“The Fairies’ Tale In The Dark Town” (Part. 3)



“The Fairies’ Tale In The Dark Town”
 (Part. 3)

By: Naomi

KHALISA 1

“GOODBYE BATAVIA CITY…!”

Last February 2010. Diketinggian 3000 kaki dari permukaan laut, diatas awan didalam burung besi, Tokyo’s destination.



Pesawat terbang itu melaju tenang di atas sana, sesekali terlihat berguncang akibat getaran udara yang ditimbulkan. Cuaca sangat tak menentu, sedang tak bersahabat. Seorang perempuan muda cantik berwajah campuran— Jepang-Canada-Indonesia—tengah duduk termangu disalah satu kursi penumpang dipesawat tersebut, matanya memandang nanar jauh keluar jendela. Wajahnya yang cantik terlihat murung dan sendu, seraut kesedihan yang teramat sangat tampak membias disana. Sesekali terdengar helaan nafas berat, memancing tanda tanya penumpang lain yang duduk bersebelahan dengannya.


“Are you okay, sweetheart? Why do you look so sad? Apakah ada yang mengganggu pikiranmu, Nak?” Ujar seorang laki-laki paro baya yang masih terlihat sangat tampan dan gagah, ia terlihat risau menatap wajah perempuan muda yang ada disebelahnya.

“I’m okay, Papa. It just… Ahh, nothing Papa… Just a little bit tired.” Jawabnya tersenyum, mencoba menyembunyikan kegundahan hatinya.

Ahh, baiklah kalau begitu. Why don’t you try to sleep, Khalisa?” Laki-laki itu tampak khawatir terhadap putri sulungnya, putri yang sangat dia cintai.

“Yes, Papa. I’ll try…”  Khalisa tersenyum manis demi mengusir rasa khawatir yang terpancar dari sorot mata tajam milik Ayahnya. Laki-laki tampan itu hanya tersenyum sambil membelai rambut Khalisa, lalu merebahkan punggungnya pada sandaran kursi pesawat yang telah dimiringkannya terlebih dahulu. Diam-diam Khalisa memperhatikan raut wajah Ayahnya dengan seksama. Ayahnya terlihat jauh lebih kurus dari yang terakhir mereka bertemu, sekitar 6 bulan yang lalu.

“Ahh, Papa… Andai saja aku bisa meringankan bebanmu…” Batinnya berbisik lirih. Hati Khalisa semakin terenyuh melihat guratan demi guratan diwajah ayahnya yang makin tirus dan letih akibat tempaan kerasnya kehidupan.

Sedari dulu Khalisa memang terlihat sangat akrab dan dekat dengan Sang Ayah. Ayahnya adalah sosok figur yang sangat dia banggakan; seorang laki-laki pekerja keras, cinta keluarga, penyayang, bertanggung jawab dan cerdas. Dia sungguh sangat menyayangi dan mencintai ayahnya meski tak jarang mereka juga sering terlihat cekcok dan terlibat perbedaan pendapat, namun Khalisa sangat menghargai beliau. Maklum, karena wataknya yang sama persis dengan watak ayahnya yang menurun terhadap dirinya.

Ahh, Papa… Wish I could make you happy, Papa… Wish I could make all of your dreams and your whises come true, maafkan aku Papa. But Papa, masih ada Keiko yang akan bisa mewujudkan semua mimpi-mimpimu, juga mimpi-mimpi Mama. Masih ada Adik, Papa. Dia pasti bisa bahagiakan kalian, pasti bisa!” Batin Khalisa.

Ia mencium kening ayahnya perlahan, lalu membalikkan badannya dan kembali melemparkan pandangan kearah luar jendela lagi. Ingatannya melayang mundur, teringat kembali kejadian-kejadian yang mampu membuatnya menangis sedih, terharu, senang, gembira, kesal, marah dan tertawa bahagia.

Hhh… Jakarta, ia pasti akan sangat merindukan kota itu. Kota yang menyimpan sejuta kenangan; merindukan kehidupannya yang hampir dihabiskannya selama tujuh tahun, merasakan pahit-manisnya kehidupan di negeri orang. Merindukan sahabat-sahabat yang selalu ada untuknya, sahabat terbaik yang pernah ia miliki dan bisa membuatnya tersenyum serta tertawa bahagia. Ada setumpuk kenangan tentang mereka semua. Bersama mereka, Khalisa merasa hidupnya kembali berarti dan berwarna lagi, tanpa memandang siapa dia dan dan strata kehidupannya.

“Kalian sahabat-sahabatku yang gila, sahabat-sahabat terbaikku. Berharap kalian tak pernah melupakan aku, dan persahabatan yang pernah dan akan selalu terjalin diantara kita…” bisik Khalisa lirih dan perih. Seraut senyum getir menghiasi bibir tipisnya yang indah seiring dengan mengalirnya sebutir airmata yang jatuh dari pelupuk matanya. Tak lama kemudian rasa kantuk pun menyerangnya hingga ia jatuh tertidur.

***********************************




Jakarta, February 2010. Sehari sebelum keberangkatan,

“Aku senang akhirnya malam ini kita semua bisa berkumpul bersama-sama lagi, bertepatan dengan selamatan atas hasil ujian Nina yang bagus!” Ujar Khalisa sumringah memecah obrolan dimalam itu.

“Mungkin ini juga malam terakhir kita bisa berkumpul bersama-sama lagi, khususnya untukku. Mengingat besok lusa aku harus segera terbang kembali lagi ke Jepang, ke negara asalku. Masa kerjaku telah berakhir disini.” Lanjutnya sembari menyunggingkan seulas senyum tulus. Namun dibalik senyuman manisnya, hatinya menangis pedih. Segumpal manik-manik berkilauan tergenang dipelupuk matanya yang sipit, sebisa mungkin ditahannya agar manik itu tak luruh bertumpahan menganak sungai dipipinya yang putih bersih dan halus.

Hidup itu gambling, dan hidup itu pilihan, pikirnya. Ingin rasanya ia tetap tinggal di Indonesia bersama para sahabat-sahabatnya, akan tetapi intuisi kerinduannya terhadap negeri Sakura selalu saja memanggil-manggilnya pulang. Ia teringat akan ayah dan Ibunya yang hanya tinggal berdua. Sementara adik satu-satunya berada sangat jauh dari mereka, tengah mengurus perusahan ayahnya yang berada di negeri Paman Sam.

“Sungguh aku senang berada diantara kalian; Bintang, Nayla, Bowo, Dava, Renno, Ahmed, Nina, Deden, Haryo, Rizky, Amel dan yang lainnya. Aku benar-benar menikmati saat-saatku berada ditengah-tengah kalian.” Khalisa menatap sahabatnya satu persatu.

“Kalian telah mengajarkanku arti dari sebuah persahabatan yang tulus. Kalian juga telah menebarkan virus kegilaan pada otakku, yang membuatku tertawa terpingkal-pingkal setiap kali kita melakukan kegilaan-kegilaan itu. Hey Amel, jangan cemberut gitu dong! Kamu terlihat makin jelek seperti itu.” Ledek Khalisa berusaha memecah kesedihan dan kebekuan yang ada. Amel pun hanya tersenyum simpul, pura-pura asyik dengan handphone-nya.

Yeaaah… Benar, kalian telah membuat hidupku jadi lebih gila dari pada yang pernah aku bayangkan. Asal kalian tau ya, tadinya aku itu orang yang paling waras diantara kalian. Mengutip iklannya Star Mild, nih; kalian telah membuat hidupku jauh lebih hidup!”

“Waras…? Justru kamu yang lebih gila, Khalisa.” Seloroh Amel sambil menimpuk kepala Khalisa dengan tissue bekas ingusnya.

Iiih… Jorok banget sih kamu, Mel!” Khalisa melemparkan kembali tissue bekasnya Amel. Sementara Nayla yang melihat kejadian itu hanya bisa tersenyum dan ikutan mencibir kearah Amel disela-sela kesedihannya.

“Eh, kalian semua pada ingat tidak saat kita semua ngamen dari tenda ke tenda? Hahahaha… Benar-benar pengalaman yang paling ekstrim bagiku saat itu. Fhiuh… Andai saja Papa tau, habis deh aku!” Khalisa membuat gerakan isyarat horisontal dileher menggunakan jemari lentiknya, seakan-akan hendak memenggal lehernya yang putih dan jenjang.

“Dan saat-saat itu, sangat terasa sekali bagiku tentang arti sebuah saudara dan keluarga. Memang disini aku sama sekali tidak memiliki kerabat, tapi bagiku kalianlah keluargaku…” Seketika raut wajah Khalisa berubah sendu, ia terlihat dengan susah payah berusaha membendung airmata yang ada disudut matanya. Namun akhirnya pertahanan itu kandas juga, segulir airmata bening luruh disudut matanya. Nina yang saat itu duduk diam disampingnya Khalisa kedapatan tengah menyeka airmata yang mengalir dipipinya. Penuh rasa sayang Khalisa merangkul pundak Nina dan membelai rambutnya.

“Jangan menangis, Adek… Jangan bersedih… Kamu harus kuat dan belajar dengan sungguh-sungguh ya, Dek…” Bisik Khalisa. Nina yang tak kuasa menahan sedih hanya mengangguk-anggukan kepalanya dan langsung menghambur dalam pelukannya Khalisa. Isak tangis pun terdengar dari bibirnya. Khalisa balas memeluk Nina dan berusaha menenangkannya.

“Kak… Tak bisakah kakak mengajukan permohonan untuk menjadi WNI? Apakah visanya kakak nggak bisa diperpanjang, kak…???” Nayla memelas. Bintang yang tau Nayla tengah bersedih segera merangkul pundaknya.

“Sudah Adik, tapi prosedur sekarang susah dan diperketat. Aku juga ingin tinggal di Jakarta…”

“Sudah-sudah… Jangan bersedih… Yang penting apapun itu, kita masih tetap bersama-sama, kok.” Timpal Renno.

“Iya, juga masih bisa komunikasi kok… Zaman udah canggih sekarang, yang penting mari kita semua berdo’a, agar Khalisa sehat wal’afiat dan selamat sampai disananya nanti. Dan begitu juga dengan kita disini. Iya nggak, Khalisa?” Sambung Dava, Khalisa mengangguk.

 “Nah, sekarang ayo kita do’a selamatan untuk semuanya.” Bowo berusaha menengahi suasana yang dirundung sedih itu. Tak seorang pun yang mau membuka suaranya, mereka larut dalam kesedihan masing-masing. Akhirnya Bowo berinisiatif mengambil alih pembicaraan dan mulai memimpin do’a bersama.

“Ya Allah… Semoga semuanya baik-baik saja…” batin Khalisa sedih sembari melirik wajah-wajah sahabatnya satu persatu.

“Aku menyayangi kalian semua…”

***********************************

 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar