“LOVE AND SACRIFICING_Part. 4”
(KHALISA_2)
By: Naomi
THOU CONVERSATIONS & FLASHBACK MEMORY
“Jadi kakak bukan mantan pacarnya? Tapi mengapa komentarnya kak Khalisa bisa seperti itu, ya?” Tanya Carmen disuatu siang saat lunch time bersama Khalisa di sebuah café yang berada dikawasan Setia Budi tersebut, yang berada tak jauh dari kantornya Khalisa. Khalisa hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Bukan.” Jawab Khalisa tenang sembari mengaduk-aduk isi orange juice dingin yang berada dalam gelas kaca.
“Aku sengaja seperti itu karena… ya nanggung aja, kepalang basah sih soalnya. Bahkan aku sama sekali tak mengenalnya.” Lanjutnya lagi sambil tertawa renyah.
“Lho, maksudnya kakak?” Kejar Carmen bingung sembari menyuap sesendok nasi kemulutnya. Khalisa hanya tersenyum melihat sebutir nasi yang menempel dengan manisnya dibibir Carmen, ia pun memberikan gerak isyarat pada Carmen dengan jemarinya yang menunjuk kearah bibirnya sendiri.
“Ups! Maaf, kak. Hehehehe…” Carmen malah tertawa kecil dengan tengilnya dan mengambil selembar tissue. Dengan segera ia menyeka bibirnya.
“Udah, kak?” Tanyanya lagi sambil memonyongkan bibirnya. Khalisa hanya mengangguk. Ia sangat mengagumi bentuk bibirnya Carmen, bibir yang sensual. Dari keseluruhan penampilan fisiknya Carmen, bagian bibir dan matanyalah yang paling indah. Ingin sekali ia memiliki bentuk bibir yang seperti itu, tapi tak mengapa, karena ia sangat mensyukuri apa-apa pemberian Tuhan kepadanya. Namun ia akan tertawa geli ketika melihat mata bulatnya Carmen yang belo’ dan besar. Akan terlihat lucu jika bola matanya bergerak-gerak lincah seperti mata kelinci, karna di negerinya sendiri tak ada orang yang mempunyai mata belo’ seperti Carmen.
“Eh, kak. Kakaaaak…! Kok jadi bengong dan senyum-senyum sendiri gitu, sih? Hmmm… Si kakak Mulai kumat, nih!” Carmen mengacung-acungkan garpunya didepan wajah Khalisa.
“Apa kamu mau menusuk aku dengan garpu itu?” Khalisa mendelik.
“Hehehehehe… Ya enggaklah, kak…” Carmen tertawa cengengesan.
“By the way, kamu tahu tidak, kalau kamu ke Jepang, mereka akan tertawa geli dan takjub melihat kamu.” Khalisa menyambar garpunya Carmen dan menusuk kentang goreng yang ada di piring Carmen. Enak juga, batinnya ketika kentang itu sampai dilidahnya.
“Kenapa? Apa ada yang aneh?” Sahut Carmen cuek.
“Yaaa… Karna di Jepang sendiri tak ada yang bermata belo’ seperti kalian.” Terang Khalisa sambil tersenyum simpul dan menautkan kedua jemarinya diatas meja setelah meletakkan garpu di piring.
“Kalian seperti keluarga Bart Simpson! Hahahahaha… Aku saja sampai membuat komik karikatur wajah kalian dalam ukuran besar itu lho! Dan karikatur kalian itu aku pajang di dinding kamarku yang ada disana. Lumayanlah, buat nakut-nakutin tikus dan bikin aku tertawa geli setiap kali aku melihat tampang-tampang konyol kalian.” Khalisa mulai tertawa geli.
“Kakak udah gila kali, ya? Ketawa ama yang kayak begituan. Lihat, dong!” Gerutu Carmen mulai penasaran.
“Eits, nggak bisa! Koleksi pribadi!”
“Pelit!”
“Biarin!”
“Wew…!” Cibir Carmen kesal kearah Khalisa.
“Dasar!” Khalisa hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Oh iya, pertanyaanku tadi dijawab dong, kak…” Desak Carmen sambil merungut.
“Itu, bininya itu marah-marah sama aku melalui pesan masuk facebook. Dia bilang aku ini pengganggu suami dan rumah tangganya. Padahal, lakinya sendiri aja yang kegatelan pake ngerayu-rayu segala bilang aku cantik dan seksi.” Jelas Khalisa.
“Hahahahaha… Salah sendiri, ngapain juga ‘garis khatulistiwa’ pakai diumbar kemana-mana? Terang aja monyet-monyet pada ileran melihatnya.” Carmen tertawa lepas, dua jarinya–jari tengah dan telunjuk–membentuk huruf ‘V’ saat bilang garis khatulistiwa, mengarah kebelahan dadanya Khalisa. Khalisa hanya tersenyum tenang menanggapi ledekan Carmen.
“Oleh karena itu, dari pada aku dituduh-tuduh, mending aku kerjain aja dianya sekalian! Nanggung berantem, kan?” Terangnya santai.
“Idih si kakak, iseng banget sih kak..! Kupikir dia mantannya kakak, tau! Hahahaha…” Carmen mengerdip nakal.
“Orang seperti itu jadi mantan aku? Ih, amit-amit! Nggak deh, makasih! Aku memang tak penah melihat penampilan fisik seseorang. Aku bisa saja jatuh cinta dengan seseorang, kalau orang tersebut memiliki hati yang baik serta sikap yang sopan. Tapi jatuh hati ama Qionk? Hohohoho, jelas tidak! Tampangnya tidak fresh sama sekali. Nggak enak dilihat, seperti tampang pemake! Kayaknya pergaulannya tidak benar, bukan seperti orang baik-baik.” Raut wajah Khalisa berubah jutek.
“Dan kamu, kok bisa-bisanya sih kamu dulu itu jadian dengan orang seperti itu?” Khalisa balik bertanya.
“U-huk!” Carmen tiba-tiba saja jadi batuk tersedak. Buru-buru disambarnya segelas air dan menenggaknya sampai habis. Khalisa memperhatikan Carmen dengan seksama. Terlihat Carmen menghela nafas panjang sesaat setelah dia meletakkan gelas yang kosong diatas meja.
“Aku tertipu kak, mungkin lebih tepatnya ditipu.” Pandangan Carmen terlihat menerawang.
“Tadinya dia berjanji untuk berubah, dan aku hanya mencoba memberi kesempatan padanya. Dia juga sempat menakuti-nakuti aku dengan ancaman akan menyayat-nyayat pergelangan tangannya dengan namaku, nge-drugs atau suicide seandainya aku meninggalkannya. Jujur kak, aku tak suka dicancam seperti itu. Sikapnya lama-lama buatku lelah dan jenuh! Tak jarang dia marah-marah nggak jelas dan cemburu buta, lalu menuduh-nuduh aku selingkuh. Aku capek kak diperlakukan seperti itu…” Cerita Carmen.
“Tapi kamu tetap menerimanya, kan?” Khalisa menyerang Carmen dengan pertanyaannya yang terdengar menyudutkannya. Carmen pun mengangguk lemah, tak berani menatap tajamnya mata Khalisa.
“Aku terpaksa, kupikir dia akan berubah…” Kilahnya.
“Bodoh kamu! Dia takkan pernah berubah! Kenapa nggak sekalian aja ama jidatnya ditoreh dengan namanya kamu? Biar lebih jelas kelihatannya, bukan!” Khalisa mendengus kesal, intonasi suaranya mulai terdengar tinggi.
“Iya kak, aku tau. Itulah kebodohanku, terlalu naїf dan gampang banget percaya pada saat itu.”
“Untung saja kamu sudah lepas darinya dan memiliki seorang kekasih yang hebat dan baik seperti Claude. Kamu itu cuma dimanfaatin saja oleh si Qionk! Nuduh-nuduh selingkuh, padahal dia sendiri yang pacarnya bertebaran dimana-mana. Huh! Laki-laki macam apa itu!”
“Aku bersyukur dan lega banget bisa putus dari Qionk. Sudah dari dulu ingin sekali rasanya bisa putus dari dia, tapi aku tidak pernah bisa tega memutuskan orang terlebih dahulu. Aku takut karma, aku takut jika suatu saat aku juga ditinggalkan oleh orang yang benar-benar aku cintai. Hhh…” Carmen menghembuskan nafasnya.
“Qionk selalu saja menyakiti hati dan melukai perasaanku kak, sepertinya dia senang bisa membuatku menangis sedih karnanya. Tapi Claude dengan sabar dan telatennya bisa memulihkan luka hati dan kepercayaanku tehadap seorang pria, dan cinta. Ia selalu saja tau bagaimana caranya buatku tertawa dan mengenyahkan dukaku. Dan akhirnya aku benar-benar jatuh cinta terhadapnya, kak.”
“Itulah hebatnya Claude, kamu beruntung mendapatkannya. Jika aku mendapatkan seseorang seperti Claude, aku rela memberikan apapun hanya untuknya. Asal kamu tau, sangat susah menemukan orang sebaik Claude, apalagi di zaman sekarang ini.”
“Kakak benar. Dari sebanyak itu pria yang aku kenal, Claude lah yang terbaik.”
“Ingat Carmen, jangan pernah meninggalkan Claude. Atau kamu akan menyesal nantinya.”
“Tidak kak, sama sekali tak terniat dihatiku untuk pergi jauh darinya apalagi sampai meninggalkannya. Aku sangat mencintainya kak, dia segala-galanya bagiku.” Carmen tersenyum bahagia meski matanya terlihat berkaca-kaca. Khalisa juga turut bahagia dan terharu melihat betapa mereka sungguh saling mencintai satu sama lain. Cuma terkadang ia tak habis pikir, mengapa selalu saja ada orang yang iri dengan kebahagiaan mereka dan ingin menghancurkannya? Claude bukanlah orang yang jahat, akan tetapi mengapa begitu banyak sekali orang yang tega berbuat jahat dan menyakitinya ya?
Dan Carmen, dia hanyalah seorang wanita sederhana. Tidak cantik memang, tapi mempunyai daya tarik yang luar biasa. Wajahnya enak dilihat dan tidak membosankan. Banyak yang mengejar-ngejarnya meski terkadang ia menjadi risih dan tak nyaman dengan semua perlakuan mereka yang melakukan segala upaya demi merebut perhatian dan cintanya. Namun Carmen sama sekali tak bergeming. Hati, cinta, perasaan, perhatian, tubuh dan pikirannya hanya tertuju pada satu orang, Claude!
Semenjak Claude menjalin cinta dengan Carmen, begitu banyak tekanan dan terror yang dia peoleh dari orang-orang yang tak dikenal. Bahkan Claude pernah diancam mau dibunuh oleh suruhan seseorang. Kemana pun ia pergi, selalu saja ada yang membuntuti dan memata-matai gerak-geriknya. Intinya cuma satu; Jauhi Carmen jika tak mau nyawanya hilang!
Namun kekuatan cinta selalu saja menang! Mereka masih dan selalu akan tetap bertahan meski maut memisahkan cinta mereka. Kalau tak ajal, berpantang mati! Kalau pun mati, kisah cinta dihati mereka dihati akan tetap abadi.
Itu juga yang dirasakan Khalisa. Dia memiliki dua keajaiban cinta yang pernah singgah dihidupnya, namun pergi meninggalkannya selamanya. Tapi cintanya tidak akan pernah mati, kan selalu bersemi didalam hatinya sampai akhir hayatnya nanti.
Kekasihnya yang pertama pergi meninggalkannya dua minggu menjelang hari pernikahan mereka. Fathir, sosok pemuda tinggi tegap, macho, gagah dan tampan. Berasal dari keluarga sederhana, namun mempunyai sebuah cinta dan kesetiaan yang luar biasa. Dia mau melakukan apa saja demi membahagiakan Khalisa. Dimatanya Khalisa merupakan sosok wanita yang sempurna. Ia sangat mencintai Khalisa dan berniat untuk mempersunting menjadi permaisuri dihatinya dan ibu dari calon anak-anaknya kelak. Bahkan demi mempertahankan cintanya yang tulus, ia rela jadi bulan-bulanan keroyokan oleh orang-orang suruhan karena rencana pernikahan mereka yang tak disetujui. Fathir hanya tersenyum saja menerima semua cobaan itu, ia tak pernah merasa gentar! Cintanya takkan lekang oleh apapun, rasa yang dia miliki terlalu indah, sakral dan pantas dipertahankan.
Fathir bukanlah orang yang orang yang silau dengan harta maupun kecantikan seseorang, namun keanggunan dan kebaikan hati Khalisa serta sikap membuminya membuat Fathir jatuh hati. Mati-matian ia mencintai Khalisa, menjaga wanita yang dicintai sepenuh hatinya. Tak sedikit pun terniat dihatinya untuk menyentuh Khalisa sampai saatnya tiba, yakni hari pernikahan mereka.
Manusia cuma bisa berencana, namun Allah jugalah yang akan menentukan semua. Dua minggu menjelang hari pernikahan mereka, entah mengapa Khalisa mempunyai firasat yang aneh. Perasaannya sama sekali tak enak, hatinya gelisah tak menentu. Rasanya ingin ia menangis tapi tak tau sebabnya, hatinya terasa sedih dan pilu.
Untuk mengusir perasaan gundah gulana, Khalisa mengambil segelas air yang ada dimeja kerjanya. “Bismillah…” Khalisa mendekatkan pinggiran gelas kearah bibirnya. Dan,
PRAAANG…!!!
Khalisa terkejut! Tiba-tiba saja gelas yang berada digenggaman tangannya pecah berderai tanpa sebab. Serpihannya mengenai telapak tangannya hingga menimbulkan luka robek dan berdarah. Khalisa meringis kesakitan sembai mencabut serpihan kaca yang menempel ditelapak tangannya. Darah pun mengucur, tapi ia tak menghiraukan luka itu. Perasaan gelisah pun semakin menjadi-jadi menyerangnya, ia terguncang! Berkali-kali ia istighfar dan memutuskan mengambil wudhu’, bersujud dan berserah diri pada Allah mengadukan semua kegelisahan hatinya. Semoga semua itu hanya sekedar firasat yang salah…
*************************************
To be continue…

Tidak ada komentar:
Posting Komentar