“LOVE AND SACRIFICING_Part. 6” (KHALISA_4)


“LOVE AND SACRIFICING_Part. 6”
(KHALISA_4)


By: Naomi

I WILL SURVIVE!


“Kak, ada apa? Kenapa kakak jadi bersedih?” Tegur Carmen membuyarkan lamunan Khalisa.

“Aku… Ahh… Nggak ada apa-apa, adik… Aku nggak kenapa-kenapa…” Tepis Khalisa tersenyum seraya menyeka sudut-sudut matanya yang berkaca-kaca dengan selembar tissue.


“Hanya saja… aku teringat kakak ipar kamu Carmen, almarhum Fathir...” Akhirnya Khalisa mengakui juga perasaan hatinya. Bagaimana pun ia masih saja merindukan Fathir, meski tahunan telah berlalu semenjak tragedi itu. Fathir adalah sosok laki-laki pelindung yang sangat sempurna dimatanya. Ia sangat sopan, sangat mencintai Khalisa dan menghargai kaum hawa. Terlebih-lebih Fathir sangat memanjakan dirinya. Kepergian Fathir sungguh membuat dirinya terguncang dan terpukul hebat, ia tak siap menerima itu semua menjelang hari pernikahan mereka.

Semua detail cerita tentang ‘kepergian’ Fathir ia dapatkan melalui rekaman kamera kecil yang teronggok kuat di helm yang dikenakan Bowo. Ia tak kuat dan tak sanggup melihat kondisi tragis tubuh calon suaminya itu, hatinya hancur berkeping-keping. Hanya Sang Khalik-lah yang tahu perih hatinya.

Betapa perih dan hancur perasaanya ketika ia mendapatkan kondisi Fathir tengah menggenggam erat sekuntum bunga Eidelweiss ditangannya saat setelah jenazahnya diangkat dari dasar jurang oleh Tim SAR. Mereka sangat kewalahan membuka dan melepaskan bunga itu dari kepalan tangan almarhum, sehingga satu-satunya jalan adalah mereka harus menyentak dan merenggut bunga itu dari genggaman almarhum Fathir. Bunga cinta abadi Fathir pun luruh terenggut paksa, bunga cintanya untuk Khalisa.

“Kak, tolong jangan bersedih… Kumohon, kak… Almarhum kak Fathir pasti juga tak akan suka melihat kakak bersedih seperti ini. Kakak harus kuat dan tegar seperti Khalisa yang pernah ia kenal…” Hibur Carmen sambil menggenggam tangan Khalisa, berusaha menguatkan hatinya yang sedang rapuh. Ia tak tahan melihat Khalisa bersedih, Khalisa baginya adalah seorang kakak dan panutannya yang sangat ia sayangi. Sedihnya Khalisa, dukanya dia juga.

“Kenapa kakak tak mencoba membuka hati lagi, kak? Biar hati kakak tak lagi kesepian…” Tanya Carmen hati-hati. Khalisa tertawa berderai sambil menyusut airmatanya.

“Siapa yang kesepian, Adiiik…??? Aku takkan pernah merasakan kesepian selama kalian-kalian yang gila ada disamping aku…” Khalisa masih saja tertawa kecil.

“Gila…??? Diiiihhh… Kakak aja kali yang gila, aku mah waras! Terbukti kebenarannya!” Sungut Carmen.

“Hahahaahahaha…” Khalisa malah tertawa geli, dia senang sekali menggoda Carmen dan melihatnya cemberut.

“Aku sedang tak ingin mencari, Carmen… Semenjak kepergian Fathir dan Abin, aku hanya ingin sendiri adik… Mencoba untuk  lebih mendekatkan diri pada Allah, karna kita takkan pernah tahu kapan kita akan dipanggil olehNYA. Yang jelas, mari kita mempersiapkan bekal untuk di akhirat nanti.” Air muka Khalisa terlihat tenang dan anggun. Carmen jadi terpana, mulutnya menganga akibat terpesona dengan kata-kata bijak Khalisa yang berbau religi barusan.

Abin, kekasih hati Khalisa yang kedua. Penampilannya yang cool membuat Khalisa jatuh hati. Sebenarnya juga tak mudah bagi Khalisa untuk jatuh hati, mengingat kisah percintaannya yang tragis sebelumnya. Bertahun-tahun ia mencoba memulihkan hatinya yang luka sampai akhirnya ia menemukan sosok itu kembali dalam diri seorang Abin. Namun ternyata Allah kembali menguji kembali cintanya, Abin di vonis menderita kanker otak stadium lanjut, usianya hanya tinggal menunggu hitungan waktu.

Sungguh Khalisa kembali terpukul, tapi apa daya, ia hanya bisa pasrah dengan takdir yang telah dituliskan Allah untuknya. Terpuruk, sangat terpuruk, akan tetapi ia tak mau menjadi lemah hanya karna hal itu. Dia yakin dan percaya bahwa Allah punya rencana dan rahasia dibalik itu semua. Dan yang hidup, suatu saat pasti akan kembali berpulang kepadaNYA. Seperti Fathir dan Abin, yang telah terlebih dahulu menjumpai Sang Khalik.

Hal itulah yang membuat Carmen semakin mengagumi Khalisa. Dia gadis yang pantang menyerah dan tetap semangat menjalani hidup meski kenyataan pahit bertubi-tubi menderanya. Namun ia tetap tersenyum dan tak pernah menyalahkan Allah yang telah mengujinya sedemikian rupa.

Khalisa bukanlah seorang perempuan biasa! Jika di Indonesia ada Cut Nyak Dien, Siti Manggopoh atau R. A. Kartini, di Jepang siapa ya pahlawan perempuannya? Mungkinkah Khalisa? Ya, bisa saja! Who knows? Carmen hanya ingin belajar menjadi seorang perempuan setegar Khalisa. Ia jadi tersentak kaget ketika Khalisa mengatupkan mulut Carmen yang masih menganga dengan jari telunjuknya yang berada didagu Carmen.

“Jelek, tau!  Sampai berceceran begitu, ck-ck-ck-ck…” Ledek Khalisa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Carmen jadi tersipu malu, namun rasa kagum akan Khalisa masih bersemayam dihati dan terpancar dari sorot matanya.

“Well, aku pikir sudah saatnya aku mengantarkan kamu kembali ke hotel, Carmen. Sudah terlalu sore, mungkin Claude akan kebingungan mencari kamu.” Ujar Khalisa. Mereka pun bersiap-siap dan segera meninggalkan resto yang nyaman tersebut. Disepanjang perjalanan mereka hanya diam, larut dengan pikiran masing-masing.

Khalisa mungkin telah kehilangan dua hati yang dicintai dan mencintainya, tapi dia tak ingin lagi kehilangan arti sebuah keluarga dan persahabatan.

“Kalian semua sangat berarti bagiku…”



*************************************

Pesawat itu terbang merendah dan menukik turun ke landasan, bunyi bannya terdengar berdecit saat bersentuhan dengan aspal. Bandara Kochi Tokyo telah tampak didepan mata, perlahan-lahan pesawat itu pun begerak pelan dan berhenti. Pintu keluar pun telah terbuka tak lama setelah para pramugari dan pramugara memberikan instruksi penjelasan. Tuan Hikaru—ayahnya Khalisa—tengah bersiap-siap hendak bangkit berdiri dari tempat duduk dan beranjak turun meninggalkan pesawat. Namun ia mengurungkan langkahnya dan terenyuh sedih menatap putrid sulungnya yang tengah tertidur.

“Sweetie, wake up dear… Kita telah sampai di bandara Kochi.” Tuan Hikaru menepuk-nepuk lembut pundak Khalisa. Suara berat ayahnya membuat Khalisa terbangun dari tidurnya. Ia menguap dan menggeliat perlahan sembari mengerjap-ngerjapkan mata.

“Papa…” Panggilnya lirih.

“Iya, Khalisa? Papa disini, Nak…” Jawab Tuan Hikaru kebapakan.

“Aku mencintai Papa…”

“Ahh… Khalisa… Papa juga mencintai kalian semua, Sayang…” Setitik haru menyelinap dihati Tuan Hikaru, matanya berkaca-kaca. Ayah dan anak itu pun saling berangkulan, Tuan Hikaru memeluk Khalisa dengan perasaan kasih seakan-akan ingin melindungi putrinya dari hal apapun yang akan membuat hati putrinya terluka lagi. Ia tak lagi ingin melihat guratan duka itu terpancar dari sorot mata putrinya, ia berjanji pada dirinya sendiri.

“Papa, sudah…” Khalisa melepaskan dirinya dari pelukan papanya. Entah mengapa ada rasa tenang yang menghinggapi relung hatinya yang paling dalam. Sambil tersenyum, ia pun mengemasi barang bawaannya.

“Ayo, Papa…!” Seru Khalisa setengah berlari meninggalkan Tuan Hikaru. Tuan Hikaru hanya tersenyum menatap punggung Khalisa dan bergegas mengejar dan menyamakan langkah mereka.

“Apapun itu, aku harus tetap tegar dan kuat demi mereka!” Senyum manis terumbar dari bibir tipisnya Khalisa.

“Demi Mama, Papa, Keiko, dan kalian… Sahabat-sahabatku… Aku menyayangi kalian semua…” Dengan pasti Khalisa mengayunkan langkah yang mantap. Saatnya untuk kembali menaklukkan menara Tokyo!

Well Tokyo, here I comeee…!!!

*************************************








Tidak ada komentar:

Posting Komentar