terasa sangat dingin. Namun hal itu sama sekali tak menyurutkan niat Fathir, Bowo dan teman-teman yang lain untuk mengambil wudhu’ disana, disungai yang dingin airnya terasa seperti es. Entah mengapa kali ini Fathir bersikeras mengajak teman-temannya menunaikan ibadah sholat berjamaah dengan dirinya sendiri yang menjadi imam, Bowo pun sempat dibuat bingung dengan sikapnya.
“Ya Allah… Ada apa ini? Mengapa dia terlihat begitu berbeda?” Pikiran aneh menyelinap dihati Bowo. Fathir tak seperti biasanya, ada hal ganjil yang terlihat dari semua sikapnya. Bowo sempat heran dengan Fathir yang sebelum keberangkatan mereka ke gunung meminta Bowo untuk mengambil gambar dirinya.
“Buat kenang-kenangan, Wo. Hehehehe…” Jawabnya cengengesan ketika ditanya. Itu bukan sikapnya Fathir! Fathir mana mau dipotret, apalagi dipotret dengan pose tersenyum seperti itu. Bowo menggelengkan kepalanya kuat-kuat, astaghfirullah…
“Wo, aku mau mengambil Eidelweiss dulu ya! Buat calon istriku tercinta, Wo!” Ujar Fathir mengutarakan keinginannya sesaat setelah menunaikan ibadah sholat.
“Nanti saja, Fathir… Ntar kita-kita juga pada mau ngambil, kok. Barengan aja, ntar…” Bujuk Bowo.
“Nggak apa-apa, Wo. Gue duluan aja, udah nggak sabaran gue pengen mempersembahkannya pada calon istri gue.” Fathir tersenyum, pandangannya menerawang jauh mengingat Khalisa. “Aku sangat mencintaimu, Khalisa… Sampai akhir hayatku, cintaku suci hanya untukmu…” batin Fathir.
“Mendingan kita istirahat dulu deh, masih lelah juga kan?”
“Kalian aja deh, kayaknya aku nggak punya banyak waktu deh Wo.” Tolak Fathir sambil berlalu meninggalkan Bowo.
“Oh, ya sudah… Hati-hati kamu.” Ujar Bowo menyerah. Fathir hanya melambaikan tangannya diiringi oleh tatapan Bowo, Fathir terlihat macho dan gagah. Tak berapa jauh ia berjalan, tiba-tiba saja Fathir berhenti dan membalikkan badannya.
“Woooo…!!! Kok aku kangen banget ya ama Khalisa?” Teriak Fathir dari jauh.
“Eh kamu, cepat balik! Kasihan calon istri kamu!” Bowo mengalihkan pembicaraan. Ia dihinggapi oleh perasaan yang tak enak. Ada segurat senyum aneh yang terbias dari sudut bibirnya Fathir, namun cepat-cepat ia singkirkan firasat buruknya itu.
“Khalisa juga pasti sangat merindukan kamu, Fathir! Makanya cepat balik!” Imbuhnya lagi sambil berteriak balik.
“Iya, Wo! Calon istri aku cantik kan, Wo? Aku tak salah pilih, kan? Aku sangat mencintainya, Wo!” Fathir terus saja berjalan beringsut mundur, berteriak bersahut-sahutan dengan Bowo.
“Wo…!!! Bilang sama Khalisa bahwa aku teramat sangat mencintainya! Dia segalanya bagiku Wo, dia bidadari hatiku…!!!” Fathir berteriak dengan kedua telapak tangan yang membentuk corong dimulutnya. Sesaat kemudian ia berbalik pergi. Bowo mengiringi kepergian Fathir sesayup-sayup mata memandang sampai ia hilang menyelinap dibalik pepohonan.
Fathir melangkah dengan semangat, ia pasti bisa mempersembahkan bunga keabadian itu untuk Khalisa. Khalisa pasti takkan terhadapnya ketika ia memberikan sekuntum Eidelweiss. Eidelweiss itu sulit dijangkau! Ia tumbuh ditepi-tepi jurang. Huft, butuh perjuangan demi kekasih tercinta, namun Fathir tetap berusaha menjangkaunya.
Fathir mencondongkan tubuhnya lebih jauh ke tepi jurang, ia berusaha menjangkau bunga itu sepanjang yang ia mampu. Namun nihil, bunga itu masih terlalu jauh dari jangkauannya. Tapi Fathir tetaplah Fathir, bagaimana pun ia tetap berusaha keras. Ia berusaha turun sedikit kedalam jurang dengan berpijakkan pada sebuah batu cadas yang agak menonjol dipinggiran tebing. Sebelah tangannya yang kokoh berpegangan pada akar pohon yang menonjol, dengan bertumpukan lutut ia kembali menjangkau bunga tersebut. Dan, HUP!
Fathir berhasil menjangkau Eidelweiss tersebut! Ia girang bukan buatan! Tanpa sadar Fathir melepaskan sebelah tangannya yang sedari tadi bertahan pada akar pepohonan tersebut karna kegirangannya. Ia panik ketika dirasa tubuhnya condong kebawah! Dibawah sana, telah menanti hamparan bebatuan cadas yang siap menantinya seandainya dia jatuh.
Tidak! Ia tak boleh jatuh! Ia harus bisa mempersembahkan bunga itu untuk Khalisa! Fathir semakin menggenggam erat Eidelweiss yang berada ditangannya.
“ARRGHHH…!!!”
BRAAAKKK…!!!

Darah Bowo terkesiap! Jantungnya berpacu cepat mendengar suara benda patah yang keras terjatuh diiringi oleh sebuah teriakan lantang. FATHIR!!!
Secepat kilat Bowo berlari berusaha menghampiri kearah sumber suara tersebut. Bowo berteriak-teriak mengagetkan teman-temannya yang lain, raut wajah panik membias dari wajah-wajah mereka.
Bowo terlebih dahulu berlari dan terus berlari meninggalkan teman-temannya. Ya Allah, didapatinya Fathir tengah berpegangan pada seuntai akar kayu yang menonjol dari balik bebatuan di pinggiran jurang, sementara kedua kakinya bertumpu pada pinggiran tanah yang menonjol seperti sebuah ceruk kecil. Fathir tergelincir jatuh, Bowo bergidik ngeri membayangkan apa yang terjadi seandainya ia jatuh kebawah sana.
“FATHIIIRRR…!!! BERTAHANLAH!” Teriak Bowo! Serta merta Bowo langsung merebahkan tubuhnya tengkurap ditanah, berusaha menjangkau Fathir yang berada kira-kira hampir 2 meter dibawahnya. Namun tangan Bowo tak sampai meraihnya. Bowo kehabisan akal, dengan segenap usaha ia mencoba mengaitkan ujung kakinya pada akar pepohonan yang mencuat dari dalam tanah.
“FATHIR, RAIH TANGANKU!!!” Teriak Bowo panik.
“AYO THIR, PEGANG TANGAN AKUUU…!!!” Teriak Bowo lagi. Terlihat Fathir berusaha sekuat tenaga mencoba menjangkau tangan Bowo, namun usahanya urung membuahkan hasil.
“LEPASKAN BUNGA ITU!!! JANGKAU TANGANKU!!!”
“NGGAK WO, AKU NGGAK AKAN MELEPASKAN BUNGA INI! INI BUAT KHALISA, WO! BUAT CALON ISTRI GUE!!!” Fathir balas teriak. Mukanya terlihat merah padam dengan nafas yang megap-megap.
“BUNGA ITU BISA KITA DAPATKAN LAGI!!! YANG PENTING SEKARANG KAMU BUANG ITU BUNGA DAN JANGKAU TANGANKU!!!” Bowo berteriak berang.
“NGGAK WO, NGGAK AKAN!”
“FATHIR!!!” Akar pohon yang ditumpangi Fathir mulai genting. Bowo semakin panik melihat hal itu. Fathir menoleh kebawah, terbayang senyum manis Khalisa dipelupuk matanya. Tiba-tiba saja ia meneteskan airmata.
“INI BUKTI CINTAKU PADA KHALISA, WO…” Ia mendongak keatas.
“AKU SANGAT MENCINTAINYA….”
TESSS…!!!
Tiba-tiba saja akar pohon itu putus. Untung saja Bowo yang telah siaga dari tadi berhasil menangkap tangan Fathir. Mereka berdua terlihat pucat, terlebih-lebih Bowo. Apa yang akan dia sampaikan pada Khalisa jika terjadi sesuatu yang tak mengenakkan pada calaon suaminya? Tidak–tidak–tidak! Dia tak bisa membiarkan hal itu terjadi! Di lain pihak, Fathir terlihat pasrah dengan wajah pucatnya yang pias.
“JANGAN LIHAT KEBAWAH! AKU MOHON JANGAN! KAMU HARUS BERTAHAN! SEBENTAR LAGI MEREKA AKAN DATANG!” Bowo berusaha memberikan semangat pada Fathir. Akan tetapi ia juga tak bias memungkiri kata hatinya, ia risau, gelisah melihat keadaan ini. Ahh… Kemana teman-temannya? Mengapa mereka belum muncul-muncul juga?
Perlahan-lahan Bowo merasakan pegangan tangan Fathir terhadapnya mulai melemah.
“FATHIR…!!! BERTAHANLAH! BUANG ITU BUNGA!!!”
“WO… AKU UDAH NGGAK KUAT LAGI…” Tangan Fathir terus saja tergelincir turun akibat keringat yang mengalir buat pegangannya terasa licin.
BRAAAKKK…!!!
Tiba-tiba saja terjadi longsor pada pijakan Fathir yang membuat tubuhnya terhempas kebawah. Mau tak mau tubuh Bowo ikut terseret menahan bobot tubuh Fathir yang semakin menjadi-jadi. Alang-kepalang Bowo semakin kalut, untung saja ia berhasil menjangkau batu besar yang ada dipinggiran tebing.
“WOOO….!!!” Teriak Fathir.
“LEPASIN AJA AKU, WOOO…!!!” Fathir berteriak lemah. Tubuhnya mulai melemah dan letih dengan nafas yang makin tersengal-sengal, ia terlihat sangat putus asa. Ia tau ia takkan sanggup bertahan lebih lama lagi. Mungkin saja ia bisa bertahan dengan melepaskan Eidelweiss yang beada digenggaman tangannya dan berusaha meraih lengan Bowo dengan kedua tangannya, namun tidak! Dia takkan pernah melakukan hal itu, dia takkan pernah melepaskan Eidelweiss yang telah ia dapatkan dengan bersusah payah, meskipun nyawa taruhannya! Ia akan tetap mempersembahkan sekuntum bunga Eidelweiss dihadapan Khalisa terkasihnya; Hidup atau Mati!
“FATHIR!!! UNTUK KALI INI TOLONG DENGARKAN KATA-KATA AKU!”
“JANGAN PAKSA AKU WO, APA PUN YANG TERJADI AKU TAKKAN PERNAH MELEPASKANNYA!”
“BUNGA ITU TAKKAN ADA NILAINYA, MASIH BISA KITA DAPATKAN LAGI!!!”
“TIDAK WO, KAMU SALAH! BIAR BUNGA INI AKU BAWA PERGI, KAN KUPERSEMBAHKAN UNTUKNYA NANTI.”
“FATHIR!!!”
“WO, AKU UDAH NGGAK KUAT LAGI…”
“LEPASKAN!!! AKU BILANG LEPASKAN BUNGA ITU! KAMU PASTI BISA! TAK INGINKAH KAMU MENIKAHI KHALISA? INGAT, DIA TENGAH MENANTIMU!!!” Bowo berusaha menyemangati Fathir agar dia mampu bertahan.
“WO… SAMPAIKAN PERMINTAAN MAAFKU KEPADA KHALISA. AKU… AKU SUNGGUH-SUNGGUH MENCINTAINYA WO, SUNGGUH…!!! BILANG KEPADANYA, BAHWA AKU TERAMAT SANGAT MENCINTAINYA. DIALAH SATU-SATUNYA WANITA YANG ADA DIHATIKU, SELAIN IBU… AKU MENCINTAINYA WO, DIA ANUGERAH TERINDAH YANG PERNAH SINGGAH DALAM HIDUPKU…” Setetes buliran bening mengalir pelan dari sudut mata Fathir dan bergulir luruh jatuh kebawah kedalam jurang. Dia terpekur sejenak, “Kamu benar Wo, aku akan menantinya… Tapi tidak disini, tidak didunia ini.” Desisnya lirih. Fathir berujar sedih. Maafkan aku, Khalisa… Maafkan aku… Sampai kapan pun, ku kan selalu mencintaimu, Sayang…
Kemudian ia kembali menengadahkan kepalanya, menatap Bowo dalam-dalam. Luka dan kesedihan yang teramat sangat terpancar dari sorot mata elangnya Fathir yang tajam, namun sekarang mata itu tengah berkaca-kaca.
“MAAFKAN AKU, SOBAT…” Fathir tersenyum, senyumannya terlihat sangat menawan yang tak pernah terlihat sebelumnya. Bowo terkesima ketika perlahan-lahan Fathir mulai melepaskan genggaman jemarinya satu-persatu. Ia merasa sudah waktunya, tak sanggup lagi bertahan lebih lama. Fathir terus saja menyunggingkan seulas senyum kearah Bowo yang dilihatnya masih saja terdengar berteriak-teriak panik, teriakan yang sama sekali tak lagi terdengar jelas ditelinganya.
“JANGAN LEPASKAN…!!! JANGAN LEPASKAAAN…!!!”
“WO…” Desisnya parau.
“BERTAHANLAH! JANGAN MENYERAH!!!”
“SEKALI LAGI, MAAFKAN AKU WO… AKU SUDAH NGGAK KUAT LAGI…”
“LIHAT AKU!!! JANGAN LIHAT KEBAWAH!!!”
“WO… SEMOGA KITA SEMUA BISA BERJUMPA LAGI SUATU SAAT, DISUATU TEMPAT… SAMPAIKAN PERMINTAAN MAAFKU TERHADAP SEMUANYA. MAAFKAN AKU, WO…”
“FATHIRRR…!!! KAMU PASTI BISA!!!”
“ALLAHU AKBAR!!! ALLAHU AKBAR...!!!”
“FATHIRRR…!!!” Tiba-tiba saja dari arah belakang Bowo segerombolan teman-temannya datang berhamburan. Mereka terlihat dengan panik berusaha melempar tali tambang kea rah Fathir yang telah diikat ke pohon besar sebelumnya.
“ALLAHU AKBAR!!! ALLAHU AK—”
BRAAAAKKKK…!!!!!!!!!!!!!!!
Manusia hanya bisa berencana dan berusaha, namun Allah jugalah yang menentukan. Pegangan tangan Fathir terlepas bersamaan dengan dilemparkannya tali tambang yang tak terpegang olehnya.
Bowo terkesiap dan terbelalak kaget! Ia ternganga melihat tubuh sahabatnya jatuh melayang kedalam jurang dengan posisi kepala berada dibawah menghantam bebatuan cadas! Dan tubuh itupun tergeletak diam dengan kondisi yang mengenaskan. Bowo terpana, jiwanya terguncang! Sesaat ia merasa semuanya berputar, berkunang-kunang, dan tiba-tiba menjadi gelap. Ia tak sadarkan diri.
“TIDAK…!!! TIDAAAKK…!!! TIDAAAAAKKK……..!!!!!!!!!”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar