THOU SPIRITS DIALOG

THOU SPIRITS DIALOGUE


By: Naomi
           

TENG…!

Jam dinding kuno itu berdentang satu kali. “Hoaaaamhhh… Pukul 1 lewat tengah malam ternyata.” Gumamku lirih seraya beranjak mematikan komputer yang sedari tadi menyala begitu saja dimeja belajarku. Sebenarnya ada tugas presentasi yang harus kukerjakan, namun entah mengapa penyakit malas mulai menyerangku. Dan kupikir, aku tak harus terburu-buru, kan? Berhubung deadline-nya minggu depan, so aku benar-benar harus matang menyiapkan materi. Dan itu tak boleh tergesa-gesa.


Dengan menyeret langkah gontai, aku berjalan pelan menuju pembaringan dan  menghenyakkan pantat secara serampangan. Pikiranku melayang entah kemana sembari duduk bertopang dagu dipinggiran tempat tidur. “Aku rindu nenek… Sudah sebulan nenek pergi meninggalkan kami semua. Hhh… Nenek…” Batinku berujar. Aku merasa lelah, namun tak sedikit pun kantuk menyerangku.


“Ayolah, aku ingin tidur!” Ujarku pada diriku sendiri sambil merebahkan tubuh diranjang. Kutopangkan kepalaku dengan berbantalkan kedua lengan sambil menatap lurus kearah langit-langit kamar.


BUGHTT…!!!

Suatu kekuatan besar yang tak kasat mata terasa menghantam dadaku dengan telak! Sesaat kurasakan tubuhku mati rasa  dan terasa ringan, meski tak ada rasa sakit sedikitpun. Dan, heeeiii…!!! Apa itu! Bukan!!! Siapa itu!!! Yang tengah terbaring ditempat tidurku beberapa meter dibawahku dan memandangku dengan mata bulat besarnya yang terbelalak!


Mungkinkah itu…. Ya Tuhan…!!!


Mungkinkah dia, adalah…….


*******************************************


Dan sekarang, sepasang makhluk itu tengah duduk santai disebelahku, disamping kanan dan kiriku. Mereka tengah berbincang diantara keremangan malam didalam kamarku yang hanya diterangi bias cahaya lampu dari jalanan luar yang berpendar kedalam kamar.

“Kau pernah ke Surga?” Berkata-lah makhluk yang ada disebelah kananku terhadap makhluk sebelah kiriku. Aku menoleh kepadanya, rupa mereka samar, tak bisa kulihat dengan jelas.


            “Hah…?!?” Makhluk sebelah kiriku terlihat terpana mendengar pertanyaan sepele dari si Jubah Putih. Ehm, aku memanggilnya si Jubah Putih karna memang pakaian yang dia kenakan tersamar putih dalam keremangan malam. Sementara dia yang tengah duduk disebelah kiriku, sepertinya mengenakan jubah hitam. Dan mari kita namakan dia si Jubah Hitam, Kawan.


            “Aku pernah.” Ujarnya lagi.


            “Kau ini bicara apa?” Si Jubah Hitam terlihat mengorek-ngorek lubang telinganya. “Jorok!” Batinku.


            “Ya! Aku bilang aku pernah. Walau tak sampai mengitari keseluruhannya,” ulang si Jubah Putih tenang. Makhluk disebelah kiriku memandangnya dengan tatapan melecehkan. Aku menjadi bingung mengikuti percakapan mereka dan menoleh kekanan dan ke kiri secara bergantian.


            “Mengapa kau menatapku seperti itu? Apa kau tak percaya pada perkataanku?” Si Jubah Putih menoleh kearahku dengan tatapannya yang tajam seakan-akan bisa menembus diriku. Tidak―tidak―tidak, dia benar-benar menembusku! Maksudku, tatapannya! Tatapannya menembusku, bukan melihatku, tapi menatap tajam kearah si Jubah Hitam ‘melewati’ aku! Tubuhku terasa dingin seakan membeku dibuatnya.


            “Kau mengkhayal, kan!” Si Jubah Hitam tersenyum sinis. Wajahnya memang benar-benar terlihat sinis! Sama sekali tak ada tampang bersahabat yang terpancar dari raut wajahnya.


            “Kau sama saja seperti mereka, tak percaya pada ucapanku…” Si Jubah putih sama sekali tak terpancing emosinya melihat sikap si Jubah Hitam. Dia tetap tenang, aura wajahnya sungguh damai dilihat.


            “Hahaha… Sepertinya aku harus menamparmu! Atau apa perlu aku memukulkan gada ke kepalamu biar kau tersadar, Pembual!” Si Jubah Hitam menyeringai lebar, memamerkan sederetan gigi-gigi tajam hitam keropos yang sama sekali tak indah dipandang mata. Dan sepertinya, aroma mulutnya juga tak sedap! Yaikh…!


            “Taukah kau Surga itu indah?” Si Jubah Putih malah memandang makhluk hitam kotor disebelahku dengan tatapan yang menyejukkan. Seulas senyum terukir disudut bibirnya.


            “Tau!” Jawab si Jubah Hitam ketus.


            “Apa kau pernah ke Surga?” Makhluk sebelah kananku kembali mengulang pertanyaannya. Kulihat makhluk sebelah kiriku terkekeh parau. Ih, bulu romaku merinding dan jadi bergidik ngeri melihat ekspresi wajahnya yang menyerupai monster dari ranting-ranting pohon mati dengan wajah kering keriput.


            “Memang kau pernah? Bicaramu tak masuk akal!” Si Jubah Hitam mengibaskan tangannya didepan wajahku. Sontak bau anyir darah menusuk indra penciumanku, aku jadi mual!


            “Tapi itulah yang terjadi…” Si Jubah Putih memandang lurus kedepan.


            “Maaf, apa kau sedang sakit? Atau terganggu otaknya?” Si Jubah Hitam kembali tersenyum mengejek.


            “Tidak, aku tidak sakit. Aku dalam keadaan baik-baik saja.” Ujarnya tenang, setenang air ditengah danau.


            “Sinting!”


            “Tadinya aku juga berpikir kau akan bilang seperti itu,” makhluk sebelah kananku tersenyum tulus.


            “Aku tak percaya!”


            “Aku tau…”


            “Tapi itu tak masuk akal!” Si Jubah Hitam mulai terlihat gusar.


            “Tidak ada yang mustahil bagi Dia kan?” Lanjut si Jubah Putih.


            “Hmm… Dia menciptakan semuanya serba sepasang, kan? Alam nyata dan alam gaib.” Si Jubah Hitam mulai goyah pendiriannya.


            “Ya… itu benar,”


            “Jangan-jangan itu tipu daya setan!” Si Jubah Hitam menduga-duga.


            “Seperti kau, begitu? Makhluk sebelah kananku kelihatan mengerutkan alisnya, ia tercenung sejenak. Aku mengangguk-anggukkan kepalaku sebagai tanda bahwa aku sangat menyetujui pendapatnya.


            “Hmmm… Kalau begitu, coba kau ceritakan bagaimana kronologisnya. Aku ingin mendengar bualanmu!” Si Jubah Hitam menyeringai lebar.


            “Itu bukan bualanku. Tidakkah kau pahami bahwa aku tidak sedang bercanda?” Terdengar nada tegas dalam suara si Jubah Putih.


            “Yeah—yeah… whatever! Lanjutkan saja, aku sedang ingin mendengarkannya! Hoaammmhhh…”  Kembali si Jubah Hitam mengibas-ngibaskan tangannya. Serta-merta aku berusaha menahan nafas, tak tahan dengan baunya!


            “Baiklah…” Si Jubah Putih menghela nafas panjang. Kemudian ia mulai bercerita.


            “Malam itu, aku tengah terbaring. Aku ingin tidur, tapi mataku tak mau terpejam. Kupanjatkan doa sebelum tidur kepadaNya, berharap aku segera terlelap. Kutatap langit-langit kamar. Tiba-tiba saja kurasakan tubuhku ringan melayang. Aku terheran, ada apa gerangan. Anehnya, aku melihat tubuhku sedang terbaring dibawah sana…” Ceritanya sambil menerawang. 

            
              Aku tergugu mendengar cerita makhluk yang berada disebelah kananku. Entah mengapa, sepertinya aku merasa ia tengah membicarakan tentang pengalaman spritual yang aku alami beberapa waktu yang lalu. Hhh... Aku bingung. Dengan penasaran aku menunggu kelanjutan kisahnya.



            “Kau mimpi, ya?” Makhluk sebelah kiriku kembali tersenyum mengejek.


            “Tidak, aku tidak mimpi. Bahkan aku pun belum sempat memejamkan mataku.”


            “Lalu?” Makhluk sebelah kiriku menyilangkan tangannya didada, ia menatap tak percaya.


            “Aku terbang melayang, memasuki satu pusaran ruang berkabut putih tebal dengan kecepatan putaran yang tinggi. Aku tak bisa melihat apa-apa saking silau dan terangnya cahaya itu. Kubuka mataku perlahan ketika kurasa kabut itu mulai menipis. Dan aku tak percaya dengan apa yang aku lihat.” Lanjutnya lagi.


            “Apa yang kau lihat?” Desak makhluk sebelah kiriku.


            “Taman dipinggir hutan. Sangat indah…” Unggahnya.


            “Ah, masa! Jangan-jangan kau dibawa temanku, hahaha…!” Si Jubah Hitam tertawa terbahak-bahak mendengar cerita si Jubah Putih.


            “Apa temanmu tinggal di negeri seindah itu? Bahkan DIA pun tak mengijinkan kau dan kerabatmu menginjakkan kaki di tanah itu, kan? Tahukah kau akan hal itu?” Serang si Jubah Putih. Tapi anehnya, wajah si Jubah Putih  tetap tak menunjukkan ekspresi apa-apa.


            “Ya! Aku tau!” Makhluk sebelah kiriku mendengus kesal.


            “Lanjutkan!” Sambungnya lagi.


            “Aku mengapung diudara, menghirup segar dan wanginya aroma bunga. Bagaikan musim semi, semua bunga bermekaran… Sungguh indah…”


            “Kau mati suri, ya?” Ejek Si Jubah Hitam.


            “Tidak, aku tidak mati suri. Namun aku juga tidak tahu apa yang terjadi. Tahukah kau taman itu begitu indah?” Si Jubah Putih malah kembali melempar pertanyaan pada si Jubah Hitam.


            “Hey…! Bukankah hal itu sudah kau ceritakan berulang-ulang dari tadi!” Geram makhluk sebelah kiriku.


            “Ya, aku tau… hanya saja aku tak dapat menemukan kata-kata yang tepat untuk menjelaskannya. Yang pasti, tempat itu begitu indah. Tanahnya seperti gurun di padang pasir, tetapi bunga-bunga tumbuh bersuburan diatasnya. Cuacanya terang, namun tidak panas, malah sejuk yang diiringi hembusan angin yang sepoi-sepoi. Taman itu terletak dipinggir hutan. Hutan yang begitu hijau, dengan pohon yang besar-besar menjulang tinggi seakan-akan hendak mencakar cakrawala. Tapi aku tak tahu, apa disana ada cakrawala?”


            “Segitu saja, ceritamu?” Sungut si Jubah Hitam.


            “Tidak. Aku terus mengapung, melayang-layang entah kemana. Kemudian kujumpai satu perkampungan yang terletak diatas tebing. Aku hanya menengadah menatap bangunan disana tanpa bisa mencapai tempatnya. Bangunan itu seperti komplek perumahan. Bangunan yang begitu megah, terbuat dari emas murni berkilau dan berbentuk seperti mesjid Nabawi. Subhanallah…


            “Apa yang terjadi!” Gerutu makhluk sebelah kiriku tak percaya.


            “Aku mendengar suara nenekku tengah melantunkan ayat suci Al-Qur’an dengan begitu indahnya.”


            “Nenekmu? Dari mana kau tahu itu suara nenekmu!” Si Jubah Hitam menyeringai sinis. Entah mengapa, lama-lama aku jadi kesal juga mendengar ocehan si Hitam dekil dan abu yang berada disebelah kiriku ini. Andai aku mampu, akan aku lempar dia ke neraka! Biar tau rasa dia!


            “Ya, aku tahu itu beliau. Bahkan beliau sempat bercakap-cakap denganku.”


            “Apa katanya?”


            “Ia belum bisa tenang. Tanteku, anak bungsunya yang paling kecil selalu saja ditindas mereka.”


            “Mereka?”


            “Iya. Mak Tuo-ku[1] dan adik ibuku yang satunya lagi. Mereka memperlakukan tanteku yang paling kecil dengan kejam…”


            “Hahaha… Nah, itu dia temanku! Kerja yang bagus, Mak Tuo!” Makhluk sebelah kiriku kembali terkekeh parau sambil bertepuk-tepuk tangan.


            “Ya, aku juga merasa mereka merupakan salah satu temanmu juga.” Sahut Si Jubah Putih.


            “Lalu, apa yang terjadi?” Si Jubah Hitam menggosok-gosok hidungnya dengan jari tengah dan telunjuknya. Hmm… “Penasaran juga ya ternyata kamu?” Batinku.


            “Aku melayang menjauh. Tak dapat lagi mendengar suara nenekku dengan jelas. Sepertinya ada yang mengontrol diriku… seketika aku berpusing dengan begitu cepatnya, menuju pada satu pusaran. Kupejamkan mataku karena rasa mual yang mulai mendera. Dan tiba-tiba saja aku merasakan diriku jatuh terhempas, kembali pada tubuhku. Aku tersentak, dan langsung terduduk setelahnya.”


            “Cerita bohong!”


            “Tidak, aku tidak mengabarkan berita bohong seperti dirimu!” Sanggah si Jubah Putih.


            “Dusta!” Makhluk sebelah kiriku tersenyum dingin.


            “Tidak… aku sudah menanyakan perihal yang menimpa diriku itu.”


            “Bertanya pada siapa? Kakek tua penunggu Surau[2] itu?” Ejek makhluk sebelah kiriku menyeringai.


            “Kakek tua itu, ia seorang Kyai.”


            “Apa penjelasan bualannya?” Si Jubah Hitam masih saja terus-terusan mendesak makhluk disebelah kananku. Bernafsu sekali ingin menjatuhkan si Jubah Putih.


            “ Semua itu benar…”


            “Bahwa kau ke Surga?”


            “Ya, benar!”


            “Benar? HAHAHA… Pembual!” Si Jubah Hitam tertawa terbahak-bahak yang membahana keseluruh ruangan. Aku takut mereka akan terbangun oleh suara si Dekil bau ini!



            “Tapi beliau seorang ahli ibadah.” Sanggah si Jubah Putih.


            “Bodoh! Kakek tua juga manusia, kan? Coba tanyakan, apa ia pernah mati dan pergi ke Surga?”


            “…….. ….. ………” Si Jubah Putih terdiam sesaat, ia menatap tajam ke arah makhluk bau itu!


            “Hey! Mengapa diam!” Sentaknya kasar.


            “Kau tak percaya pada ceritaku, kan?” Desah makhluk sebelah kananku.


            “Tentu saja tidak!”


            “Baiklah… hanya ada satu yang tak bisa bohong selain, Dia…


            “Siapa?”


            “Nurani.”

            “Maka, tanyalah pada  Sang Nurani!” Serentak mereka berdiri dan menoleh kearahku. Aku terkesiap dan tergugu! Heeeiii…! This is so unfair!!! Mengapa tiba-tiba saja mereka mengikut-sertakan aku dalam argumen mereka? Ahh, sepertinya aku lebih senang diwaktu menjadi pendengar!


            “Bukan kau! Tetapi dia yang ada dalam dirimu.” Mereka menunjuk tepat ketengah-tengah dadaku. Akupun melongo, dan akhirnya menunduk. Memperhatikan arah telunjuk mereka didadaku. Terlihat mahkluk yang tadinya duduk disebelah kananku tengah berkonsentrasi menatap diriku. Akupun bertambah bingung. Namun sepertinya aku bisa mendengar suara-suara yang melintasi alam bawah sadarku, suara-suara yang hanya bisa didengar olehku dan si Jubah Putih. Kemudian si Jubah Putih mengangguk dan tersenyum menatapku.


            “Hey! Mengapa tersenyum! Apa katanya!” Tiba-tiba saja si Hitam busuk itu berteriak. Aku hanya terpekur menatap lantai.


            “Hey! Jawab!” Teriaknya lagi.


            “Diam!” Bentakku dengan tiba-tiba kearah makhluk bau itu. Hey…! Dari manakah keberanian itu muncul…??? Rasanya ada segumpal amarah yang hendak meledak dari dalam hati!


            “Si Nurani itu bilang apa, huh!” Dengusnya marah.


            “Apa kau benar-benar ingin tahu!” Aku mendelik marah dan menatap tajam si Jubah Hitam.


            “Ya!’


            “La hawlawalaquata illabillahil‘aliul adziiim…” Desisku pelan.


“ARRRGHHHH…!!!”


BLASSSTTT!!! Serta merta mahkluk yang berada disebelah kiriku pun meletup  menghilang dalam sebentuk asap yang mengepul. Kemudian lenyap begitu saja.


            “Berwudhuklah, puji dan panjatkanlah do’a pada Allah Yang Maha Kuasa… dengarkanlah kata hati nuranimu, Nak.” Makhluk sebelah kananku menasehatiku. Aku mengangguk pelan, lalu beranjak meninggalkannya berniat mengambil wudhuk.


*************************

           
Lama aku duduk termenung memikirkan pengalaman spiritual yang telah menimpaku beberapa tahun silam. Sampai sekarang kejadian itu masih saja terpikirkan, seakan-akan baru terjadi kemarin malam. Duduk bersimpuh diatas sajadah, menyerah diri kepada Allah S.W.T. Menangis, berdzikir dan memanjatkan do’a.


Ya Rabb, ya Illahi… adakah tempat di surga bagi sesorang pendosa sepertiku…?



(Padang, Oct 17, 2002―Present)


[1] Mak Tuo:    Panggilan terhadap kakak tertua dari Ibu dalam silsilah Minang.
[2] Surau      :   Semacam musholla dengan ukuran yang lebih kecil. Biasanya terdapat dipelosok desa.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar